
Nisa memutuskan untuk beranjak dari ranjang empuknya dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai menghubungi Yuyun, Dennis kembali ke kamar dan terkejut karena Nisa sudah berdiri di dekat jendela apartemen. Kedatangan Dennis membuyarkan lamunan Nisa dan menoleh kearahnya. Dengan berbalut dress berwarna navy, gadis itu terlihat semakin manis.
"Maaf Sayang, aku meninggalkanmu." Ucap Dennis seraya berjalan mendekati Nisa.
"Ahh.. tidak apa. Apakah ada sesuatu yang penting, Sayang?" tanya Nisa cemas.
"Mama menanyakan kabarku. Aku sampai lupa tidak menghubungi Mama sebelumnya." Jawab Dennis.
"Bagaimana kalo kita pergi ke rumah Ibu Mertua. Aku ingin berkunjung kesana." Celetuk Nisa.
Dennis berpikir sejenak. Hatinya bimbang, kalo ia membawa Nisa ke rumah tentunya keluarganya akan mengenalinya. Bagaimana kalo Nisa kembali dengan ingatannya dan tidak mau menganggapnya sebagai suaminya lagi. Bagaimana kalo Nisa kembali tertarik dengan Kakaknya. Tidak, ia belum siap kehilangan Nisa.
"Maaf tidak sekarang ya, aku akan mengatur waktu agar kita bisa berkunjung kesana." Balas Dennis.
Nisa pun mengangguk.
"Apa kamu mau mandi?" tanya Nisa.
Dennis pun mengangguk dan berjalan kearah lemari tetapi Nisa menahannya dengan menarik lengan Dennis.
"Biar aku yang siapkan pakaian kamu." Ucap Nisa.
Dennis pun tersenyum kearah Nisa dan mencium kening Nisa.
"Terima kasih." Ucap Dennis dan beranjak menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Dennis keluar hanya berbalut handuk di pinggangnya sehingga menampakkan lekuk tubuh dan dada bidangnya. Nisa pun berjalan mendekat dan menyerahkan pakaian ganti untuknya.
"Apa perlu kubantu?" tanya Nisa.
Dennis pun tertawa mendengar pertanyaan Nisa.
"Aku bukan anak kecil. Aku bisa mengenakan bajuku sendiri, Sayang." Jawab Dennis.
Nisa pun tersenyum dan beranjak meninggalkan Dennis keluar dari kamar. Ia berniat akan memasak untuk makan malam kali ini. Sesampainya di dapur, Bi Surti menyapa Nisa ramah.
"Bibi mau masak apa hari ini?" tanya Nisa.
"Masakan kesukaan Den Dennis, Non." Jawab Bi Surti.
"Wahh.. ayam kecap ya, Bi?" tebak Nisa.
__ADS_1
"Bukan Non, ini Opor Ayam." Jawab Bi Surti.
"Apakah Mas Dennis sekarang sudah berubah jadi menyukai Opor Ayam, Bi?" tanya Nisa.
"Karena seingatku Mas Dennis sangat menyukai ayam kecap ditambah sedikit perasan jeruk nipis. Dia sangat lahap saat aku menyuapinya." tambah Nisa.
"Ayam kecap dengan perasaan jeruk nipis kan kesukaan Den Herman, apa karena Non Nisa terbiasa menjadi perawat Den Herman ya." Batin Bi Surti.
Karena bingung akan menjawab apa, Bi Surti hanya tersenyum kearah Nisa.
"Non, ada keperluan ke dapur? Ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bi Surti mengalihkan topik pembicaraan.
"Saya mau membantu Bibi memasak dan menyiapkan menu makan malam nanti." Jawab Nisa.
"Apa Non sudah merasa baikan? Bibi takut nanti kalo Non Nisa kenapa-kenapa, nanti Den Dennis marah sama saya." Tanya Bi Surti.
"Aku sudah merasa lebih baik kok, Bi. Bibi tenang aja, Mas Dennis enggak akan marahi Bibi hanya karena hal seperti ini. Percaya deh sama aku." Jawab Nisa mencoba meyakinkan Bi Surti.
Bi Surti pun tersenyum mendengar jawaban Nisa. Kini keduanya sibuk memasak di dapur.
