
"Tolong jangan pergi lagi." Ucap Herman seraya menggenggam tangan Nisa.
"Iya Om, Nisa kan perawatnya Om. Jadi Nisa akan jagain, Om." Balas Nisa.
"A.. apa kamu bilang barusan? Kamu panggil aku, Om?" tanya Herman.
Nisa mengangguk dengan senyum.
"Kan Om sendiri yang minta aku buat panggil dengan sebutan itu." Jawab Nisa.
"A.. apa ingatan kamu sudah pulih?" tanya Herman memastikan.
"Ingatan? Memangnya aku sudah pikun?" tanya Nisa balik seraya diikuti tawa khasnya.
Namun Herman hanya terdiam menatap Nisa. Sontak Nisa pun terdiam dan suasana jadi hening.
"Beberapa waktu lalu kamu sempat amnesia.. " Ucap Herman lirih.
"Hah? Bagaimana bisa?" tanya Nisa bingung.
"Kamu bisa menanyakan hal ini sama Dennis. Dia yang tahu cerita sebenarnya." Jawab Herman.
Nisa pun terduduk lemah di kursi dekat ranjang Herman. Suasana kembali hening hingga sebuah suara pintu terbuka membuyarkan suasana. Nisa pun menoleh kearah Dennis yang baru datang.
"Syukurlah Mas sudah sadar." Ucap Dennis seraya berjalan mendekat kearah Herman.
"Nis, kamu makan dulu ya. Ini tadi aku mampir beli Nasgor buat kita makan malam." Tambah Dennis seraya menyerahkan satu kantong kresek berisi 2 bungkus Nasi goreng.
"Makasih, Mas." Ucap Nisa seraya menerima kresek itu.
__ADS_1
"Om, mau makan?" tanya Nisa.
"Boleh." Jawab Herman.
"Oke, kita bisa berbagi makanan." Ucap Nisa.
Melihat hal itu, Dennis merasakan sesak di dadanya.
"Ini buat, Mas Dennis." Ucap Nisa seraya menyerahkan sebungkus Nasi Goreng lengkap dengan sendoknya.
Dennis pun menerimanya, lalu setelahnya Nisa sibuk menyuapi Herman yang lahap menikmati makanannya. Hal itu kontras terlihat oleh Dennis yang mulai cemburu melihat kedekatan mereka kembali. Ia memutuskan untuk beranjak meninggalkan ruangan itu dengan sebungkus nasi gorengnya.
Dennis menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu dekat ruangan Herman. Pikirannya melayang mengingat momen kemesraannya dengan Nisa. Tak lama sebuah suara membuyarkan lamunan Dennis.
"Ehh.. Nis, ada apa?" tanya Dennis kaget.
"Ahh itu.. Hmm.. lagi cari angin." Jawab Dennis gugup.
Nisa pun mengangguk dan matanya tertuju pada sebungkus nasi goreng yang masih rapi di tangan Dennis.
"Mas, belum makan? Apa perlu aku suapin seperti Om Herman?" Goda Nisa.
"Kita makan bareng yuk." Ucap Dennis.
"Ahh.. Nisa enggak lapar kok, Mas." Ucap Nisa.
Tak lama terdengar suara gemuruh dari perut Nisa. Sontak Nisa memegang perutnya agar tidak berbunyi lagi. Dennis yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dan berinisiatif untuk menyuapi Nisa.
"Aaa... " Ucap Dennis seraya menyodorkan sesendok nasi goreng.
__ADS_1
"Enggak Mas, ini buat Mas Dennis aja." Ucap Nisa.
"Udah ayok buka mulut dan kita makan bareng yaa q saja ini dinner bertema rumah sakit." Ucap Dennis.
Nisa pun mengerutkan keningnya tetapi kemudian dia membuka mulutnya dan menerima nasi goreng yang disodorkan Dennis. Mereka berdua asyik menikmati nasi goreng bersama dengan diselingi obrolan ringan.
"Alhamdulillah nasi gorengnya laku." Celetuk Dennis.
"Hehe.. Makasih ya, Mas." Ucap Nisa.
"Iyaa sama-sama." Balas Dennis.
Suasana kembali hening.
"Mas Herman sudah tidur?" tanya Dennis memecahkan keheningan.
"Sudah kok." Jawab Nisa.
"Hmm.. Mas, boleh Nisa bertanya sesuatu?" tanya Nisa.
"Silahkan." Jawab Dennis.
"Tolong ceritakan bagaimana Nisa lupa ingatan?" tanya Nisa.
Dennis pun berpikir sejenak. Ia mulai menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan Nisa.
**
Mohon maaf baru Update, Terima kasih yaa masih setia dengan cerita ini 🙏😊
__ADS_1