
Saat Nisa membuka kan pintu, tampak seorang kurir membawa buket bunga mawar putih segar.
"Permisi, apa betul ini rumah Ibu Nisa Febriyani?" tanya si kurir.
"Iya betul, saya sendiri." Jawab Nisa.
"Ini ada kiriman untuk Ibu." Jawab si Kurir seraya menyerahkan buket bunga mawar putih.
Nisa pun menerima buket itu.
"Dari siapa ya, Pak?" tanya Nisa heran.
"Maaf Ibu, pesan dari pengirim untuk merahasiakan namanya." Ucap si Kurir.
"Kalo begitu saya permisi." Ucap si kurir.
"Terima kasih." Ucap Nisa.
Si kurir pun mengangguk dan beranjak pergi.
(
(Gambar hanya Ilustrasi)
"Mas Herman, Diam-diam romantis juga." Gumam Nisa dan mencium aroma segar bunga itu.
Nisa menemukan sebuah surat yang bertuliskan,
(Teruntuk Wanitaku yang sudah lama singgah di hatiku. Semoga suka dengan bunga mawar ini. Entah sejak kapan aku mulai menyukaimu, tiap hari aku selalu memikirkanmu. Terima kasih sudah hadir di kehidupanku ❤)
Nisa pun tersenyum bahagia membaca surat itu. Ia bergegas menuju kamarnya untuk berterima kasih langsung kepada suaminya. Sesampainya di kamar, Herman tengah duduk di sofa seraya menatap layar laptopnya.
"Siapa Sayang, yang datang pagi-pagi?" tanya Herman seraya menoleh kearah Nisa.
"Kurir yang mengantar buket bunga." Jawab Nisa seraya berjalan menghampiri Herman dan duduk disampingnya.
"Buket bunga mawar putih? Dari siapa?" tanya Herman heran.
"Kamu kok tanya aku sih? Bukannya ini buket dari kamu?" tanya Nisa balik.
"Hah? Aku enggak mesen apa-apa kok. Memangnya kurirnya bilang siapa pengirimnya?" tanya Herman seraya meletakkan laptopnya di meja.
"Pengirimnya enggak mau disebutin. Jadi ini bukan dari kamu?" Jawab Nisa.
__ADS_1
Herman pun menggeleng.
"Sini coba aku lihat." Ucap Herman.
Nisa pun menyerahkan buket bunga itu kepada Herman. Lalu Herman mulai membaca isi surat itu dengan ekspresi serius. Dipojok surat tertera sebuah inisial Y.B
"Kamu punya teman inisialnya Y.B?" tanya Herman seraya mengerutkan keningnya.
Nisa pun menggeleng. Herman pun menghela napas panjang.
"Buang aja bunga ini. Ini pertanda tidak baik." Tutur Herman.
"Kenapa dibuang? Kan sayang bunganya cantik." Tanya Nisa.
"Nanti aku belikan yang baru ya. Tapi untuk yang ini aku mohon buang aja ya." Jawab Herman.
Nisa pun menghela napas dan dengan berat hati mengangguk. Herman pun membuang buket itu ke tempat sampah yang tak jauh darinya. Ia pun memegang tangan Nisa, seraya berkata,
"Lain kali kalo enggak jelas nama pengirimnya jangan diterima ya, paket apapun itu. Gimana kalo orang itu berniat jahat sama keluarga kita?".
"Iya, maafin aku ya karena gegabah." Ucap Nisa.
"Enggak apa-apa." Balas Herman.
Herman pun mendekatkan wajahnya kearah Nisa dan
(Maaf Author Skip adegan kali ini 😅 Biar enggak bosen adegan dewasa mulu hehe..)
...****************...
"Betul ini rumahnya?" Gumam Rima seraya menatap bangunan megah di depannya.
Rima pun bergegas turun dari mobilnya dan beranjak menuju pagar rumah megah berwarna putih.
"Apa betul ini rumah Yudha Bagaskara?" tanya Rima pada salah seorang ajudan di depan pagar.
"Betul. Apa Nona sudah buat janji?" Jawab si Ajudan.
"Belum. Tapi aku ada urusan penting dengan Bos kamu. Cepat panggilkan dia." Ucap Rima.
"Maaf Nona, Tuan saat ini masih tidak bisa diganggu." Jawab sang ajudan.
"Oke kalo kamu mau dipecat. Aku akan telepon dia sekarang." Ancam Rima.
Seorang ajudan lain seolah memberi instruksi lewat kedipan mata.
__ADS_1
"Baik, Tolong tunggu disini dulu, Nona." Ucap sang Ajudan dan beranjak masuk menemui Yudha.
Beberapa menit kemudian...
Sang Ajudan keluar dari rumah dan kembali menghampiri Rima.
"Silahkan masuk, Nona. Anda bisa mengikuti saya." Ucap sang Ajudan.
Rima pun mengikuti langkah sang ajudan memasuki rumah megah dan berhenti di dalam sebuah kamar yang tertata rapi seperti ruang kerja.
"Kamu bisa pergi." Ucap Yudha.
Sang ajudan pun mengangguk dan beranjak pergi. Kini hanya tinggal Rima dan Yudha berdua di ruangan itu.
"Ada keperluan apa Nona Rima datang kesini pagi-pagi sekali?" tanya Yudha seraya menyender di meja kerjanya dan melipat kedua tangannya.
Rima pun menyerahkan hasil test pack nya kepada Yudha. Yudha pun hanya tersenyum sinis.
"Jadi kamu meminta pertanggung jawabanku?" tanya Yudha.
"Bukankah setiap manusia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Jawab Rima ketus.
"Kenapa Nona Rima tidak meminta pertanggung jawaban Bapak Herman Maulana?" tanya Yudha.
Deg.. Seperti tersayat kembali luka dihati Rima.
"Aku mendengar nama Herman di setiap desah nafasmu. Malam itu hanya nama Herman yang kamu panggil. Bukankah kamu menikmatinya dengan Herman Maulana? Lalu kenapa meminta pertanggung jawabanku?" tambah Yudha mencoba mengacau Rima.
"Apa maksud kamu? Apa kamu lupa yang sudah kamu lakukan padaku malam itu? Jangan melibatkan orang lain!" Celoteh Rima.
Yudha pun tertawa mendengar ucapan Rima.
"Apa aku salah dengan ucapanku? Tunggu, aku punya buktinya." Ucap Yudha.
Yudha berjalan menuju sisi lain mejanya dan mengambil ponselnya. Ia menunjukkan beberapa foto dimana terlihat Rima tengah tertidur bersama dengan Herman.
Sontak Rima pun terkejut dengan foto yang ditunjukkan oleh Yudha.
"Jadi, siapa sebenarnya yang datang malam itu?" Gumam Rima lirih.
"Kamu bisa cari tahu sendiri siapa yang melakukan malam itu bersamamu. Katakan jika aku memang Ayah dari bayimu." Sahut Yudha.
...****************...
Terimakasih yaa..
__ADS_1
mohon bantu dukung Author biar lebih semangat lagi, tolong like, komen dan favoritkan yaa, makasih ❤