Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Kenyataan Sebenarnya..


__ADS_3

Setelah mengurus semua keperluan sebelum meninggalkan Rumah Sakit, kini Herman, Dennis dan Nisa sudah berada di dalam mobil. Sengaja Herman meminta Pak Nanang untuk menjemput mereka.


Suasana terasa canggung karena kini Nisa duduk diantara Dennis dan Herman. Keduanya bergantian menatap Nisa hingga membuat gadis itu canggung. Mobil terus melaju dijalanan yang mulai lengah kendaraan, tetapi tanpa sengaja Pak Nanang mengerem mendadak saat sebuah kucing berlari melintas. Akibatnya membuat badan Nisa terdorong ke kiri kearah Herman. Keduanya saling menatap satu sama lain tanpa berkedip hingga sebuah suara menyadarkan mereka berdua.


"Eheemm.. Apa kalian tidak apa-apa?" tanya Dennis.


"Ahh.. aa.. aku baik-baik saja, Sayang." Jawab Nisa gugup seraya kembali ke posisi duduknya, sementara Herman juga membenarkan posisi duduknya dan kembali menatap keluar jendela.


Tak lama akhirnya mobil berhenti di halaman depan rumah Herman. Yuyun sudah bersiap menyambut kedatangan mereka. Dennis membantu Nisa turun dari mobil dan mereka bertiga berjalan menghampiri Yuyun yang kini telah berdiri di depan pintu rumah.


"Haii, menantu sama anak-anak Mama akhirnya sudah pulang." Sapa Yuyun ramah.


"Ini Nisa ya, menantu kesayangan anak Mama. Gimana kabar kamu, Nak?" tanya Yuyun seraya memeluk Nisa.


"Sa.. saya baik, Ma." Jawab Nisa gugup.


"Alhamdulillah, yasudah ayok masuk. Bi Dina udah masak banyak, kita harus habisin ya." ucap Yuyun dan mengajak Nisa masuk ke dalam rumah.


Saat memasuki ruang tamu, Nisa merasa tak asing dengan tempat ini. Pandangan Nisa mencoba menyapu seluruh isi di ruangan ini. Perlahan beberapa memori buram berputar di otaknya.


"Akkhh.. kepalaku." Pekik Nisa menghentikan langkahnya seraya memegang kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanya Dennis dan Herman hampir bersamaan.


"Kepalaku sakit. Tolong aku." Jawab Nisa seraya memegang tangan Dennis.


Dennis pun bergegas menggendong Nisa menuju kamarnya.


"Bi, tolong bawakan air putih ke kamar saya." Ucap Dennis saat bertemu Dina di tengah jalan.


Dina hanya mengangguk dan menuruti permintaan majikannya. Sementara Herman dan Yuyun khawatir dengan kondisi Nisa, mereka hanya mengekor Dennis di belakang. Sesampainya di kamarnya, Dennis menidurkan Nisa di ranjangnya dan mulai mencari obat yang biasa diminum Nisa di dalam tasnya.


Dina datang membawakan segelas air dan menyerahkannya kepada Dennis. Dennis segera memberikan obat beserta air minum kepada Nisa. Melihat hal itu, Diam-diam Herman mengepalkan tangan kanannya mencoba menahan emosinya.


"Nis, kamu istirahat aja ya. Biar lebih enakan." Ucap Dennis.


Nisa pun mengangguk.

__ADS_1


"Apa perlu Mama panggil Dokter?" tanya Yuyun.


"Ahh tidak perlu, Ma. Nisa hanya perlu waktu untuk memulihkan memori Nisa yang hilang." Jawab Nisa.


"Hmm.. Baik kalo begitu Mama tinggal dulu ya." Pamit Yuyun dan menarik tangan Herman untuk ikut dengannya.


Sementara itu, saat Dennis akan beranjak pergi namun Nisa menahan tangan pria itu.


"Tolong, jangan pergi." Ucap Nisa lirih.


"Baiklah.Aku akan menunggu disini." Jawab Dennis dengan tersenyum.


"Sayang, sepertinya aku sangat mengenal rumah ini." Celetuk Nisa.


"Tentu, Sayang. Kamu memang pernah datang dan menginap disini." Sahut Dennis.


"Sayang, bolehkah aku tinggal di apartemen kita saja?" tanya Nisa.


"Memangnya kenapa? Apakah kamu enggak nyaman tinggal disini?" tanya Dennis balik.


"Hmm.. " Nisa berpikir sejenak, memilih kata-kata yang agar tak menyinggung Dennis.


"Hmm.. i.. itu.. Aku takut dengan Mas Herman. Dia selalu menatapku seolah akan menerkamku." Jawab Nisa.


Dennis pun tertawa mendengar jawaban Nisa.


