
Ranti dan Doni (Papa Nisa) hanya bisa menghela napas panjang.
"Keputusan ada ditangan kamu, Nak." Ucap Ranti.
Setelah menimbang selama beberapa saat, Nisa pun mengangguk. Untuk menghormati permintaan terakhir calon suaminya, Nisa pun menyetujui pernikahan ini.
"Terima kasih, Nis." Ucap Yuyun seraya memeluk Nisa.
Setelahnya Nisa pun diarahkan untuk bersiap di salah satu kamar. Seorang perias sudah bersiap di kamar tersebut. Selama proses make up Nisa hanya menatap kosong cermin besar yang ada dihadapannya.
"Maafkan aku, Mas. Entah aku harus bahagia atau sedih dengan pernikahan ini. Semoga dengan kami mengabulkan permintaan terakhir kamu, kamu bahagia disana." Batin Nisa.
"Mbak, yang sabar ya, ini sudah takdir dari Tuhan. Mbak, harus bisa ikhlas menerima ini agar nanti alm. tenang disana." Tutur Mbak yang memoles ini wajah Nisa seraya mengusap air mata Nisa yang mulai jatuh.
Sementara Herman juga bersiap dengan seorang perias lain di kamar berbeda.
*
"Saya terima nikah dan kawinnya Nisa Febriyani dengan mahar perlengkapan sholat, kitab suci Al-Qur'an dan uang tunai dengan nominal tersebut dibayar tunai." Ucap Herman.
"Gimana para saksi?" tanya Bapak Penghulu.
"Sah.."
"Sah.."
__ADS_1
"Alhamdulilah, al-fatihah." Ucap Bapak Penghulu.
Kedua pengantin baru, keluarga, saudara, bapak Penghulu, para saksi dan beberapa tamu berdoa dengan khusuk.
Pernikahan yang pernah dibayangkan Herman pun akhirnya terkabul, sayangnya dalam situasi yang tidak tepat.
"Aku janji akan menjaga Nisa dan membahagiakannya, sekarang kamu bisa tenang disana." Batin Herman.
*
Malam harinya, rumah Yuyun ramai dengan acara tahlilan untuk Dennis. Semuanya berjalan dengan lancar.
"Nis, kenapa kamu masih di dapur? Ini kan sudah malam, Nak." tanya Yuyun.
"Eh ini Bu, Nisa masih cuci piring. Jadi besok tidak terlalu banyak cucian piringnya." Jawab Nisa seraya melanjutkan aktivitasnya.
Nisa pun mengangguk dengan senyum.
"Yasudah kamu istirahat saja. Biarkan saja ini besok pagi dikerjakan sama Bi Ida." Tambah Yuyun.
"Enggak apa kok, Bu. Eh maaf maksudnya, Ma. Lagian Nisa juga belum ngantuk kok." Ucap Nisa.
"Nis, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri. Enggak baik meninggalkan suami di kamar sendiri." Ucap Yuyun.
Seketika Nisa pun teringat kalo dirinya sudah menikah. Nisa pun hanya terdiam.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu kembali ke kamar. Urusan dapur bisa kita lanjut besok." Ucap Yuyun.
Dengan berat hati Nisa pun mengangguk dan menuruti ucapan Yuyun. Setelah kepergian Nisa, Yuyun pun juga beranjak menuju kamarnya.
Nisa mencoba menutup pintu kamarnya sepelan mungkin agar tidak membangunkan Herman yang sudah terlelap di kasur. Setelahnya Nisa bergegas menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Nisa pun beranjak keluar dari kamar mandi dan menghempaskan tubuhnya di sofa kamar.
"Kenapa tidur disitu?" tanya Herman membuyarkan tidur Nisa.
"A..aku ingin tidur disini." Jawab Nisa tetap dengan mata terpejam.
Herman pun beranjak menghampiri Nisa dan menggendong gadis itu untuk memindahkannya ke kasur. Nisa yang menyadari hal itu terkejut dan membulatkan matanya menangkap dengan jelas wajah tampan Herman dari dekat.
"Tidurlah disini biar aku yang tidur di sofa." Ucap Herman seraya merebahkan tubuh Nisa diranjang.
Tatapan keduanya saling bertemu dan terdiam selama beberapa detik.
"Ahh.. jangan Om, sebaiknya aku yang tidur di sofa." Ucap Nisa mencoba mencairkan suasana.
"Hei kita sudah menikah. Tolong jangan panggil aku Om lagi." Celetuk Herman.
**
Terima kasih ❤️
__ADS_1
Mohon bantu like, komen dan favoritkan karya ini ya biar author tambah semangat 💪, Terima kasih banyak ☺️