
*WARNING...!!!!*
AREA 21+ (BOCIL DILARANG BACA EPISODE INI YAA...)
"Maafkan aku, Sayang." Ucap Herman seraya memegang pundak Nisa.
"Tolong tinggalin aku sendiri." Ucap Nisa lirih.
"Enggak, aku temenin ka.."
Yuyun pun menepuk pundak Herman seraya berkata, "Biarkan Nisa menenangkan dirinya dahulu."
Herman pun menghela napas dan menuruti ucapan Yuyun. Yuyun dan Herman pun beranjak pergi. Kini tinggal Nisa sendirian di ruangan dan ia menangis terisak seraya memegang perutnya.
...****************...
"Ram, Bolehkah aku tinggal di rumah kamu yang ada di German?" Tanya Rima.
"Kamu mau tinggal di German? Kenapa? Coba kamu ceritakan apa yang terjadi?" tanya Ramon balik.
"Aku enggak bisa cerita, Ram. Aku enggak mau kamu dan Papa dalam bahaya." Jawab Rima tertunduk.
"Rim, kita udah sahabatan lama. Aku akan bantu kamu, jangan khawatirin aku." Balas Ramon.
"Kalo kamu enggak ngijinin aku tinggal di rumah kamu, yaudah aku bisa kok sewa rumah di luar negeri." Ucap Rima dan beranjak dari meja makan.
"Astaga.. Masih aja bersikap kekanak-kanakan. Aku harus selidikin siapa yang udah buat kamu begini." Gumam Ramon.
"Halo Ram, bagaimana Rima apakah kamu berhasil cari tahu kenapa dia jadi begini?" Tanya Wijaya, Papa Rima.
"Eh Halo, Om." Balas Ramon seraya mencium tangan Wijaya.
"Maaf Om, saat ini saya belum mendapat informasi apapun. Saya akan segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Tambah Ramon.
"Baiklah, kalo kamu perlu sesuatu jangan sungkan kabarin Om. Anggap saja Om ini Papa kamu." Ucap Wijaya.
"Makasih, Om. Saya sudah menganggap Om seperti Papa kedua saya dan Rima seperti adik saya." Ucap Ramon.
Wijaya pun tertawa mendengar ucapan Ramon.
"Menganggapnya adik? Apa kamu tidak berniat menikahi anak saya?" tanya Wijaya.
Ramon pun tersenyum.
"Bagaimana mungkin kakak dan adik bisa menikah. Maaf Om, saya sudah ada calon." Jawab Ramon.
"Wahh.. syukurlah. Jangan lupa kenalin sama, Om ya." Sahut Wijaya.
"Pasti, Om. Oiya Ramon mau pamit karena ada pekerjaan yang belum diselesaikan." Ucap Ramon dan mencium tangan Wijaya.
"Sering-sering datang ya, Ram." Ucap Wijaya.
__ADS_1
Ramon pun mengangguk.
...****************...
Rima Pov..
Malam itu Rima datang ke sebuah pesta alumni sekolahnya. Banyak tamu yang hadir disana. Beberapa pasang mata sudah mengintainya. Semua orang tengah asyik menikmati hidangan yang tersaji.
Malam kian larut, suasana mulai tak teratur pasalnya para pemuda pemudi sudah mabuk termasuk Rima. Karena Rima sudah mulai sempoyongan, seorang pelayan menawarkan sebuah kamar khusus untuk tamu undangan.
Tanpa rasa curiga Rima menerima penawaran itu dan dibantu pelayan untuk berjalan ke kamar yang dimaksud. Sesampainya di kamar Rima terduduk di tepi ranjang untuk melepas sepatu yang ia kenakan, Tiba-tiba..
"Herman.." Ucap Rima tak percaya.
Pria itu pun berjalan mendekati Rima.
"Kamu juga datang ke pesta ini? Kenapa tidak bilang sama aku?" tanya Rima berdiri sejajar dengan Pria itu.
Pria yang dimaksud ialah Yudha, tetapi dalam pandangan Rima itu adalah sosok Herman. Yudha pun memegang dagu Rima dan
Cupp.. ciuman manis mendarat di bibirnya. Cukup lama ciuman itu berlangsung, Rima pun melepasnya.
"Apa sekarang kamu menyukaiku? Ceraikan perawat itu dan menikahlah denganku. Aku benar-benar menyukaimu." Ucap Rima.
