Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Undangan..


__ADS_3

"Ngomong-ngomong darimana Papa bisa tahu soal ini?" tanya Rima setelah melepas pelukannya.


"Maaf ya Rim, aku yang kasih tahu Om Wijaya." Sahut Ramon.


"Sudah kuduga, pasti kamu mengadu pada Papa." Celetuk Rima kesal.


"Jangan marah pada Ramon, tentu ini karena Papa yang memaksanya." Sahut Wijaya.


"Jadi Papa merestui pernikahanku dengan Herman kan?" tanya Rima seraya ikut duduk disamping Wijaya.


"Papa yakin ini bukan ulah Herman. Papa mengenal betul bagaimana keluarganya. Kedua Orang Tua Herman banyak membantu Papa. Makanya Papa dulu menerima keputusan yang dibuat Herman yaitu menikahi istrinya." Tutur Wijaya.


"Lalu maksud Papa, hasil tes DNA itu palsu?" tanya Rima.


"Kita harus selidiki lebih lanjut. Papa tidak mau asal menuduh." Jawab Wijaya.


"Papa, tentu ini anak Herman. Mana mungkin hasil tes DNA itu bisa dipalsu. Pokoknya Papa harus merestui pernikahanku dengan Herman." Rengek Rima.


"Rim, aku siap kok bertanggung jawab atas kehamilanmu. Tolong jangan memaksa keinginanmu." Ucap Ramon.


"Pokoknya aku mau Herman tetap bertanggung jawab atas anak ini." Ucap Rima dengan nada tinggi.


Rima pun beranjak meninggalkan ruang keluarga dan menutup rapat pintu kamarnya.


"Om, saya yakin bukan Pak Herman pelakunya." Ucap Ramon.


"Lalu menurut kamu siapa?" tanya Wijaya.

__ADS_1


"Yudha Bagaskara." Jawab Ramon.


"Yudha Bagaskara?" tanya Wijaya mencoba memastikan pendengarannya.


Ramon pun mengangguk. Wijaya mencoba mengingat nama yang tak asing baginya.


...****************...


BEBERAPA HARI KEMUDIAN...


Hubungan Nisa dan Herman sedang tak baik-baik saja. Pasalnya sejak kejadian itu, Nisa lebih memilih diam meski tetap melayani keperluan Herman seperti sarapan dan keperluan lain.


Tetapi di depan Yuyun dan orang-orang di sekitarnya Nisa berusaha untuk tetap bersikap harmonis. Meski pernikahannya mulai retak.


"Siang nanti aku akan ke pengadilan." Ucap Nisa dingin.


Uhukk..


"Bu.. buat apa?" tanya Herman setelah meneguk habis minumannya.


"Untuk mengurus perpisahan kita. Bukankah kamu tidak mau menceraikan aku? Jadi biar aku yang menceraikan, Mas." Jawab Nisa.


"Sayang, itu insiden enggak disengaja. Aku dijebak, tolong percaya sama aku." Ucap Herman seraya memegang salah satu tangan Nisa.


"Sengaja atau tidak, kamu sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas. Lalu untuk apa dipertahankan lagi. Kamu bisa hidup bahagia dengan Mbak Rima." Ucap Nisa seraya menarik tangannya.


"Dan kamu enggak akan bahagia sama aku. Dokter bilang kalo kemungkinan aku bisa hamil sangat kecil. Jadi ini jalan terbaik." Tambah Nisa.

__ADS_1


"Sayang, tolong jangan sampai kita bercerai ya. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini. Soal anak, aku tidak mempermasalahkan karena anak rejeki dari Tuhan." Ucap Herman seraya memeluk Nisa dari kursi belakang.


Ting.. Tong.. Ting.. Tong..


"Biar aku yang buka, Mas." Ucap Nisa seraya melepas pelukan Herman.


Nisa pun beranjak membuka pintu dan ternyata Ramon dan Rima yang berkunjung pagi ini.


"Pagi Nis, maaf ya ganggu pagi-pagi." Sapa Ramon.


"Enggak ganggu kok. Silahkan masuk." Sahut Nisa dan mempersilahkan para tamu duduk di sofa.


"Aku panggil Mas Herman dulu ya." Ucap Nisa.


Keduanya pun mengangguk. Tak lama Herman pun datang bersama dengan Nisa. Rima pun menyodorkan sebuah undangan kepada Herman.


Deg..


Seketika hati Nisa seperti tersayat.


"Rim, aku kan bilang kalo.. " Ucap Herman terpotong.


"Hei, ini pernikahanku jadi aku bebas dong undang siapa aja." Celetuk Rima kesal.


...****************...


Terimakasih untuk dukungannya selama ini ❤

__ADS_1


Menjelang detik-detik episode terakhir 😢



__ADS_2