
"Yudha.. Keluarlah dari persembunyianmu!" Teriak Ramon murka.
Ya, Ramon beserta ajudannya memaksa masuk ke rumah Yudha. Ia ingin mengetahui fakta sebenarnya siapa ayah dari anak yang dikandung Rima. Pasalnya sulit baginya untuk membujuk Rima agar tak menikah dengan Herman.
"Oh aku kedatangan tamu di siang ini." Celetuk Yudha seraya berjalan dengan kedua tangan yang disimpan dalam saku celananya.
"Cepat beritahu siapa sebenarnya yang menghamili Rima!" Ucap Ramon penuh amarah.
Yudha pun mengernyitkan keningnya.
"Kenapa bertanya padaku? Bukankah Dia sudah menunjukkan fotonya bersama Herman." Tanya Yudha.
"Ramon Pratama, sejak kapan kamu mulai berani padaku? Apa sekarang karena kamu membawa bala bantuan jadi bisa bersikap seperti ini padaku?" tambah Yudha dan berjalan duduk di sofanya.
"Dulu kamu bisa menindasku tapi sekarang kamu tidak akan bisa melakukan itu lagi." Sahut Ramon.
"Baiklah, karena kita sudah menjadi pria dewasa. Mari kita bicara berdua layaknya orang dewasa." Ucap Yudha.
"Duduklah bersamaku." Tambah Yudha seraya menepuk kursi disampingnya.
"Tidak usah berbelit. Cepat katakan siapa Ayah dari bayi itu?" Ucap Ramon.
Yudha pun menghela napas panjang.
"Jadi begini caramu menolong sahabatmu? Tenanglah, aku hanya membantu sahabatmu bersatu dengan pujaan hatinya." Celetuk Yudha.
"Apa maksudmu?" tanya Ramon.
"Hmm.. Intinya kukatakan jangan menuduh orang sembarangan dan jangan mencampuri urusanku." Jawab Yudha dengan ketus.
"Kalo kamu tidak mengatakannya, aku akan cari tahu sendiri dan jika terbukti itu kamu, maka urusan kita akan berlanjut." Ancam Ramon dan beranjak meninggalkan rumah Yudha dengan emosi.
Sementara Yudha hanya tersenyum sinis.
__ADS_1
"Lakukan rencana selanjutnya." Ucap Yudha pada salah satu ajudan di dekatnya.
"Baik, Bos." Sahut sang Ajudan.
...****************...
HARI KE- 6..
"Ternyata kamu datang menemuiku lebih awal dari dugaan." Celetuk Rima bahagia.
"Langsung pada intinya saja. Aku akan menikahimu setelah hasil tes DNA menunjukkan jika itu anakku." Ucap Herman to the point.
"Tes DNA? Kamu enggak percaya kalo ini anak kamu?" Tanya Rima cemas.
"Aku mau memastikan kebenarannya. Ayo kita berangkat sekarang. Lebih cepat akan lebih baik." Jawab Herman.
"Oke, tapi kita harus membuat kesepakatan. Jika benar bayi ini anak kamu, maka kamu harus menceraikan istrimu dan menikahi aku." Sahut Rima mencoba menguasai keadaan.
Herman pun terdiam mendengar ucapan Rima. Ia tidak ingin berpisah dari istrinya, tetapi di sisi lain ia harus membuktikan kebenarannya. Akhirnya Pria itu mengangguk dan beranjak pergi lebih dulu.
**
Sesampainya di sebuah Rumah Sakit Harapan, mereka berdua melakukan serangkaian Tes DNA. Rima mulai cemas mengenai hasil tes yang nantinya akan keluar. Bagaimana jika benar ini bukan anak Herman?
Apakah Pria yang dimaksud Lala tempo hari akan menghabisi Papanya? Pikirannya kacau saat ini.
"Aduhh.. Her, perut aku sakit. Awww.. " Pekik Rima seraya memegangi perutnya.
"Rim, kamu kenapa?" tanya Herman Panik.
"Perut aku.. Aww.. " Rintih Rima dan tak lama ia pingsan.
Untungnya Herman sigap menopang tubuh wanita itu. Bergegas Herman menggendong Rima menuju IGD. Sesampainya di IGD, Dokter yang berjaga pun segera memeriksa keadaan Rima.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Herman cemas setelah Dokter selesai memeriksa.
"Kondisi pasien saat ini lemah. Tolong jangan buat istri Anda stress dan kelelahan karena akan berpengaruh pada kondisi janin. Untungnya anak Bapak masih kuat." Jelas Dokter.
"Terima kasih, Dok." Ucap Herman.
Dokter pun mengangguk dan beranjak pergi.
"Anakku? Andai saja yang hamil saat ini kamu, Nis." Batin Herman.
...****************...
Author mau spill beberapa foto Ilustrasi tokoh di Novel ini yaa
(Foto hanya Ilustrasi)
Mas Herman dan Nisa 😁
Mas Ramon 😁
Mas Yudha nih.. 😁
Mbak Rima 😁
**Hayoo.. pilih yang mana? Komen yaakkk ❤
__ADS_1
Terimakasih ❤**