
"Oke, 2 hari lagi aku akan ambil cuti dan kita akan pergi honeymoon." Sahut Herman.
"Honeymoon?" tanya Nisa mengulang perkataan Herman.
Herman pun mengangguk dengan tersenyum. Mendengar kata "Honeymoon" sudah membuat jantung Nisa berdegup kencang.
"Kamu mau honeymoon kemana, Sayang?" tanya Herman seraya beranjak membereskan pekerjaannya di dapur.
"Hmm.. Bagaimana kalo di Jogja?" tanya Nisa balik.
"Boleh." Jawab Herman.
"Hore.. Gimana kalo kita ajak Mama, Ibu dan Bapak?" tanya Nisa.
"Sayang, itu namanya bukan Honeymoon dong tapi holiday." Jawab Herman.
Mendengar itu Nisa hanya bisa meringis seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Kalo begitu ayo kita sarapan dulu." Ucap Nisa seraya menghidangkan makanan di meja makan.
Herman pun mengangguk dan membantu Nisa menata makanan di meja makan. Keduanya menikmati sarapan dengan lahap dan terkadang diselingi obrolan ringan.
*
Setelah sarapan, Herman pun bersiap untuk pergi ke kantor. Nisa membantu menyiapkan keperluan suaminya seperti biasanya.
"Yang, ini kemejaku kok bau ya?" tanya Herman.
"Masak sih? Perasaan itu baru aku ambil dari lemari." Jawab Nisa seraya melanjutkan membereskan ranjang tidurnya.
"Iya Sayang, sini deh coba kamu cium." Ucap Herman.
__ADS_1
Karena penasaran Nisa pun berjalan mendekati Herman dan mencium kemeja yang dipakai Herman.
"Enggak bau kok, Yang. Ini wangi seperti biasanya." Ucap Nisa.
Herman pun tersenyum dan langsung memeluk Nisa.
"Aku cuma bercanda, Yang. Hehe biar bisa peluk kamu lagi." Ucap Herman.
"Ihh.. Dasar kamu yaa.." Keluh Nisa seraya mencubit pelan perut Herman.
"Aww .. sakit Yayang." Rengek Herman dan melepas pelukannya.
"Biarin, kamu sih nakal. Udah siang nih, nanti kamu telat lagi ke kantor." Ucap Nisa.
"Biarin, kan aku bos nya." Sahut Herman dan memegang dagu Nisa.
Cupp.. lagi-lagi Herman mendaratkan ciuman manis di bibir istrinya. Nisa pun tak bisa menolak dan membalasnya. Tak lama Nisa pun mengakhirinya karena tersadar jika suaminya harus pergi bekerja.
"Kamu ada rapat pagi ini kan, Yang?" tanya Nisa balik.
"Waduh.. iya, makasih ya sudah diingetin. Doain ya semoga kita berhasil menjalin hubungan dengan perusahaan besar yang satu ini." Sahut Herman.
"Aamiin, aku selalu doain yang terbaik buat kamu." Ucap Nisa dengan senyum.
"Makasih, Sayang." Ucap Herman dan kembali memeluk Nisa.
*
"Terima kasih Pak Ramon, semoga kerjasama ini berjalan dengan baik." Ucap Herman seraya menjabat tangan Ramon.
"Iya Pak Herman, terima kasih sudah menerima tawaran kerjasama ini." Balas Ramon dan tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya, saya dengar Anda baru menikah ya. Selamat ya, Pak Herman." Ucap Ramon.
"Terima kasih, Pak. Iya memang baru satu bulan berjalan." Ucap Herman.
"Wah.. sebentar lagi akan ada kabar gembira." Ucap Ramon.
Herman hanya membalas tersenyum, namun pikirannya larut membayangkan bila Nisa hamil. Bukankah akan lengkap kehidupan mereka.
"Pasti istri Pak Herman ini cantik." Puji Ramon.
"Pak Ramon bisa saja. Yang membuat saya tertarik dengan dia karena dia istimewa." Sahut Herman.
"Pak Ramon, sendiri bagaimana? Apakah sudah menikah?" tanya Herman.
"Kebetulan saya masih single." Jawab Ramon.
"Tapi saya menunggu seseorang." Tambah Ramon.
"Wah.. sudah berapa lama Pak Ramon menunggu?"
"Sudah hampir 2 tahun."
"Pasti wanita itu sangat spesial buat Pak Ramon sampai Anda rela menunggu selama itu."
"Tentu, dia sudah menyelamatkan hidup saya. Ya saya berharap bisa bertemu kembali dengannya."
"Semoga Anda segera bertemu dengan wanita spesial itu."
Ramon pun mengangguk dengan tersenyum.
**
__ADS_1