
"I Love You Nisa Febriyani." Ucap Dennis seraya mengelus lembut rambut Nisa.
Mendengar ungkapan perasaan Dennis, Nisa pun hanya bisa membalas pelukan Dennis. Cukup lama mereka larut dalam pelukan hangat dan Nisa memberanikan diri untuk melepas pelukan Dennis.
"Aku harus bantu Mbak Dina di dapur." Ucap Nisa lirih.
Dennis pun mengangguk dengan senyum dan menatap kepergian Nisa hingga gadis itu hilang dari balik pintu.
*
Sementara itu di kamar Herman, Yuyun yang baru datang setelah dihubungi oleh Dina bergegas menuju kamar putra pertamanya.
"Apa betul kamu memukul adik kamu?" tanya Yuyun cemas.
"Aku hanya memberinya peringatan." Jawab Herman menatap kosong pandangan didepannya.
"Nak, cobalah berdamai dengan keadaan. Sesekali mengalah pada adikmu. Mengalah bukan berarti kamu kalah." Tutur Yuyun.
"Tapi dia sudah merebut sesuatu yang berharga dalam hidupku, Ma." Sahut Herman.
"Herman, kamu sudah dewasa. Disaat seperti ini seharusnya kamu tidak bersikap egois. Coba ikhlaskan, ini sudah jalannya Nak. Jangan memaksakan kehendak atau kamu akan merusak semuanya." Ucap Yuyun tenang.
Yuyun pun meraih tubuh anaknya dan memeluknya untuk menenangkan emosi Herman.
"Coba pikirkan dengan baik. Kalo kamu sudah bisa berdamai dengan keadaan, kamu bisa bergabung makan malam bersama kami di ruang makan." Ucap Yuyun seraya mengelus kepala Herman.
Setelah dirasa emosi Herman menurun, Yuyun pun melepas pelukan anaknya dan bangkit dari duduknya.
"Tolong pikirkan dengan baik ucapan Mama." Ucap Yuyun dan beranjak meninggalkan Herman.
Setelah dari kamar Herman, kini Yuyun beranjak menuju kamar Dennis. Tetapi sayangnya langkahnya terhenti ketika melihat Dennis tengah memeluk Nisa dan berkata,
"I Love You Nisa Febriyani."
Dari celah pintu kamar Dennis, Yuyun tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Dennis. Setelahnya Yuyun pun memutuskan pergi ke dapur membantu Dina menyiapkan makan malam.
**
"Eh Ibu, apa sudah lama disini?" tanya Nisa dan mencium tangan Yuyun.
"Baru saja kok." Jawab Yuyun dengan senyum.
"Bagaimana kondisi Dennis?" tanya Yuyun.
"Mas Dennis sudah baikan Bu, lukanya sudah diobati." Jawab Nisa seraya mengambil sayur di meja dan beranjak mencucinya di wastafel.
__ADS_1
"Terima kasih kamu sudah membantu merawat anak saya." Ucap Yuyun seraya menatap Nisa.
"Sudah kewajiban saya, Bu. Justru saya yang harus berterima kasih karena Ibu sudah mengijinkan saya tinggal disini." Balas Nisa dengan tersenyum.
Akhirnya Yuyun, Nisa dan Dina pun memasak dan menyiapkan makan malam bersama dan diselingi obrolan ringan.
**
Waktu makan malam pun tiba, Dennis sudah menunggu di meja makan. Tak lama Yuyun bersama Nisa berjalan membawa nampan berisi makanan dan menata rapi di meja makan. Setelah semua makanan tersaji di meja, Yuyun dan Nisa bergabung dengan Dennis di meja makan.
"Ahh yaa.. Sebaiknya aku memanggil Om Herman untuk segera bergabung makan malam." Ucap Nisa dan mencoba bangkit dari duduknya tetapi Yuyun mencegahnya.
"Tidak usah, Nak. Tadi Ibu sudah memberitahu Herman." Ucap Yuyun.
"Lebih baik kita makan malam terlebih dahulu." Tambah Yuyun.
Nisa pun hanya mengangguk. Mereka bertiga pun menikmati makan malam bersama dan diselingi dengan obrolan ringan.
"Ma, setelah ini aku mau mengajak Nisa pergi untuk belanja beberapa keperluan pernikahan. Apa Mama mau ikut?" tanya Dennis.
Yuyun hanya menggeleng.
"Mama tidak mau mengganggu calon pengantin." Goda Yuyun.
