
Herman pun melihat jam ditangannya, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Pandangannya kini beralih ke jendela kamar dan mengintip keluar jendela.
"Kenapa mereka belum kembali? Haiss.. Berhenti memikirkan Nisa, sebentar lagi dia akan jadi adik iparmu, Herman." gumam Herman lirih.
Tak lama sebuah mobil Sedan berwarna merah memasuki halaman rumah. Pandangan Herman kembali teralih keluar jendela dan menatap sepasang kekasih keluar dari mobil dengan senyum bahagia. Melihat hal itu Herman mencoba tersenyum tipis dan kembali menutup tirai jendelanya.
Herman beranjak menuju ranjangnya dan membanting tubuhnya ke ranjangnya. Pria itu mencoba menutup kedua matanya hingga ia benar-benar bisa mengistirahatkan tubuhnya.
*
"Makasih ya, Mas." Ucap Nisa sesampainya di depan pintu kamarnya.
Dennis membalasnya dengan senyum.
"Sepertinya Mama dan Mas Herman sudah tidur." Ucap Dennis seraya melihat sekelilingnya.
Nisa pun mengangguk.
"Yasudah sebaiknya kamu segera masuk kamar dan tidur ya. Besok kita harus ke Surabaya kan." Ucap Dennis.
Nisa pun mengangguk dengan senyum dan mengikuti perintah Dennis. Setelah memastikan Nisa masuk kedalam kamarnya, Dennis pun beranjak menuju kamarnya dengan beberapa paperbag yang dibawanya.
**
Keesokan paginya Nisa terbangun dan bergegas melakukan aktivitas rutin di pagi hari. Setelah siap, Nisa pun beranjak keluar kamar. Saat menutup pintu kamar, Nisa mendengar sayup-sayup suara orang menjerit. Nisa mencoba mempertajam pendengarannya.
Dan benar saja, suara itu terdengar dari kamar Herman. Bergegas Nisa menuju kamar Herman.
Tok.. tok.. tok.. Nisa mencoba mengetuk pintu kamar Herman beberapa kali namun sayangnya tak ada jawaban.
Nisa pun khawatir dengan keadaan Herman. Ia berpikir untuk meminta tolong Dennis tetapi ini masih terlalu pagi untuk membangunkan Dennis. Akhirnya Nisa memegang handel pintu kamar Herman, mencoba untuk membukanya dan ternyata kamarnya tidak dikunci.
Nisa pun memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam kamar Herman. Di dalam kamar Herman, Nisa melihat Herman tengah mengigau dalam mimpinya. Bergegas Nisa menghampiri Herman dan membangunkan Pria itu dari mimpi buruknya. Nisa pun mulai duduk di tepi ranjang Herman.
"Om.. Om, bangun. Kumohon bangunlah." Ucap Nisa seraya menepuk pelan pipi Herman.
"To.. long.. Jangan pergi, To.. long.." racau Herman.
__ADS_1
Nisa mencoba kembali dengan menggoyangkan bahu Herman. Dan akhirnya pria itu bangun dan langsung memeluk Nisa.
"Nis, syukurlah kamu baik-baik saja." Ucap Herman lirih.
Nisa yang terkejut karena pelukan tiba-tiba Herman hanya bisa terdiam tak membalas.
"Tolong jangan pergi lagi ya, Nis." tambah Herman.
Secara refleks Nisa melepaskan pelukan Herman dan membuat pria itu terkejut.
"Maaf Om, sebentar lagi kita akan jadi saudara ipar. Tolong jaga sikap, Om." Ucap Nisa dan beranjak meninggalkan Herman.
Mendengar hal itu Herman terdiam seraya menatap kepergian Nisa. Seketika wajahnya berubah menjadi sendu.
**
"Ma, setelah ini aku dan Nisa akan berangkat ke Surabaya." Ucap Dennis seraya memasukkan sesendok penuh nasi ke mulutnya.
"Kok ndadak, Nak?" tanya Yuyun.
"Baik kalo gitu Mama ijinin kalian." Balas Yuyun.
"Nis, Kamu kenapa? Apa makanannya enggak enak?" tanya Yuyun yang sedari tadi melirik Nisa.
"E..eh enggak kok, Bu. Makanannya enak." Jawab Nisa menoleh kearah Yuyun.
"Apa kamu sakit?" tanya Dennis seraya meletakkan tangannya ke dahi Nisa untuk mengecek suhu tubuh Nisa.
"Aku enggak kenapa-kenapa kok, Mas." Jawab Nisa seraya meraih tangan Dennis dan mengisyaratkan kalo dirinya baik-baik saja.
"Baiklah kalo begitu. Cepat habiskan sarapannya ya.." Ucap Dennis.
Nisa pun mengangguk dengan senyum.
**
Suasana perjalanan menuju Surabaya begitu sunyi. Seperti biasa Nisa hanya melihat keluar jendela dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Nis, apa kamu sudah menghubungi orang tua kamu kalo kita mau kesana?" tanya Dennis mencairkan suasana.
"Sudah, Mas." Jawab Nisa tanpa menoleh.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Dennis heran.
"Semua baik-baik saja, Mas." Jawab Nisa.
Dennis pun menghela napas panjang dan kembali fokus pada kemudinya.
Tak lama mobil Dennis berhenti diparkiran Bandara. Perjalanan akan dilanjut dengan jalur udara untuk mempersingkat waktu. Nisa dan Dennis turun bersamaan. Mereka berjalan memasuki gedung bandara. Dennis menarik sebuah tas koper kecil sementara Nisa membawa sebuah tas ransel yang sudah terpasang di punggungnya.
Saat akan naik ke pesawat, Nisa meraih salah satu tangan Dennis dan menggenggamnya erat kedua tangannya. Dennis pun menoleh seakan mengetahui ketakutan Nisa.
"Enggak apa-apa, kita naik bareng ya. Enggak usah takut, Aku enggak akan ninggalin kamu kok." Ucap Dennis seraya menepuk tangan Nisa perlahan untuk menenangkan gadis itu.
"Perasaanku enggak enak, Mas." Ucap Nisa lirih.
"Kita berdoa aja. Bisa jadi karena ini pertama kalinya kamu naik pesawat." Balas Dennis.
"Ayok, kita harus bergegas karena sebentar lagi pesawatnya akan berangkat." Tambah Dennis dan menuntun tangan Nisa perlahan.
Nisa pun berjalan mengikuti langkah Dennis dan naik kedalam pesawat. Setelah duduk di bangkunya, Nisa tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Hatinya benar-benar gelisah setelah masuk kedalam pesawat.
"Kalo kamu masih takut, coba saja untuk tidur. Nanti kalo sudah sampai aku akan bangunkan." Ucap Dennis.
Nisa pun mengangguk dan menuruti ucapan Dennis. Dennis menggenggam tangan Nisa mencoba menenangkan gadis disampingnya.
**
Perlahan Nisa membuka kedua matanya dan menemukan dia berada di sebuah ruangan berdinding putih. Nisa juga merasakan seluruh tubuhnya sakit, ia juga menemukan balutan infus dan alat pernapasan di hidungnya.
"Apakah aku di rumah sakit?" batin Nisa.
***
Terima kasih ❤️
__ADS_1