
Beberapa hari berlalu..
Seorang wanita berjalan memasuki ruangan Herman tanpa permisi membuat si pemilik ruangan terkejut.
"Ada keperluan apa kamu kesini?" tanya Herman heran.
"Aku mau menanyakan beberapa hal kepadamu." Jawab Rima seraya duduk berseberangan dengan Herman.
"Katakan segera, waktuku tidak banyak." Ucap Herman dingin.
"Baik. Dimana Kamu saat tanggal 15 Oktober?" tanya Rima.
Herman pun menaikkan alisnya.
"Memang penting aku harus melaporkan kegiatanku padamu?" tanya Herman balik.
Rima pun mengangguk dengan tatapan tajam.
"Oke kalo Kamu sangat ingin tahu." Ucap Herman.
Herman pun menghela napas dan menatap Rima tajam.
"Seperti biasa, aku ke kantor sampai sore dan malamnya aku...
...****************...
"Ditanggal itu Mas Herman meeting dengan seorang klien dan katanya kliennya meminta untuk menginap saja karena sudah malam." Jawab Nisa di tempat lain.
"Kamu mengijinkannya?" tanya Ramon heran.
Nisa pun mengangguk.
"Aku percaya kalo suamiku tidak akan macam-macam. Dia sedang bekerja untuk keluarganya." Sahut Nisa dengan senyum.
*
"Dimana kamu meeting dengan klien?" tanya Rima.
"Hotel Silver ABC." Jawab Herman.
"Astaga.. " Celetuk Rima terkejut.
Herman pun mengernyitkan keningnya heran.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Herman penasaran.
"A.. Apakah kamu sempat mabuk waktu itu?" tanya Rima memastikan.
"Tidak. Hanya saja aku merasa pusing dan beristirahat di Hotel." Jawab Herman.
"Benarkah? Lalu coba jelaskan tentang ini." Tanya Rima seraya menunjukkan fotonya bersama dengan Herman.
"Darimana kamu mendapatkan ini?" tanya Herman terkejut.
"Jelaskan saja tentang foto ini, soal aku dapat darimana itu tidak penting." Jawab Rima.
"Mana aku tahu soal ini. Seingatku kalo malam itu aku tertidur di kamar hotel sendiri." Ucap Herman.
Rima pun menatap tajam kearah Herman.
"Kamu pasti tidak sadar melakukan itu padaku kan? Akui saja perbuatanmu Tuan Herman Maulana." Ucap Rima seraya melipat kedua tangannya didada.
"Sekarang kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan." Tambah Rima.
"Apa maksudmu?" tanya Herman.
"Saat ini aku hamil anak kamu." Jawab Rima.
"Dijebak atau tidak, intinya sekarang kamu harus bertanggung jawab." Celetuk Rima.
"Astaga.. " Ucap Herman seraya mengusap wajahnya kasar.
"Nikahi aku sekarang, Herman." Celetuk Rima.
"Apa? Itu enggak mungkin, Rim. Aku enggak bisa mengkhianati istriku." Sahut Herman.
"Hanya perawat murahan itu yang kamu pikirkan? Bagaimana dengan anak kamu yang saat ini ku kandung?" tanya Rima mulai emosi.
"Nanti aku pikirkan jalan keluarnya ya." Jawab Herman.
"Oke. Aku beri kamu waktu seminggu untuk memikirkan semuanya. Kalo kamu tidak segera menikahi ku, aku akan datangi istrimu dan meminta dia menceraikan kamu." Ancam Rima dan beranjak pergi meninggalkan Herman.
"arrgghhh... Masalah baru apalagi ini?" Umpat Herman kesal seraya meninju angin.
Herman pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seorang klien yang waktu itu meeting dengannya, sayangnya nomornya sudah tidak aktif.
"Sial.. " Umpat Herman kesal.
__ADS_1
...****************...
Malam hari di Apartemen Rima...
"Apa? Kamu meminta pertanggung jawaban Pak Herman?" tanya Ramon memastikan pendengarannya.
Rima pun mengangguk seraya melanjutkan mengunyah makan malamnya.
"Rim, apa kamu sudah yakin itu anak Pak Herman?" tanya Ramon.
Rima pun meletakkan sendoknya dan melipat kedua tangannya di meja.
"Ram, aku sudah memastikan karena tadi aku menanyakan langsung pada Herman. Ya meskipun dia menyangkal kalo katanya kami dijebak." Jawab Rima.
"Dijebak? Bagaimana bisa?" tanya Ramon.
"Entahlah. Yang pasti seminggu lagi aku dan Herman akan menikah." Jawab Rima.
"Rim, kumohon jangan menikah dengan Pak Herman. Biar aku yang bertanggung jawab untuk kehamilanmu." Ucap Ramon seraya memegang tangan Rima.
"Apa sih, Ram. Biarkan Ayah kandungnya yang bertanggung jawab. Lagipula Aku mencintai Herman." Sahut Rima kesal.
"Kumohon, menikahlah denganku dan kita hidup bahagia di luar negeri." Ucap Ramon memohon.
"Tidak Ram, kamu enggak salah. Cukup sampai disini kamu menolongku dan jangan ikut campur lagi." Ucap Rima dengan nada tinggi.
"Tapi Rim, kamu akan jadi orang ketiga dalam rumah tangga orang." Ucap Ramon.
"Orang ketiga? Tentu setelah ini Herman akan menceraikan istrinya. Jadi hanya aku satu-satunya istri Herman Maulana." Sahut Rima bangga.
"Astaga.. Apa kamu tega menghancurkan kehidupan orang lain? Coba pikirkan itu." Tutur Ramon.
"Aku tidak peduli itu yang terpenting ayah kandung dari bayiku harus bertanggung jawab. Dan kamu Ram, bukankah kamu juga senang dapat menikahi gadis pujaanmu itu." Sahut Rima dan beranjak pergi meninggalkan meja makan.
Ramon pun menjambak rambutnya sendiri.
"Astaga.. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak tahu cara menghentikan semua ini. Maafkan aku, Nisa." Gumam Ramon lirih.
...***************
...
__ADS_1
Author do'ain yang udah dukung dan semangatin Author, semoga tambah dilancarkan rejekinya dan sehat selalu ❤