Mendengar itu Dennis pun tersenyum malu.
"Wahh.. Sepertinya aku ketinggalan obrolan seru malam ini." Ucap Herman mencoba mencairkan suasana.
Karena terbiasa melayani Herman, Nisa pun berniat untuk menyendokkan nasi untuk Herman. Namun Herman memberinya kode untuk menghentikan langkahnya.
"Mulai sekarang jangan melayaniku lagi. Aku tidak mau merepotkan calon adik iparku lagi." Ucap Herman.
Mendengar hal itu Dennis pun terkejut dan langsung menoleh ke Herman, begitupun dengan Nisa. Sementara Yuyun hanya tersenyum.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apakah aku salah bicara?" tanya Herman seraya menyendokkan nasi dan memindahkan ke piringnya.
"Terima kasih, Mas." Ucap Dennis haru.
"Sudah kalian berdua sebaiknya segera berangkat, bukankah kalian mau pergi. Jangan mengangguku dan Mama yang lagi pengen berdua." Ucap Herman.
Dennis yang duduk di samping Herman langsung merangkul Kakak satu-satunya itu dengan sangat bahagia.
"Terima kasih, Mas." Ucap Dennis sekali lagi.
Herman pun membalas dengan anggukan dan senyuman. Kemudian kedua calon pengantin itu pun berpamitan dan beranjak meninggalkan meja makan.
__ADS_1
**
Dalam perjalanan suasana hening terasa. Nisa menatap kosong jalanan di depannya dari dalam mobil Dennis.
"Kita harus datang ke toko apa dulu ya?" tanya Dennis memecah keheningan seraya melirik kearah Nisa.
Namun gadis disampingnya hanya terdiam dengan tatapan kosong. Dennis berinisiatif untuk menepikan mobilnya dan mengecek keadaan Nisa. Setelah mobil menepi, Dennis menatap Nisa dengan seksama selama beberapa saat.
"Nis." Panggil Dennis seraya memegang bahu Nisa.
"Eh.. I..iya gimana,Mas? kita udah sampai ya, Mas?" Sahut Nisa terkejut dan menoleh kearah Dennis.
"Kita belum sampai. Kamu kenapa ngelamun? Ada sesuatu yang mau kamu omongin?" tanya Dennis.
Nisa hanya terdiam menatap Dennis.
"Sebentar lagi kita kan menikah, jadi kamu bisa lebih terbuka sama aku. Masalah kamu itu masalah aku juga, karena setelah menikah enggak ada kata kamu atau aku sendiri. Yang ada itu kita." Tambah Dennis seraya menggenggam tangan Nisa.
Nisa pun tersenyum dan hatinya merasa tenang mendengar ucapan Dennis. Sorot mata Pria didepannya saat ini terpancar ketulusan untuk dirinya.
"Hm.. Mas, sebelum kita menikah Nisa mau satu permintaan." Ucap Nisa.
"Coba katakan apa itu." Sahut Dennis.
"Kita harus menemui Ibu dan Papaku di Surabaya. Nisa belum memberitahu soal rencana pernikahan kita." Balas Nisa.
"Tentu saja. Rencananya besok aku mau ngajak kamu kesana. Niatnya mau buat surprise gitu buat kamu hehe.. Eh ternyata kamu bisa membaca rencanaku." Ucap Dennis diikuti tawanya yang renyah.
"Makasih, Mas." Ucap Nisa seraya membalas genggaman Dennis.
Dennis pun membalas dengan senyum manisnya yang menunjukkan kedua lesung pipinya. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sebuah pusat perbelanjaan.
*
Sementara Herman masih asyik menikmati makan malam bersama Yuyun di meja makan.
"Terima kasih untuk keputusan yang sudah kamu ambil." Ucap Yuyun seraya memegang bahu putranya dan mengelusnya pelan.
"Mama enggak usah berterima kasih. Dennis berhak bahagia." Ucap Herman dan kembali menikmati makanannya.
"Setelah pesta pernikahan aku akan tinggal di luar negeri, Ma." Tambah Herman.
"Apakah kamu sudah memikirkan dengan matang? Apa kamu tidak mau tinggal dengan Mama di rumah lama kita?" tanya Yuyun khawatir.
"Aku sudah memikirkan dengan matang, Ma. Awalnya pasti akan sulit, Ma. Tetapi setelah aku sudah benar-benar mengikhlaskan semuanya aku akan kembali ke rumah ini." Jawab Herman.
__ADS_1
**
Terima kasih ❤