Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Di Rumah Sakit..


__ADS_3

"Sayang, kamu bisa tinggal bersama Mama selama aku Dinas di luar kota agar kamu tidak kesepian di rumah." Ucap Dennis.


Nisa terdiam dan memikirkan perkataan Dennis.


"Tidak bisakah kamu mengambil cuti beberapa hari untuk merawatku di rumah?" tanya Nisa.


Dennis pun menggeleng dan menjawab,


"Maafkan Aku."


Nisa menghembuskan napasnya kesal.


"Baiklah, aku akan menuruti permintaan suamiku." Ucap Nisa dengan nada kecewa.


Herman pun tersenyum. Di sisi lain hati Dennis ada perasaan takut. Takut jika Nisa sudah mengingat semuanya, apakah dia masih akan mau menjadi istrinya? Saat ini Dennis hanya bisa pasrah dan mengikuti alur kehidupan.


"Mas, soal Nisa tadi yang menampar Mas tiba-tiba, aku mewakili Nisa minta maaf ya." Ucap Dennis.


"Hmm.. iya Mas, Nisa minta maaf karena tadi sempat menampar Mas Ipar. Tetapi itu refleks, Mas." Sahut Nisa.


"Iya tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena sangking senangnya jadi spontan bersikap seperti tadi." Jawab Herman.


Suasana kembali hening.


"Tadi waktu di Apartemen Mas bilang akhirnya aku menemukanmu, maksudnya apa, Mas?" tanya Nisa penasaran.


"Ahh.. itu maksudnya akhirnya aku bertemu dengan adik iparku." Jawab Herman berbohong.


Nisa hanya manggut-manggut mendengar jawaban Herman.


"Oiya Mas, ini sudah malam. Sebaiknya Mas Herman pulang, biar aku yang jaga Nisa disini. Mama pasti nyariin, Mas." Ucap Dennis.


"Aku akan ikut menjaga disini, tadi aku juga sudah ijin sama Mama." Sahut Herman dan kini duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang Nisa.


Suasana kembali hening. Tiba-tiba dering ponsel Dennis memecahkan keheningan.


"Aku tinggal angkat telepon dulu ya." Ucap Dennis.

__ADS_1


Nisa pun mengangguk, Dennis beranjak keluar dari kamar Nisa dan mulai mengobrol dengan orang di seberang sana. Perasaan takut menghantui Nisa saat kini ia dan Herman dalam satu ruangan berdua. Tetapi Nisa mencoba menepis perasaan itu. Herman yang sejak tadi duduk di sofa mencoba menyibukkan diri dengan ponselnya, meski sesekali dia melirik ke arah Nisa.


"Hmm.. Mas Herman, apa sudah ijin sama istrinya juga kalo mau nginep disini?" tanya Nisa mencoba memecah keheningan.


Herman terdiam sejenak, mencoba mencari alasan yang pas.


"Kami sudah berpisah dan saat ini aku sedang menunggu seseorang yang akan ku lamar nanti." Jawab Herman tersenyum.


"Eh maafkan aku Mas, aku kira Mas.. " Nisa tak bisa melanjutkan kata-katanya, otaknya bingung dengan kalimat selanjutnya.


"Ahh tidak apa, jangan dipikirkan." Sahut Herman.


"Bagaimana perasaan kamu kepada, Adekku?" tanya Herman seraya melipat kedua tangannya.


"Aku mencintai suamiku, dia pria yang baik dan selalu membuatku merasa nyaman di dekatnya." Jawab Nisa.


"Apa kalian sudah pernah melakukan kewajiban sebagai suami istri?" tanya Herman penasaran.


Jantungnya berdegup menanti jawaban Nisa.


"Itu.. "


"Wahh.. sepertinya kalian mulai akrab." Celetuk Dennis.


"Ahh.. iya sepertinya begitu." Jawab Nisa.


Herman kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.


*Dennis POV*


"*Halo iya, Ma." Ucap Dennis pada Yuyun di seberang sana.


"Apa benar Nisa selama ini sama kamu?" tanya Yuyun.


"Iya Ma, tapi aku bisa jelasin semuanya." Jawab Dennis.


"Oke. Mama tunggu penjelasan kamu di rumah." Ucap Yuyun.

__ADS_1


"Ma, tapi aku minta tolong sama Mama dan yang lain. Saat ini kondisi Nisa memprihatinkan, dia amnesia... "


"Iya Mama sudah tahu, tadi Herman sudah menceritakan sama Mama. Apa betul kamu memanfaatkan situasi ini untuk pura-pura jadi suami Nisa?"


"Hah? Enggak Ma, ceritanya enggak begitu. Itu dari sudut pandang Mas Herman sendiri. Pokoknya aku minta tolong Mama dan yang lain bersikap seolah Nisa menantu Mama dan jangan ceritakan dahulu kejadian sebenarnya karena itu akan berpengaruh pada kondisi kesehatan Nisa. Nanti setelah di rumah aku akan menceritakan semuanya dari A sampai ke Z ke Mama. Love you, Ma." Jawab Dennis.


"Oke Mama turutin mau kamu. Love you, Sayang. Jangan tidur malam-malam." Balas Yuyun dan memutuskan panggilan teleponnya.


Dennis menghela napas dan beranjak kembali ke kamar Nisa. Saat akan memasuki kamar Nisa, tanpa sengaja Dennis mendengar percakapan Nisa dan Herman sayup-sayup karena pintu kamarnya terbuka sedikit.


"Bagaimana perasaan kamu kepada, Adekku?" tanya Herman seraya melipat kedua tangannya.


"Aku mencintai suamiku, dia pria yang baik dan selalu membuatku merasa nyaman di dekatnya." Jawab Nisa.


"Apa kalian sudah pernah melakukan kewajiban sebagai suami istri?" tanya Herman penasaran.


Mendengar pertanyaan Herman, Dennis pun bergegas melangkah memasuki kamar. Ia tidak ingin kakaknya mengetahui hubungannya lebih dalam dengan Nisa*.


*BACK TO REALITY*


"Sayang, sebaiknya kamu istirahat ya. Besok kita harus bersiap untuk pulang." Ucap Dennis.


"Siap komandan." Sahut Nisa dan mencoba memejamkan kedua matanya.


Sebenarnya ia ingin Dennis ikut tidur di sampingnya, seperti malam di Rumah Sakit sebelumnya. Namun ia tidak enak karena Herman ada disini jadi Nisa hanya memegang tangan Dennis erat.


Pandangan Herman pun tertuju kearah tangan Dennis dan Nisa yang saling menggenggam erat. Kini keduanya sudah tertidur dengan posisi Dennis duduk di samping ranjang Nisa dan kepalanya bersandar di ranjang Nisa. Emosi Herman mulai menggebu-gebu, namun ia mencoba untuk menahannya dan memutuskan untuk ikut memejamkan kedua matanya.


***


Gambar hanya Ilustrasi


(biar tambah uwwu 🤭)



Terima kasih atas dukungannya ❤

__ADS_1


Jangan lupa klik favorit ya agar dapat notifikasi update episode terbaru 😊


__ADS_2