
Sepanjang perjalanan Nisa masih kepikiran dengan Perempuan yang ia temui tadi. Gadis itu bermaksud untuk menunjukkan hasil fotonya ke Dennis. Sesampainya di rumah Nisa melihat pemandangan yang tak biasa terpampang di depannya. Herman tengah duduk di kursi teras depan menatap kedatangan Nisa dengan perasaan lega.
"Lho Om, kok menunggu disini? Terus kursi roda Om kemana?" tanya Nisa heran dan berjalan mendekat ke arah Herman.
"Lah ini kan rumah aku, memangnya enggak boleh aku duduk disini? Lagian aku bosen duduk di kursi roda terus." Jawab Herman dan mencoba bangkit dari duduknya seraya memegang tongkat jalannya.
"Eh Om sekarang mau kemana?" tanya Nisa.
"Mau masuk." Jawab Herman tetapi ia kesulitan saat mencoba bangkit dari duduknya.
"Biar aku bantu, Om." Sahut Nisa seraya membantu Herman.
Setelah Herman bisa berdiri tegak, kini keduanya saling menatap satu sama lain. Dari kejauhan sepasang mata menatap aktivitas Nisa dan Herman.
"Mau sampai kapan mantengin terus?" tanya Herman menyadarkan Nisa.
"Ahh.. maaf, Om." Jawab Nisa salting.
Herman hanya tersenyum dan beranjak berjalan dengan tongkatnya seraya dibantu Nisa disampingnya. Hari ini berlalu dengan cepat dan Nisa cukup lelah karena Herman lebih manja dari biasanya. Pria itu tidak membiarkan Nisa sedetik pun jauh darinya, meskipun menyiapkan keperluannya ia tetap menemani Nisa di sampingnya. Hingga malam pun Nisa akhirnya tertidur di sofa kamar Herman karena Herman memintanya untuk tidur dikamarnya malam ini.
Hatinya merasa gembira dan nyaman. Perasaan kosong yang hinggap beberapa bulan semenjak kepergian Lala, kini mulai terisi oleh kehadiran Nisa. Akankah posisi Lala tergantikan oleh Nisa?
Melihat Nisa tertidur pulas di sofa kamarnya, Herman menyempatkan diri untuk memasangkan selimut di tubuh kecil Nisa. Pria itu menatap gadis didepannya dengan tersenyum, tetapi di sisi lain perasaan bersalah menghantui dirinya. Perasaan bersalah karena telah mengkhianati istrinya.
**
Keesokan harinya, Nisa terbangun dan terkejut saat mengetahui kalo dirinya semalam tidur dikamar majikannya. Gadis itu sedikit takut saat mengetahui tubuhnya telah ditutupi selimut. Tak lama Herman keluar dari kamar mandi dengan tongkat jalannya berbalut kaos dan celana pendek. Rambutnya yang basah membuat Nisa tertegun melihatnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Herman.
Nisa hanya mengangguk.
"Hmm.. Om, apa yang Om lakukan semalam sama Nisa? Jangan bilang.."
Nisa tak melanjutkan perkataannya, ia ragu untuk mengatakannya. Herman pun tersenyum dan berjalan mendekati Nisa. Seketika Nisa memojokkan dirinya di sofa yang ia duduki, Herman duduk dan mendekat kearah Nisa. Pria itu menjitak kening Nisa dan berkata,
"Memang apa yang pikirkan? Jangan mikir aneh-aneh. Aku hanya memasangkan selimut."
Seketika pipi Nisa memerah dibuatnya. Tak lama ponsel Nisa berdering dan tertera nama Dokter Ridho. Karena penasaran, Herman pun melirik nama yang tertera di ponsel Nisa. Nisa pun memberikan kode untuk ijin mengangkat panggilan masuk dan Herman menganggukkan kepalanya.
"Ha.. halo, iya Dok." Sapa Nisa gugup karena Herman terus mengawasinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik, Dok. Kapan prakteknya dimulai, Dok? Ahh.. iya baik Dok, kalo begitu Terima kasih banyak." Ucap Nisa pada Dokter Ridho di seberang sana dan tak lama memutus panggilan teleponnya.
"Dokter Ridho? Apa kamu dekat sama Dokter Ridho?" tanya Herman heran.
"Ahh.. i.. itu, Om. Jadi gini salah satu teman aku mau magang, Nah dia tanya aku, apa aku punya kenalan dokter spesialis, yaudah aku kenalin deh Dokter Ridho. Dan Dokter Ridho ngabarin kalo minggu depan teman aku bisa ikut magang di Rumah Sakit tempat prakter Dokter Ridho." Jawab Nisa berbohong.