"Sayang, jangan berpikiran macam-macam. Memang Mas Herman seperti itu orangnya, tetapi dia Kakak yang baik." Ucap Dennis seraya mengelus rambut Nisa.


Namun sebenarnya di relung hati Dennis juga memikirkan perkataan Nisa. Ia mengingat bagaimana dulu kedekatan Herman dan Nisa sewaktu Nisa masih dirinya sendiri.


"Apa Mas Herman juga menyukai Nisa ya? Apa Dia juga berniat untuk menikahi Nisa?" batin Dennis.


"Tidurlah disampingku, Aku ingin memelukmu untuk melepas rasa takutku." Pinta Nisa seraya memegang tangan Dennis.


Dennis pun berjalan menutup pintu kamarnya dan ikut tidur di samping Nisa. Gadis itu langsung memeluk Dennis seperti seorang kekasih yang lama tak bertemu hingga akhirnya Nisa pun tertidur. Setelah melihat Nisa tertidur, ia mencoba melepaskan pelukan Nisa dengan perlahan agar tak membangunkan gadis itu dan menggantinya dengan guling.


Dennis beranjak keluar kamar dan menutup pintu kamar perlahan. Kini ia menghampiri Yuyun yang tengah asyik membaca majalah edisi terbaru di ruang tamu.

__ADS_1


"Halo, Ma." Sapa Dennis dan ikut duduk di samping Yuyun.


"Halo, Sayang. Eh bagaimana apakah Nisa sudah tidur?" Balas Yuyun.


Dennis pun mengangguk. Saat akan menuju dapur, Herman melihat Dennis dan Mamanya tengah berkumpul sepertinya mereka terlibat obrolan serius. Herman pun berjalan menghampiri mereka dan duduk di seberang Dennis.


"Jadi tipu muslihat apa yang kamu lakukan saat ini?" tanya Herman dingin.


"Herman!" Tegur Yuyun.


"Mas, jangan asal menuduh. Dengarkan dahulu penjelasanku." Sahut Dennis sinis mencoba menahan emosi.


Herman pun melipat kedua tangannya dan melipat satu kakinya.


"Coba ceritakan bagaimana kejadian sebenarnya, Sayang." Pinta Yuyun.


"Waktu itu Nisa pamit kembali pulang ke Surabaya, tepat dimana Mas Herman melakukan operasi. Tetapi sebenarnya Nisa tidak pulang ke Surabaya, Dia lah yang menjadi pendonor untuk Mas Herman." Ucap Dennis.


Yuyun dan Herman pun terkejut mendengar cerita Dennis.


"Apa? Kenapa kamu enggak memberitahu kami sebelumnya." Sahut Herman dengan nada tinggi.


"Karena Nisa yang memintaku untuk merahasiakan ini dan aku sudah berjanji padanya. Tapi karena saat ini aku ingin meluruskan semua kesalahpahaman ini jadi aku akan menceritakan sejujurnya." Jawab Dennis.


"Pantas saja Dokter Ridho merahasiakan identitas pendonor itu." ucap Yuyun.


"Lalu setelah operasi selesai, Nisa koma selama 1 bulan lebih. Maka dari itu aku memilih tinggal di apartemenku agar Mama dan Mas Herman tidak curiga kalo aku bolak-balik Rumah Sakit. Bi Surti bergantian menjaga dan merawat Nisa di Rumah Sakit. Selama koma Nisa tidak menunjukkan perkembangan sama sekali hingga membuat kami prihatin, tetapi aku yakin Nisa akan sadar. Dan ternyata benar, Nisa telah sadar tetapi tidak dengan ingatannya. Kata Dokter, Nisa mengalami amnesia. Saat tersadar Nisa mengira aku suaminya. Aku pun terkejut dan ingin menjelaskan semuanya kepada Nisa tetapi Dokter memberitahu untuk mengikuti dahulu apa yang dikatakan pasien. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti alur dan menunggu kondisi Nisa sembuh, setelah itu aku berniat untuk menceritakan yang sebenarnya." Jelas Dennis.


"Ya Allah.. Maafkan aku ya, Dek. Aku sudah berpikir macam-macam padamu." Ucap Herman dan memeluk Dennis.


"Terima kasih sudah menjaga Nisa selama ini." Tambah Herman.


Dennis pun tersenyum dalam pelukan Herman. Hatinya merasa lega menceritakan semuanya. Beban yang selama ini ia pendam seperti telah hilang.


***


Semoga enggak bosen ya sama jalan ceritanya 😊

__ADS_1


Author Terima kasih sekali sudah menyempatkan mampir untuk membaca cerita ini, jangan lupa like, share dan favoritkan cerita ini ya agar tidak ketinggalan episode terbaru


Mau komen juga boleh, Terima kasih 🙏😊


__ADS_2