
"Akhirnya aku menemukanmu." Ucap Herman masih memeluk Nisa.
"Perasaan apa ini? Kenapa pelukan ini tak asing bagiku? Kenapa sepertinya aku pernah merasakan ini sebelumnya? Tapi Dia kan Kakak Iparku. Bagaimana mungkin." batin Nisa.
Cukup lama pelukan itu berlangsung hingga Nisa merasa harus mengakhiri semua ini.
"Ma.. maaf, tapi bisa tolong lepaskan aku." Pinta Nisa gugup.
"Tidak. Aku ingin memeluk seperti ini terus dan selamanya." Ucap Herman.
Nisa pun berontak mencoba melepaskan pelukan Herman. Begitu ia berhasil lolos dari dekapan Herman, seketika gadis itu menampar pipi mulus Herman.
"Maaf ya Mas, aku menghormati Mas sebagai Kakak dari suamiku. Tolong jaga sikap, Mas." Ucap Nisa dengan nada tinggi.
"Suami? Apa Dennis?"
Herman tak percaya dengan apa yang baru saja Nisa ucapkan. Bagai guntur yang menyambar, ucapan itu lebih menyakitkan dibanding tamparan yang diberikan oleh Nisa tadi.
"Kapan Dennis menikahi Nisa? Kenapa Dia tidak memberitahuku dan Mama?" batin Herman.
"Tunggu Nis, ini pasti ada yang salah. Kamu ingat kan kalo kita akan menikah, kamu dan aku. Bukan kamu dan Dennis. Apa kamu lupa bagaimana aku selalu berusaha untuk dekat denganmu meski kamu menjauh dari aku? Tolong Nis, kamu ingat itu. Ini pasti ada kesalah pahaman." Ucap Herman.
Seketika beberapa memori Nisa berputar di hadapannya seperti layar TV yang memutar sebuah film. Tetapi tidak sepenuhnya Nisa berhasil mengingat hal itu.
"Aaakkhh.. " Pekik Nisa seraya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kamu kenapa, Nis?" tanya Herman panik.
"Apakah kamu mengingat sesuatu? Ini aku Om Herman." tambah Herman mencoba membuat Nisa mengingat kembali tentangnya.
Sayangnya Nisa tak berhasil mengingat satu pun darinya, yang ia tahu saat ini bahwa Herman adalah Kakak Ipar nya. Denyut di kepalanya semakin menyakitkan hingga akhirnya Nisa tak sadarkan diri. Herman bergegas membawa Nisa ke Rumah Sakit terdekat.
Sambil menunggu Nisa yang saat ini ditangani oleh Dokter, Herman mencoba menghubungi Dennis. Sengaja ia tidak memberitahu Yuyun, karena takut Mamanya jadi khawatir. Tak lama Dokter keluar dari ruang tindakan.
"Gimana Dok, keadaannya?" tanya Herman cemas.
"Saya minta tolong jangan membuat Ibu Nisa berpikir terlalu keras karena itu akan memperburuk keadaannya. Saat ini pasien sedang istirahat, kami sudah memberikan suntikan agar Ibu Nisa bisa jadi lebih tenang." Jawab Dokter.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada calon istri saya, Dok?" tanya Herman.
"Ibu Nisa saat ini mengalami amnesia." Jawab Dokter.
"Amnesia? Bagaimana bisa, Dok?"
"Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab amnesia." Jawab Dokter.
"Tapi apakah itu bisa disembuhkan, Dok?" tanya Herman.
"Bisa, tetapi harus pelan-pelan. Karena kalo memaksa pasien untuk mengingat semua, itu bisa berpengaruh pada kondisi pasien." Jawab Dokter.
"Kalo begitu, saya permisi dulu." Pamit Dokter.
"Apa yang terjadi selama ini, Nis? Kenapa bisa begini?" batin Herman.
Herman beranjak memasuki kamar Nisa dan duduk di samping ranjang pasien. Pria itu menatap Nisa nanar, tak tega dengan apa yang terjadi pada calon istrinya saat ini.
Sementara itu, mendengar kabar Nisa masuk Rumah Sakit Dennis langsung ijin dan segera memesan tiket pesawat.
__ADS_1
**
Menjelang sore Dennis baru tiba di Rumah Sakit dan bergegas menuju kamar Nisa sesuai instruksi Herman. Sesampainya di depan kamar, Dennis perlahan membuka pintu kamar itu dan melihat Herman masih duduk sambil memegang tangan Nisa.
"Nisa kenapa, Mas?" tanya Dennis mendekat kearah Herman.
Herman menatap Dennis dengan tatapan tajam.
"Ikut Aku!" Ucap Herman dengan nada tinggi seraya menarik tangan Dennis untuk keluar dari kamar.
"Apa betul kamu sudah menikah dengan Nisa?" tanya Herman dengan nada tinggi.
"Aku bisa jelasin, Mas." Jawab Dennis.
"Jawab pertanyaanku, Dennis." Bentak Herman.
Wajahnya mulai memerah karena emosi, tangan kanannya mulai mengepal mencoba menahan emosi.
"Nisa mengalami amnesia." Ucap Dennis.
"Aku tahu dan kamu memanfaatkan situasi ini dengan berpura-pura menjadi suaminya kan? Dasar licik." Celoteh Herman.
"Ini enggak seperti yang Mas pikirkan. Tolong kasih aku kesempatan buat jelasin semua." Pinta Dennis.
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang pecah dari dalam kamar Nisa. Sontak Dennis dan Herman pun bergegas masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat pecahan gelas berserakan dibawah ranjang.
