
"Panggilan Obat atas nama saudari Nisa." Panggil seorang apoteker dengan suara lantang.
Saat akan berdiri, Dennis menghentikan langkah Nisa.
"Biar aku yang ambil obatnya. Kamu tunggu sini ya." Ucap Dennis dan beranjak meninggalkan Nisa yang masih terduduk.
"Hmm.. coba saja Om Herman semanis Mas Dennis sikapnya." Gumam Nisa.
"Yuk!" Ucap Dennis membuyarkan lamunan Nisa.
"Eh.. Iya, Mas." Sahut Nisa.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan Herman, suasana Hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing hingga sesampainya masuk di ruangan Herman. Tampak sosok Rima berada disana, sontak Nisa menggenggam tangan Dennis erat. Kejadian tadi masih membuatnya trauma.
Dennis pun menoleh kearah Nisa yang tampak ketakutan namun mencoba bersikap tenang.
"Apa terjadi sesuatu antara Nisa sama Mbak Rima? Aku perlu menyelidiki ini." Batin Dennis menyelidik.
"Akhirnya kalian kembali juga." Ucap Yuyun.
"Gimana Mas, keadaan Mas Herman? Apa dia sudah bangun?" tanya Dennis.
Yuyun hanya menggeleng.
"Tante, boleh ya malam ini aku ikut menjaga Mas Herman disini?" tanya Rima.
Yuyun menimbang sejenak.
"Tidak perlu, Mbak. Biar aku dan Nisa yang menjaga Mas Herman malam ini. Karena Mbak Rima bukan bagian dari keluarga kami, kami jadi tidak mau merepotkan Mbak Rima." Jawab Dennis.
"Lho kan Mas Herman calon suamiku." Sahut Rima dengan nada tinggi.
Dennis pun berdehem dan berkata,
"Maaf ya Mbak Rima, perjodohan antara Mbak dan Mas Herman sudah dibatalkan. Tolong pengertiannya."
"Kan Mas Herman membatalkan sepihak. Aku kan belum menyetujui hal itu, jadi perjodohan ini tetap berjalan. Iya kan, Tante?" Sahut Rima.
"Sudah.. sudah.. Jangan bahas hal pribadi. Saat ini Herman sedang sakit, kenapa kalian malah membahas hal ini. Rima, tolong kamu segera pulang ya karena sebentar lagi jam besuk sudah habis." Balas Yuyun.
"Tapi.. Tante."
"Besok kamu bisa jenguk Herman lagi. Tante minta tolong pengertiannya."
Rima pun menurut dan beranjak pergi setelah pamit.
__ADS_1
"Nis, kepala kamu kenapa kok diperban gitu?" tanya Yuyun cemas.
"Ahh.. ini Nisa habis jatuh kok, tadi jalan enggak lihat hehe.." Jawab Nisa.
"Apa operasinya Om Herman berjalan lancar, Bu?" tanya Nisa.
"Operasi?" Celetuk Yuyun mengerutkan keningnya.
"Iya Bu, Operasi donor ginjal untuk Om Herman." Ucap Nisa menjelaskan.
Dennis pun menarik tangannya Yuyun dengan perlahan dan menuntunnya keluar dari ruangan itu. Nisa yang melihat tingkah Dennis hanya bisa geleng-geleng kepala. Nisa menjatuhkan tubuhnya di kursi dekat ranjang Herman dan menatap sendu ke pasien yang terbaring disana.
"Om, semoga lekas bangun ya. Kasihan Ibu sama Mas Dennis cemas." Ucap Nisa lirih.
Sementara Dennis sedang berdiskusi dengan Yuyun dikursi tunggu dekat ruangan Herman dirawat.
"Apa ingatan Nisa sudah kembali?" tanya Yuyun.
Dennis pun mengangguk dengan mimik sedih.
"Syukurlah.." Celetui Yuyun.
"Apa kita harus cerita yang sebenarnya Ma, soal kejadian selama Nisa tidak ingat siapa dirinya?" tanya Dennis.
