
*AREA 21+*
MOHON MAAF BOCIL DILARANG MEMBACA CERITA YAA..
TERIMA KASIH 🙏
"Apa? Belum ada kabar sama sekali? Aku enggak mau tahu, kerahkan semua tim kamu untuk mencari keberadaan Nisa sekarang." Ucap Herman dengan emosi dan memutuskan panggilan itu.
Sudah 1 bulan Herman mencari keberadaan Nisa tetapi tak kunjung membuahkan hasil hingga acara perjodohannya dibatalkan. Herman kini telah resmi bercerai dari Lala dan ia juga telah memberitahukan kepada Yuyun mengenai perasaannya kepada Nisa, tetapi ia tidak menceritakan itulah alasan perjodohan Herman dan Rima dibatalkan.
Yuyun prihatin dengan kondisi Herman saat ini. Lagi, hidup anaknya berantakan karena seorang perempuan. Tetapi kali ini lebih memprihatinkan ketimbang kepergian Lala.
"Ini sudah malam, Nak. Sebaiknya kamu istirahat dahulu. Pencarian Nisa besok dilanjut lagi. Kamu juga harus memikirkan kondisi kamu. Mama enggak mau nanti kamu sakit lagi." Ucap Yuyun cemas.
Herman pun mengangguk dan bergegas beranjak menuju kamar.
**
Keesokan harinya, sesampainya di Apartemen Dennis, kedatangan Nisa disambut hangat oleh Bi Surti dan Bi Ola.
"Selamat datang di rumah, Non." Ucap Bi Surti.
"Terima kasih, Bi." Balas Nisa seraya memeluk Bi Surti.
"Wahh.. istri Den Dennis ternyata cantik sekali." Celetuk Bi Ola.
"Terima kasih, Bi." Balas Nisa dan kini memeluk Bi Ola.
"Oiya, maaf aku lupa nama kalian. Boleh kita berkenalan lagi?" tanya Nisa ramah seraya mengulurkan tangannya kearah Bi Surti.
"Boleh, Non. Kan memang kita belum pernah kenalan." Celetuk Bi Ola.
Sontak Bi Surti pun menyenggol lengan Bi Ola seakan memberikan isyarat.
"Eh, maksudnya kan Non Nisa pengantin baru dan menjadi keluarga baru di rumah ini jadi kita belum sempat kenalan." Sahut Bi Surti mencoba menghilangkan kecurigaan Nisa.
"Saya Bi Surti, Non." Tambah Bi Surti seraya menjabat tangan Nisa.
"Saya Nisa, Bi." Ucap Nisa.
"Saya Bi Ola, Non." Ganti kini Bi Ola yang menjabat tangan Nisa.
"Saya Nisa, Bi." Ucap Nisa.
"Makanannya sudah siap, Bi?" tanya Dennis.
"Sudah Aden, mari silahkan menikmati." Jawab Bi Surti seraya berjalan menuju meja makan.
"Terima kasih, Bi." Ucap Dennis.
Dennis dan Nisa pun menikmati makan siang berdua. Nisa juga menyuapi Dennis hingga makanan di piringnya habis.
"Kamu cuma makan sedikit?" tanya Dennis.
__ADS_1
"Enggak. Aku makan banyak kok." jawab Nisa.
"Setelah ini boleh aku istirahat di kamar?" tanya Nisa.
"Boleh dong, Sayang." Jawab Dennis.
Setelah menikmati makan siang, Dennis pun mengantarkan Nisa ke kamarnya yang sebenarnya merupakan kamar Dennis.
"Ini kamar kamu." Celetuk Dennis saat telah memasuki kamarnya.
"Maksud kamu kamar kita berdua?" tanya Nisa.
Hampir saja Dennis lupa kalo sekarang Nisa menganggapnya sebagai suami.
"Ahh iyaa.. ini kamar kita." Jawab Dennis.
Nisa memandangi seluruh isi kamar Dennis hingga pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto berukuran sedang yang terpajang di atas meja dekat ranjangnya. Nisa berjalan mendekat dan mengambil bingkai itu. Tampak 2 orang Pria dengan wajah hampir mirip dengan tertawa bahagia.
"Dia siapa?" tanya Nisa.
Dennis terkejut dengan pertanyaan Nisa. Apakah Nisa juga tidak ingat siapa Mas Herman? batin Dennis.
"Sepertinya aku mengenal, tapi dimana ya?" tambah Nisa dan mulai mencoba mengingatnya, tetapi sayangnya..
"Aduh, kepalaku." Pekik Nisa sambil memegangi kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dennis cemas.
"Aku mencoba mengingat siapa pria ini, tetapi kepalaku jadi sakit saat mencoba mengingatnya." Jawab Nisa.
