Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Ciuman Pertama Nisa


__ADS_3

Dennis masih termenung di kamarnya, mengingat gelagat Nisa tadi. Memang sejak pertama Nisa bekerja di rumah Herman, Yuyun sudah bercerita banyak pada Dennis termasuk mengirimkan foto kepada putra keduanya. Hal itu membuat Dennis jadi penasaran dengan sosok Nisa.


Hingga akhirnya ia mendapat ijin cuti dan tinggal di rumah Herman. Sosok Nisa kini telah memiliki tempat khusus di hati Dennis.


**


Keesokan paginya, Nisa keluar dari kamarnya dengan memakai jaket hoodie lengkap dengan masker dan kacamata hitam. Ia berjalan mengendap-ngendap kearah dapur.


"Siapa kamu?" tanya Dennis sontak membuat Nisa menoleh kearahnya.


Nisa pun seketika mendekat kearah Dennis dan meletakkan jari telunjuk kanannya ke bibir Dennis. Sementara tangan kirinya menurunkan kacamata yang ia kenakan.


"Mas Dennis, ini aku Nisa. Ssttt.. tolong jangan berisik." Jawab Nisa lirih seraya melepas telunjuknya dari bibir Dennis.


"Ngapain kamu pakai atribut gini? Mau nyamar jadi detektif?" tanya Dennis.


"Mas Dennis, tolong jangan berisik nanti.."


Belum sempat Nisa melanjutkan perkataannya, Tiba-tiba Herman datang dan menyela.


"Nanti apa? Kamu ngapain lagi pakai ginian? Apa sakitnya menular sampai berpakaian seperti ini?" tanya Herman khawatir.


"Ehh.. Om sudah bangun. Enggak menular kok Om, ini cuma Nisa kedinginan aja. Hawanya dingin, iya kan Mas Dennis." Jawab Nisa seraya menyenggol lengan Dennis.


"Hah? kamu lagi sakit, Nis? Panas kah? atau bagian mana yang sakit?" tanya Dennis khawatir seraya meletakkan tangan kanannya ke kening Nisa untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Aduh Mas Dennis, enggak bisa diajak kerjasama. Padahal aku kan cuma pura-pura sakit." Batin Nisa.


"Aku sudah baikan kok, Mas Dennis." Jawab Nisa seraya memegang tangan Dennis untuk menjauhkan dari keningnya.


Herman hanya menatap tajam kearah Dennis dan Nisa yang sibuk sendiri.


"Ehem.. Nisa, saya mau mandi. Siapkan semuanya, saya tunggu dikamar." Ucap Herman dan berlalu dengan kursi roda nya kearah kamar.


Nisa yang sibuk dengan Dennis pun langsung menuruti ucapan Herman dan berlalu meninggalkan Dennis. Dennis pun hanya menatap kepergian Nissa hingga menghilang dibalik pintu. Pemuda itu hanya dapat menghela napas dan kembali menuju kamarnya.


Sementara di kamar, Nisa sibuk menyiapkan baju ganti untuk Herman.


"Nisa, tolong antarkan baju ganti saya kesini." Teriak Herman dari kamar mandi.

__ADS_1


Seketika Nisa membulatkan matanya. Dengan gugup Nisa berjalan kearah kamar mandi dengan membawa baju ganti untuk Herman. Sesampainya di depan pintu kamar mandi, gadis itu ragu mau masuk kedalam, akhirnya dia hanya berani mengetuk pintu kamar mandi saja.


"Masuk saja Nisa, aku kesulitan mau kesana." Teriak Herman dari dalam kamar mandi.


Seketika pikiran Nisa melayang kemana-mana.


"Aduh.. Gimana sih Om ini, apa enggak malu sama aku." batin Nisa.


Perlahan Nisa membuka pintu kamar mandi dengan memejamkan matanya. Tangan kanannya membawa baju ganti, sementara tangan kirinya meraba sekeliling sebagai penuntun. Herman berdiri dengan berpegangan pada tembok kamar mandi dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya tersenyum melihat tingkah perawatnya. Karena gemas dengan tingkah perawatnya, Herman pun menarik tangan kiri Nisa, membuat gadis itu terkejut hingga baju yang ia bawa jatuh ke lantai dan kini tubuhnya jatuh ke pelukan Herman.


Nisa yang terkejut hanya menatap dapat menatap Herman. Keduanya saling menatap satu sama lain. Entah hantu darimana, Herman memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya kearah Nisa hingga kini kedua bibir mereka saling menyatu. Herman menikmati ciuman itu sambil memejamkan matanya, begitupun dengan Nisa. Entah berapa lama ciuman berlangsung dan Herman pun melepaskan ciuman itu dan berkata,


"Cepat antarkan bajuku!"


Seketika Nisa tersadar dari hayalannya. Ternyata gadis itu masih di depan pintu kamar mandi. Gadis itu pun akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar mandi.


"Maaf Om, bajunya Nisa letakkan di meja dekat pintu kamar mandi ya." Ucap Nisa dengan volumenya setengah berteriak dan meletakkan baju ganti Herman di meja dekat pintu kamar mandi, setelah itu ia bergegas kembali duduk di sofa kamar Herman.