"Sayang, maaf aku tidak sengaja menjatuhkan gelas." Ucap Nisa lirih.
Herman pun melangkah mendahului Dennis, tetapi seketika Nisa histeris saat menyadari kehadiran Herman.
"Jangan mendekat!" Ucap Nisa.
"Pergi, tolong kamu pergi dari sini! Jangan sentuh aku lagi." Teriak Nisa histeris dan memori kejadian tadi siang berputar kembali di otaknya.
p
"Mas, tolong turuti kata Nisa dahulu agar kondisinya tidak tambah parah." Celetuk Dennis.
Dengan kecewa Herman pun beranjak keluar dari kamar tersebut. Dengan perasaan bercampur aduk Herman menunggu di kursi tunggu.
Sementara Dennis memeluk Nisa, mencoba menenangkan kembali gadis itu.
"Tenang Sayang, aku sudah ada disini." Ucap Dennis seraya menepuk pelan bahu Nisa.
Perlahan Nisa kembali tenang, napasnya mulai teratur.
"Nah.. Sekarang coba cerita sama aku, apa yang Mas Herman lakukan tadi sama kamu?" tanya Dennis setelah melepas pelukannya.
"Dia memelukku dan berkata akhirnya aku menemukanmu. Aku tidak paham dengan maksud akhirnya aku menemukanmu, tetapi kemudian aku menamparnya karena dia kurang ajar padaku. Maafkan aku yang telah menampar Kakak ipar." Jawab Nisa dan tak terasa air matanya menetes.
Dennis kembali merangkul Nisa dan mencoba menenangkan gadis itu.
"Sudah sudah, tidak apa. Jangan menangis lagi, kamu sedang melindungi dirimu. Nanti aku akan meminta maaf kepada Mas Herman." Ucap Dennis.
"Aku juga akan meminta maaf padanya. Tolong temani aku." Sahut Nisa.
Dennis pun melepaskan rangkulannya, menatap Nisa seraya menghapus air matanya dan mengangguk dengan senyum.
__ADS_1
Nisa merasa sangat beruntung memiliki suami sebaik dan pengertian seperti Dennis. Entah bagaimana nanti jika ingatan Nisa pulih dan mengetahui kalo Dennis ternyata bukan suaminya.
Herman mengintip dari kaca kecil yang menempel di pintu kamar Nisa. Tampak Nisa dan Dennis tertawa satu sama lain, seperti melupakan seseorang yang kini menunggu di depan kamar. Herman memutuskan untuk beranjak pergi melewati lorong Rumah Sakit.
**
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Dennis.
"Saat ini kondisi Ibu Nisa sudah membaik dan besok Ibu Nisa sudah boleh pulang." Jawab Dokter
"Alhamdulillah.. Terima kasih, Dok." Sahut Dennis.
"Kalo begitu saya pamit dulu, permisi." Ucap sang Dokter dan beranjak meninggalkan kamar rawat Nisa.
Tak lama Herman datang dengan membawa sekantong plastik berisi roti dan minuman.
"Makanlah dulu." Ucap Herman seraya menyerahkan kantong plastik itu kepada Dennis.
"Terima kasih, Mas." Ucap Dennis dan menerimanya.
Suasana menjadi hening beberapa saat.
"Bagaimana keadaan Nisa? Apa kata Dokter tadi?" tanya Herman memecah keheningan.
"Nisa sudah membaik, Mas. Besok Nisa sudah diijinkan pulang." Jawab Dennis.
"Syukurlah kalo begitu. Lalu besok Nisa mau pulang ke rumah?" tanya Herman.
Nisa pun mengangguk dan menjawab,
"Aku akan pulang ke rumah suamiku."
Mendengar kata Suamiku, ada perasaan sesak yang memenuhi relung hati Herman. Bagaimana tidak, calon istrinya memanggil adik kandungnya dengan kata suamiku. Tetapi Herman mencoba tetap tenang menanggapinya.
"Apakah kamu tidak ingin tinggal selama beberapa hari di rumahku? Kebetulan Ibu mertuamu tinggal bersamaku." tanya Herman.
Dennis pun langsung menoleh kearah Herman.
"Ahh.. tidak, Mas. Akan lebih nyaman tinggal di rumah sendiri. Setelah aku sembuh, aku akan mampir untuk menemui Ibu mertua." Jawab Nisa.
"Suami kamu kan akan Dinas di luar kota, apa tidak sebaiknya kamu tinggal sementara bersama kami agar ada yang bisa mengawasimu?" Tanya Herman lagi mencoba merayu Nisa.
Dennis paham apa maksud perkataan Herman. Kakaknya sedang mencoba merayu Nisa untuk tinggal kembali di rumahnya dan tentunya kakaknya akan mencoba untuk mengingatkan Nisa akan memori masa lalunya. Apakah ia akan sanggup menerima kenyataan kalo Nisa sudah kembali dengan ingatannya?
Tetapi di sisi lain, Dennis juga tidak bisa selalu menjaga dan menemani Nisa lantaran pekerjaannya yang mengharuskan tinggal di luar kota. Kini hatinya bimbang dan takut.
Akankah Herman berhasil merayu Nisa untuk tinggal kembali di rumahnya?
***
Gambar hanya ilustrasi
**Terima kasih atas dukungannya ❤
Jangan lupa klik favorit ya agar dapat notifikasi update episode terbaru 😊
__ADS_1
Mohon bantuannya untuk klik LIKE, SHARE, DAN VOTE juga ya, mau isi kolom komentar juga boleh 😁**