Yudha pun hanya tersenyum dan kembali mencium Rima. Yudha menjatuhkan tubuh Rima dikasur dan melepas resleting baju wanita itu tanpa melepas ciumannya.
Malam panjang itu terjadi dan keduanya sama-sama melepas kesucian mereka di hari itu. Entah apa rencana Yudha tega melakukan ini kepada Rima yang bahkan tak mengingatnya siapa sosok Yudha di masa lalu.
Keesokan harinya..
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka, Yudha melangkah keluar seraya mengancingkan kemejanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Apa salahku?" tanya Rima dengan emosi.
Yudha pun menatap Rima dengan remeh dan berjalan beberapa langkah dari kamar mandi.
"Itu balasan untuk Nona sombong sepertimu. Aku hanya merenggut satu sesuatu berharga dalam dirimu, terima kasih untuk malam ini." Jawab Yudha.
Rima pun turun dari ranjang dengan berbalut selimut dan beranjak menghampiri Yudha yang telah berpakaian rapi.
Plakk...!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Yudha.
"Berani kamu padaku, lihat saja aku akan membalasmu." Ucap Rima emosi.
"Apa yang bisa Nona Rima lakukan padaku? Apa kamu akan mengadu pada Papa mu jika aku yang menidurimu? Katakan saja pada Pak Tua itu. Jika sampai kamu mengatakan padanya, maka aku akan mengirim Pak Tua bertemu dengan Almh. Ibumu." Ancam Yudha dan beranjak pergi meninggalkan Rima.
Seketika kakinya lemas, Rima pun terduduk di lantai kamar hotel itu.
__ADS_1
"Dasar cowok bre***k." Teriak Rima putus asa.
Diluar kamar, dua orang ajudan Yudha sudah menunggu.
"Kamu awasi setiap langkah wanita itu!" Perintah Yudha.
"Baik, Bos." Jawab mereka serentak.
"Apa ada kabar terbaru mengenai Nisa?" tanya Yudha.
"Saat ini Ibu Nisa tengah hamil. Dan calon anaknya akan menjadi anak pertama dari Herman Maulana." Jawab Seorang Ajudan.
"Apa Lala tidak pernah hamil sebelumnya?" tanya Yudha penasaran.
"Belum pernah, Bos. Menurut kabar yang saya terima, kalo Lala tidak akan bisa hamil." Jawab sang ajudan.
Yudha pun tersenyum menyerigai.
"Kamu sudah menyia-nyiakan lelaki yang baik, dasar wanita bodoh." Batin Yudha.
"Terus pantau keduanya. Jangan sampai ada yang menyakiti Wanita ku atau kamu akan kuhabisi." Perintah Yudha.
"Baik, Bos. Saya mengerti." Jawab Sang Ajudan.
"Kalo begitu kami pamit." Tambah Sang ajudan.
Yudha mengangguk dan kedua ajudan itu pun beranjak pergi meninggalkan Yudha.
"Herman Maulana, tunggu waktu yang tepat. Aku akan segera merebut Wanitaku dan menghancurkan bisnismu." Gumam Yudha.
...****************...
*BACK TO REALITY*...
Ramon mengerahkan beberapa ajudannya untuk mencari tahu alasan Rima berubah.
"Yudha Bagaskara? Apa dia dalang dibalik semua ini?" Tanya Ramon pada seseorang diseberang sana.
"Menurut informasi yang saya dapat begitu, Pak. Dan Nona Rima hanya pelampiasan balas dendam Yudha. Ada seorang wanita yang sedang dia incar." Ucap seorang di seberang telepon.
"Seorang wanita? Kamu sudah tahu siapa wanita itu" tanya Ramon cemas.
"Maaf Pak, saat ini saya belum mendapat informasi mengenai wanita itu. Info lebih lanjut saya kabarin Anda." Balas orang di telepon.
"Baik, terimakasih. Kamu pantau terus dia dan perketat keamanan untuk Nisa." Ucap Ramon.
"Baik, Pak." Jawab orang di telepon.
Ramon pun memutus panggilannya. Entah mengapa ia teringat pada Nisa. Ramon khawatir jika Nisa ialah wanita yang dimaksud.
...****************...
__ADS_1
Terimakasih ❤
Mohon bantu Like, Favoritkan dan Bintangnya yaa biar Author tambah semangat hehehe ❤