"Aduh Nisa, apa yang kamu pikirkan tadi? Dasar Bocah mesum." Batin Nisa seraya menepuk keningnya beberapa kali.


Herman yang tak tahu sejak kapan sudah berdiri di depan kamar mandi hanya menatap Nisa bingung.


Seketika Nisa bangkit dan berkata,


"Eh enggak Om, cuma tadi kebentur pintu kamar mandi jadi aku elus-elus hehe.. " Jawab Nisa berbohong.


"Oh gitu.. Tolong ambilkan kemeja ganti lagi, karena tadi kaosnya jatuh dan basah." Ucap Herman.


Nisa baru menyadari kalo saat ini Herman berdiri dengan tongkat dan hanya mengenakan celana pendek dengan balutan kaos dalam. Sesaat Nisa tertegun dengan lekuk tubuh Herman, namun ia segera tersadar dan menuruti perintah Herman. Nisa pun menyerahkan kemeja itu kepada Herman.


"Menurut kamu apakah aku bisa berpegangan pada tongkat sambil pakai baju?" Sindir Herman.


Seketika Nisa paham dan mulai mendekat kearah Herman dan membantu Herman memakai kemejanya. Kini jarak keduanya sangat dekat, membuat Nisa dapat mencium aroma parfum maskulin Herman. Saat mengancingkan kemeja Herman, pandangan mereka saling bertemu dan suasana menjadi hening.


"Kalo kamu mau cium kening aku lagi, jangan sekarang karena ini masih pagi." Ucap Herman.


Seketika Nisa tersadar dan pipinya memerah.


"Ehh.. Soal kemarin Nisa minta maaf, Om. Maafkan Nisa lancang, kemarin Nisa terbawa suasana dan mengira Om itu adik Nisa. Tolong jangan pecat Nisa, Om." Ucap Nisa tertunduk.

__ADS_1


Seketika Herman merangkul pinggang Nisa hingga kini mereka berdua tak berjarak.


"Bukankah kamu anak terakhir? Aku tidak akan memecat kamu, Nisa. Dan kalo terbawa suasana, jadi aku boleh kan juga terbawa suasana saat di dekatmu dan menganggap kamu Lala." Bisik Herman di telinga Nisa.


Mendengar kalimat terakhir Herman, hati Nisa menjadi sesak dan seperti tersayat. Tanpa persetujuan Nisa, Herman pun mencium bibir Nisa seraya memejamkan matanya. Nisa pun juga ikut memejamkan matanya dan tak terasa air matanya menetes, tetapi hatinya hancur karena ia merasa hanya menjadi pelampiasan pria yang ia sukai.


Tak lama Nisa melepaskan ciuman Herman karena sesak di dadanya kian memuncak. Herman pun terkejut dan tersadar dengan apa yang ia lakukan barusan kepada Nisa.


"Maafkan saya Nis, saya terbawa suasana." Ucap Herman.


"Ini juga salah saya, Om." Sahut Nisa dan beranjak menjauh dari Herman.


"Saya akan menyiapkan sarapan dan obat Om terlebih dahulu sebelum saya pergi ke Rumah Sakit." Ucap Nisa dan beranjak pergi keluar dari Herman.


Nisa merasa kacau saat ini, hatinya diselimuti dengan rasa bersalah. Meski begitu Nisa berusaha mengesampingkan apa yang terjadi barusan. Ia harus tetap menjadi perawat Herman seperti biasanya. Sementara Herman dikamar juga merasa bersalah atas apa yang baru saja terjadi. Pria itu menatap bingkai foto kemesraan dirinya bersama Lala.


"Maafkan aku La, kini aku bukan Herman yang dulu. Maafkan aku yang telah berkhianat tetapi rasa itu mulai tumbuh dengan sendirinya. Sepertinya aku mulai menyukainya.." Batin Herman.


Setelah mengetuk pintu, Nisa masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman beserta obat rutin Herman. Seketika Herman menyimpan bingkai foto itu di dalam laci meja dekat ranjangnya.


Seperti biasa, Nisa menemani Herman sarapan dan memastikan majikannya meminum obatnya dengan rutin. Setelah melakukan tugasnya dan berpamitan kepada Herman. Nisa bergegas menuju Rumah Sakit bersama Pak Nanang. Sesampainya di Rumah Sakit, Nisa langsung menuju ruang dokter Ridho yang kebetulan dokter Ridho belum jam prakteknya.


Akhirnya Dokter Ridho menemani Nisa melakukan serangkaian proses pemeriksaan pendonor.


**


Sepulangnya dari Rumah Sakit, tanpa sengaja dari kejauhan Nisa melihat sepasang kekasih yang asyik duduk di bangku taman. Nisa mengenali sosok perempuan itu karena pernah melihat wajahnya di sebuah foto. Akhirnya Nisa memutuskan untuk memotret sepasang kekasih itu dan melanjutkan perjalanan kembali ke rumah Herman.


"Apakah betul ini orangnya?" tanya Nisa dalam hati.


Siapakah Dia? Akankah perasaan Nisa berbalas?


**


Terima kasih atas dukungannya ❤


Jangan lupa klik favorit ya agar dapat notifikasi update episode terbaru 😊


Mohon bantuannya untuk klik Vote juga ya, mau isi kolom komentar juga boleh 😁

__ADS_1


__ADS_2