**
DI KANTOR HERMAN
"Bodoh! Bagaimana kalian ini? Cari ke seluruh kota Jakarta. Saya tidak mau kali ini kalian gagal lagi! Kalau sampai gagal, lihat apa yang akan saya lakukan nanti!" Bentak Herman dan memutus panggilan teleponnya.
"Kamu dimana, Nis? Aku sudah sembuh sekarang. Kemana pun kamu, aku pasti akan segera menemukan kam dan aku akan menikahi kamu." batin Herman cemas.
**
Hari demi hari berlalu, Nisa selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Dennis meski Dennis belum menyentuhnya sejak kejadian siang itu. Hari-hari Nisa disibukkan dengan memasak di dapur bersama Bi Surti, membantu Bi Ola merawat tanaman kecil di taman kecil yang berada di balkon ruang tamu.
Dennis juga sibuk dengan perusahaan kecil yang baru ia rintis sejak setahun belakangan. Meski ia sudah berpenghasilan dari pekerjaannya sebagai seorang perwira, tetapi ia tetap ingin memiliki perusahaan seperti milik kakaknya. Di sisi lain Dennis juga mulai mengurus keperluan pernikahannya dengan Nisa. Ia tidak mau khilaf sebelum sah baik secara hukum dan agama.
Sayangnya, jatah cutinya sudah berakhir dan ia harus kembali bertugas Dinas di luar kota.
"Sayang, jangan lupa sering hubungi aku ya kalo tidak sibuk." Ucap Nisa seraya melanjutkan menata baju Dennis dan memasukkan ke dalam tas ransel kesayangan Dennis.
"Iya, Sayang. Oiya ini untuk kamu." Balas Dennis dan menyerahkan sebuah paperbag kecil berwarna pink kepada Nisa.
Nisa pun menerima paperbag itu dan membukanya.
"Wahh.. ponsel baru." Celetuk Nisa bahagia.
__ADS_1
"Ini agar kamu mudah menghubungi aku disaat kamu merindukan aku." goda Dennis.
"Makasih, Sayang." Ucap Nisa seraya memeluk Dennis.
"Tolong selama aku tidak di rumah, jangan keluar rumah. Tapi kalo kamu bosen, kamu bisa mengajak Bi Surti untuk jalan-jalan asal tidak pulang larut malam." Tutur Dennis seraya mengelus rambut Nisa.
"Siap, Komandan." Ucap Nisa setelah ia melepaskan pelukannya.
"Berapa lama kamu akan kembali?" tanya Nisa.
"Paling cepat satu minggu, Sayang." Jawab Dennis.
Nisa pun memasang wajah cemberut.
"Kenapa lama sekali? Kapan kita akan bulan madu? Bukannya kamu ingin kita segera memiliki momongan." gerutu Nisa.
"Sabar ya, Sayang. Setelah aku pulang, kita akan berangkat bulan madu. Plus paket liburan ke beberapa tempat di Jogja." Ucap Dennis.
"Horeee.. " Sahut Nisa sangat gembira.
Setelah semuanya siap, Nisa mengantarkan Dennis hingga ke depan pintu apartemen. Tak lupa gadis itu memeluk Dennis dan mencium tangan Dennis sebagai bentuk rasa hormatnya sebagai seorang istri.
**
Baru satu hari di tinggal Dennis, Nisa merasa kesepian. Siang ini Bi Surti dan Bi Ola juga pamit untuk berbelanja bulanan, lengkap sudah kesepian Nisa. Gadis itu menyibukkan diri dengan menonton acara TV. Tidak ada siaran menarik hari itu hingga sebuah suara bel membunuh kesepian Nisa.
Nisa beranjak membukakan pintu dan seorang pria yang tampak tak asing berdiri di depan pintu.
"Nisa." Ucap Pria itu terkejut sekaligus bahagia.
"Halo, Mas.. "
Belum sempat Nisa melanjutkan kalimatnya tetapi Pria itu langsung memeluk erat seakan tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya
***
Terima kasih atas dukungannya ❤
Jangan lupa klik favorit ya agar dapat notifikasi update episode terbaru 😊
Mohon bantuannya untuk klik LIKE, SHARE, DAN VOTE juga ya, mau isi kolom komentar juga boleh 😁
__ADS_1