"Maaf ya Om, aku terpaksa bohong. Ini demi kebaikan, Om." Batin Nisa.
"Oiya Om, maaf banget Nisa mau ijin cuti seminggu untuk minggu depan boleh ya? Karena Nisa ada keperluan dirumah Nisa sekalian mau nengok Ibu sama Papa." tambah Nisa.
Herman berpikir sejenak. Bagaimana mungkin Dia bisa berpisah dari Nisa, sementara kini ia mulai merasa nyaman dengan perawatnya.
"Karena kamu enggak pernah ambil cuti, saya ijinkan kamu. Tapi hanya satu minggu ya." Jawab Herman.
"Hore.. Makasih banyak ya, Om." Ucap Nisa seraya memegang kedua angan Herman dan meletakkan di keningnya sebagai pertanda terima kasih.
Herman yang melihat kelakuan Nisa hanya tersenyum.
**
Selesai mandi, Nisa bergegas menuju kamar Herman tetapi tak sengaja ia menabrak Dennis saat keluar dari kamarnya. Beruntungnya Dennis dengan sigap menopang tubuh Nisa dan kini keduanya saling menatap satu sama lain.
"Enggak sepenuhnya salah kamu, Aku juga tadi buru-buru." Sahut Dennis.
Melihat Dennis, Nisa jadi teringat foto perempuan yang ia foto waktu itu.
"Hmm.. Mas Dennis, Nisa boleh ngobrol sebentar?" tanya Nisa.
"Boleh.Mau ngobrol dimana?" Jawab Dennis.
"Hmm.. Gimana kalo di taman belakang, Mas?" tanya Nisa.
Dennis hanya mengangguk dan berjalan mendahului Nisa ke arah taman belakang. Sesampainya disana mereka berdua duduk di kursi taman.
"Mas, kenal perempuan ini?" tanya Nisa seraya menyodorkan ponsel hasil jepretannya kearah Dennis.
"Dia.. Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya?" tanya Dennis balik.
Nisa pun menceritakan kronologi secara rinci. Dennis pun mendengarkan dengan seksama.
"Dia Mbak Lala, mantannya Mas Herman." Jawab Dennis.
__ADS_1
"Mantan? Bukannya mereka belum resmi bercerai?" tanya Nisa memastikan.
"Tapi bagiku mereka sudah bercerai sejak Mbak. Lala pergi dari rumah ini." Jawab Dennis.
Mendengar jawab Dennis, hati Nisa sedikit tersentuh. Gadis itu menepuk-nepuk bahu Dennis pelan.
"Enggak boleh bilang gitu, Mas. Gimana pun Mbak Lala masih istri sah Om Herman. Dan.. mereka akan segera bersatu." Ucap Nisa.
Sontak Dennis pun menoleh kearah Nisa.
"Bersatu? Maksudnya rujuk? Bagaimana bisa?" tanya Dennis heran.
"Iya sebentar lagi kan Om Herman sembuh dan Mbak Lala akan kembali ke rumah ini, dengan begitu mereka akan bersatu lagi kan." Jawab Nisa.
"Kamu yakin mau ngerelain Mas Herman balik lagi sama Mbak Lala?" tanya Dennis memastikan.
"Justru aku seneng banget Mas, mereka bisa bersatu." Jawab Nisa dengan ekspresi ceria padahal dalam hatinya ada perasaan sesak.
"Nis, aku tahu apa yang kamu rasain. Jangan bohongin diri kamu sendiri. Kamu ada perasaan kan sama Mas Herman?"
"Apaan sih Mas Dennis, ngaco ih.."
"Bisa dibilang aku ini peka lho sama perasaan seseorang."
"Udah Ahh.. Enggak Om Herman, enggak Mas Dennis sama-sama ngaco."
Nisa pun beranjak meninggalkan Dennis tetapi Dennis menarik lengan Nisa untuk menghentikan langkahnya.
"Kalo kamu perlu sandaran, kamu bisa cari aku. Aku bakal nemenin kamu kok." Ucap Dennis.
Nisa hanya dapat menatap Dennis dan tersenyum. Hatinya kacau saat ini.
***
**
Terima kasih atas dukungannya ❤
Jangan lupa klik favorit ya agar dapat notifikasi update episode terbaru 😊
Mohon bantuannya untuk klik Vote juga ya, mau isi kolom komentar juga boleh 😁
__ADS_1