"Ya, sepertinya itu harus. Dan Mama mau kamu segera nikahi Nisa." Jawab Yuyun.
Yuyun pun mengangguk dan berkata,
"Bagaimana pun juga kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan sama Nisa."
"Ta.. tapi bagaimana dengan Mas Herman, Ma?" tanya Dennis.
Yuyun berpikir sejenak. Ia teringat kondisi memprihatinkan Herman tadi pagi. Tetapi disatu sisi hatinya juga tidak tega melihat Dennis kembali mengalah kepada Kakaknya.
"Mama akan coba bicara dengan Herman setelah dia sembuh. Sementara biar Nisa menganggap dirinya masih perawat Kakak kamu sampai dia sembuh. Setelah itu kita bahas mengenai pernikahan kalian." Jawab Yuyun.
"Makasih, Mama. I Love You." Ucap Dennis seraya memeluk tubuh Mamanya.
**
Hingga malam menjelang, Yuyun, Nisa dan Dennis masih setia menjaga Herman yang belum tersadar.
"Ma, ini sudah malam sebaiknya Mama istirahat di rumah ya biar aku sama Nisa yang jaga Mas Herman disini." Ucap Dennis seraya merangkul bahu Yuyun.
"Tapi Kakakmu belum bangun." Ucap Yuyun.
__ADS_1
"Mama tenang aja. Nanti kalo Mas Herman sudah bangun, aku segera kabarin, Mama." Sahut Dennis.
"Aku enggak mau Mama ikut sakit nanti. Sekarang aku antar Mama pulang ya, besok Mama bisa kembali kesini sama Pak Nanang." Tambah Dennis.
Yuyun menghela napas berat seraya menatap wajah Dennis dengan senyum. Sebuah anggukan menjadi jawaban untuk Dennis.
"Nisa, tolong titip Herman ya. Kalo ada apa-apa kamu segera kabarin saya ya." Ucap Yuyun.
"Iya, Ibu. Nisa pasti jagain Om Herman kok." Jawab Nisa.
"Kamu enggak apa-apa kan Nis, aku tinggal antar Mama dulu?" tanya Dennis.
"Enggak apa-apa kok, Mas. Mas Dennis tenang aja, aku sama Mas Herman aman kok." Jawab Nisa.
Dennis menatap Nisa dengan senyum. Setelah berpamitan, Yuyun dan Dennis pun beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
Nisa pun menghela napas dan kembali menatap Herman dengan sendu. Tak lama Nisa melihat pergerakan di tangan Herman dan Pria itu kembali meracau pelan.
"Nis.. To.. long jangan pergi.. " Ucap Herman lirih.
Nisa yang terkejut pun sontak memencet tombol darurat di dekat ranjang Herman.
"Om.. Om bangun ya. Nisa disini, Om." Ucap Nisa seraya menggenggam tangan kanan Herman.
"Om.. Ini Nisa, Om. Om, bangun yaa.." Ucap Nisa lagi.
Perlahan Herman pun membuka kedua matanya dan senyum bahagia terkembang dibibirnya.
"Ini kamu, Nis?" tanya Herman lirih.
"Iya, Om. Ini Nisa, perawatnya Om." Jawab Nisa.
Tak lama dokter dan seorang perawat pun datang memasuki ruangan. Keduanya langsung memeriksa keadaan Herman.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Nisa cemas.
"Syukurlah, pasien sudah sadar. Kondisinya saat ini mulai membaik dari sebelumnya, tetapi masih lemah." Jawab Dokter.
"Alhamdulillah.. Terima kasih, Dok." Balas Nisa.
"Pasien masih perlu banyak istirahat. Kalo begitu kami permisi dulu." Ucap Dokter.
Nisa pun mengangguk dengan senyum diikuti dengan langkah dokter beserta perawat keluar dari ruangan itu.
"Tolong jangan pergi lagi." Ucap Herman seraya menggenggam tangan Nisa.
__ADS_1
**
Maafkan baru update, semoga enggak bosen yaa sama cerita ini. Terima kasih sudah setia mampir ke tiap episode cerita ini 😊