
Dennis pun berpikir sejenak. Ia mulai menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan Nisa. Kemudian mulai menjelaskan semuanya kepada Nisa. Gadis itu mendengarkan dengan seksama cerita Dennis.
"Hmm.. ada satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, Nis." Ucap Dennis.
"Apa itu, Mas?" tanya Nisa.
"A.. Aku sebelumnya meminta maaf karena selama kamu menganggap aku sebagai suami kamu, Aku sudah.. " Dennis menghentikan perkataannya dan mulai menatap Nisa.
"Sudah apa, Mas? Katakan saja, Mas." Tanya Nisa.
"Maafkan aku, tapi aku sudah merenggut bagian terpenting dalam hidupmu. Tapi aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku. Dan aku sebenarnya sudah mempersiapkan pernikahan resmi kita." Jawab Dennis cemas.
Pria itu takut akan jawaban apa yang akan diberikan Nisa. Tetapi di sisi lain ia hanya bisa pasrah apapun resikonya. Suasana pun menjadi hening. Nisa terdiam setelah mendengar pengakuan Dennis. Seolah separuh dunianya telah runtuh.
Dennis pun berinisiatif untuk berlutut didepan Nisa dan memegang kedua tangan gadis itu kemudian berkata,
"Maukah kamu menikah denganku, Nisa?"
Nisa pun terkejut dengan perlakuan Dennis.
"Mas Dennis, tolong jangan seperti ini. Kembalilah duduk disini, Mas." Ucap Nisa seraya mengarahkan pandangannya ke kursi disampingnya.
"Tidak, Nis. Kumohon menikahlah denganku dan aku ingin kamu jadi Ibu dari anak-anakku." Ucap Dennis.
Nisa berpikir sejenak. Ia teringat akan seseorang yang selama ini mengisi hatinya. Akankah dia melepas Om majikan yang kini telah singgah di hatinya? Tetapi Pria tulus didepannya kini juga telah merenggut mahkotanya.
Sekilas bayangan Rima melintas dipikirannya. Kekejaman seorang Rima yang tega menyakiti dirinya siang tadi menimbulkan sedikit trauma.
"Hmm.. I.. iya, Mas. Aku mau." Balas Nisa gugup.
Dennis pun terkejut mendengar jawaban Nisa.
"Kamu serius?" tanya Dennis memastikan.
Nisa pun mengangguk.
__ADS_1
"Yeayy.. Terima kasih, Nis." Ucap Dennis kegirangan.
Rasanya ia tak dapat menahan kebahagiaan ini dan ingin meluapkannya tetapi ia sadar kalo saat ini bukan tempat yang tepat.
"Tapi.. " Ucap Nisa terhenti.
"Tapi apa, Nis?" tanya Dennis seraya kembali duduk disamping Nisa.
"Tapi bisakah pernikahan ini dilakukan saat kondisi Om Herman sudah sembuh betul?" tanya Nisa.
"Aku akan menuruti permintaanmu." Jawab Dennis bahagia.
"To.. tolong jangan beritahu siapa pun ya Mas, sampai keadaan mulai membaik." Pinta Nisa.
Dennis pun mengangguk dengan senyum. Sementara dibalik pintu seorang pria mengepalkan salah satu tangannya mencoba menahan emosinya. Ya, sedari tadi Herman mendengarkan perbincangan antara Dennis dan Nisa.
*
Setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit, kini Herman sudah bisa kembali ke rumah. Dokter telah memberikan beberapa obat untuk pemulihannya. Dengan telaten Nisa merawat Herman seperti saat Herman masih duduk di kursi roda.
Meski Dennis melarang, tetapi Nisa memaksa untuk melakukannya. Entah mengapa Nisa merasa senang bila ada sesuatu yang bisa dikerjakan ketimbang berdiam diri di kamar.
Siang ini seperti biasa Nisa pergi ke kamar Herman untuk memastikan majikannya meminum obatnya. Setelah mengetuk pintu kamar Herman, perlahan Nisa membuka pintu dan masuk kedalam kamar. Ternyata sudah ada Rima dan Herman yang tengah mengobrol di sofa kamar itu.
"Permisi, Maaf aku sudah mengganggu. Tapi ini waktunya Om Herman minum obat." Ucap Nisa dan berjalan mendekat kearah meja disamping ranjang Herman.
"Nah, aku rasa perbincangan kita sudah selesai. Jadi silahkan Nona Rima keluar dari kamar saya." Ucap Herman dan bangkit dari duduknya.
Rima pun ikut bangkit dan memegang lengan Herman.
"Tunggu. Kamu enggak bisa mutusin sepihak dong. Aku enggak setuju dengan pembatalan pernikahan kita." Ucap Rima dengan nada tinggi.
"Aku sudah bilang kalo aku tidak tertarik dengan pernikahan ini. Untuk apa melanjutkan hubungan dengan seseorang yang dia tidak memiliki perasaan kepadamu. Itu akan menyakitkan satu sama lain." Ucap Herman dingin.
Deg.. Mendengar ucapan Herman, Nisa terkejut. Bayangan Dennis saat melamarnya di Rumah Sakit melintas bagaikan sebuah film yang sedang tayang.
__ADS_1
"Aku yakin kamu pasti menemukan Pria yang tulus mencintamu. Aku sudah menemukan perempuan yang aku cintai." Ucap Herman dan melepas pegangan Rima lalu beranjak menghampiri Nisa.
Cup.. sebuah ciuman hangat mendarat dibibir Nisa. Nisa yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya terkejut dan matanya membulat dengan apa yang telah Herman lakukan.
Rima yang melihat hal itu terbakar emosi dan bergegas meninggalkan kamar Herman tanpa pamit. Setelah dilirik Rima telah pergi, kini Herman dan Nisa saling pandang masih dengan posisi sama.
Herman pun melepaskan ciumannya dan memandang Nisa dari jarak dekat seraya mengelus pipi kanan Nisa.
"Biarkan aku yang memilikimu." Ucap Herman lirih dan kembali mencoba mencium Nisa.
Plak..!!
Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi Herman yang kini mulai memerah.
"Tolong jangan lakukan seperti itu lagi, Om." Ucap Nisa dengan nada tinggi.
"Kenapa? Apa karena kamu calon istri adikku?" tanya Herman dingin.
Nisa pun mengangguk lemah.
"Aku yakin hatimu masih untuk aku. Kenapa kamu menikah dengannya? Jangan memaksakan hubungan yang sebenarnya kamu tidak bahagia." Ucap Herman.
"Om salah. Aku menyukai Mas Dennis dan kami akan hidup bahagia." Sahut Nisa.
"Oh benarkah? Benarkah kamu menyukai adikku?" tanya Herman seraya berjalan mendekat kearah Nisa.
Sementara Nisa berjalan mundur hingga tubuhnya menempel di tembok.
"Coba tatap mataku dan katakan kalo kamu menyukai Dennis." Ucap Herman yang mulai tersulut emosi seraya mencengram kedua pipi Nisa.
Nisa hanya bisa menatap Herman sendu selama beberapa saat kemudian berkata,
"Aku menyukai Mas Dennis." Ucapnya lirih.
**
__ADS_1
Terima kasih ❤