"Dia Kakakku." Ucap Dennis mengambil bingkai foto itu dari tangan Nisa.
"Sekarang kamu istirahat ya." Ucap Dennis.
"Oh pantas aku merasa seperti mengenalnya." Celetuk Nisa.
Dennis pun tersenyum mendengar jawaban Nisa. Hatinya merasa sesak entah mengapa.
"Kamu mau kemana?" tanya Nisa saat melihat Dennis hendak beranjak.
"Apakah kamu takut di kamar sendiri?" goda Dennis.
Nisa pun mengangguk dan tersenyum. Dennis pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar lain. Akhirnya dia ikut naik dan tidur disamping Nisa. Gadis itu kembali memeluk Dennis seperti di malam di Rumah Sakit.
"Aku pasti akan merindukanmu saat kamu pergi Dinas di luar kota." Ucap Nisa seraya mengelus dada bidang Dennis.
"Apa kamu masih ingat pekerjaanku?" tanya Dennis.
"Bagaimana aku bisa lupa pekerjaan, suamiku." Jawab Nisa.
"Andai saja ini kenyataan, andai saja kita benar sepasang suami istri." batin Dennis.
"Sayang, apakah aku boleh.. "
__ADS_1
Nisa tak melanjutkan kalimatnya, tetapi tangannya menggoda dengan memainkan kancing kemeja Dennis.
"Kenapa, Sayang?" tanya Dennis masih belum paham dengan kode Nisa.
Nisa menatap Dennis dan mencoba mendekatkan wajahnya ke Dennis. Namun Dennis hanya mengernyit bingung.
"Apa, Sa.."
Belum juga Dennis melanjutkan kalimatnya, tetapi Nisa mendahului mencium bibir Dennis.
Dennis pun sempat terkejut meski akhirnya ikut terhanyut dalam ciuman itu. Nisa melepas ciumannya dan berpindah posisi menjadi duduk. Gadis itu juga melepas baju yang ia kenakan dan kini menampakkan kaos singlet dengan bahan tipis. Dennis pun menyusul duduk, mendekati Nisa dan merangkulkan tangannya ke perut Nisa.
Perlahan Dennis mulain mencium tengkuk Nisa, membuat gadis itu mendesir perlahan. Dennis mulai menurunkan tali kaos singlet Nisa secara perlahan.
Tok.. tok.. tok.. Sebuah ketukan pintu terpaksa menghentikan aktivitas keduanya. Dennis pun memasangkan selimut ke tubuh Nisa dan beranjak berjalan kearah pintu. Tampak Bi Surti berdiri di depan pintu dengan wajah cemas.
"Iya, Bi. Ada apa ya?" tanya Dennis.
Bi Surti sedikit terkejut dengan penampilan Dennis yang berantakan.
"Aden, enggak apa-apa?" tanya Bi Surti.
"Ahh.. memangnya saya kelihatan sakit, Bi?" tanya Dennis balik.
Bi Surti mencoba mengintip ke dalam kamar Dennis dan melihat Nisa tertidur pulas berbalut selimut putih.
"Non Nisa tidur ya, Den?" tanya Bi Surti.
Sontak Dennis pun menoleh kearah Nisa yang berpura-pura tertidur.
"Ahh iya Bi, kata Dokter Nisa harus banyak istirahat." Jawab Dennis gugup.
"Bibi minta tolong ya sama Aden. Tolong jangan apa-apain Non Nisa sebelum kalian sah menjadi suami istri." tutur Bi Surti.
Dennis hanya mengangguk. Hampir saja dia menodai Nisa sebelum sah.
"Aku harus mengurus surat pernikahan dengan Nisa, sebelum hal ini kembali terjadi." batin Dennis.
"Eh ya, Bibi ada apa ke kamar saya?" tanya Dennis mengalihkan pembicaraan.
"Tadi Nyonya telepon Den, cari Aden. Kata Nyonya coba menghubungi nomor Aden tetapi enggak diangkat makanya langsung telepon ke nomor rumah. Nyonya khawatir sama Aden." Jawab Bi Surti.
"Baik Bi, Terima kasih. Saya akan telepon Mama langsung." Ucap Dennis.
"Baik, kalo begitu saya permisi ya." Pamit Bi Surti.
Dennis pun mengangguk dan ia berjalan keluar dari kamar, berusaha menutup pintu sepelan mungkin.
"Kenapa Mas Dennis malah pergi? Apa terjadi sesuatu?" gumam Nisa dari balik selimut.
***
Terima kasih atas dukungannya ❤
__ADS_1
Jangan lupa klik favorit ya agar dapat notifikasi update episode terbaru 😊
Mohon bantuannya untuk klik LIKE, SHARE, DAN VOTE juga ya, mau isi kolom komentar juga boleh 😁