
Sesampainya di lobby Rumah Sakit, Dennis bergegas menghubungi Yuyun.
"Ha.. Halo, Ma. Mas Herman ada di ruang mana ya?" tanya Dennis seraya berjalan di lorong Rumah Sakit dengan menarik tangan Nisa.
"Oke Oke, Mama tolong tenang dulu ya. Ini kami sedang otw kesana." Ucap Dennis.
Tak hanya Dennis, tetapi Nisa juga ikut cemas. Perasaannya bercampur aduk saat ini. Tak lama keduanya berhenti di depan kamar bertuliskan "Kamar Jasmine". Dennis perlahan membuka pintu kamar itu dan terlihat Yuyun duduk di sofa sembari menatap Herman yang terbaring di ranjang Rumah Sakit.
"Mama.. " Sapa Dennis dan bergegas menghampiri Yuyun dan memeluk perempuan yang telah melahirkannya.
"Kakak kamu.. " Yuyun menatap Dennis dan tak terasa air matanya kembali menetes.
"Keadaannya lemah, tadi pagi Kakakmu histeris di kamar mandi lalu dia menangis sambil peluk Mama setelahnya dia pingsan. Mama panik jadi membawa Kakak kamu kesini." Tambah Yuyun dan terisak tertunduk.
Dennis menoleh kearah Nisa dan menatapnya sesaat. Wajah tedunya sedikit menenangkan perasaannya saat ini.
"Sayang, boleh tolong belikan aku air minum di kantin Rumah Sakit ini." Ucap Dennis seraya memberikan selembar uang pada Nisa.
Nisa pun mengangguk dan menerima uang itu. Tak lama Nisa bergegas menuju kantin Rumah Sakit sesuai permintaan Dennis. Cukup lama Nisa mencari-cari arah kantin Rumah Sakit yang luas itu akhirnya berdasarkan petunjuk security ia berhasil menemukannya.
Setelah berhasil mendapatkan barang pesanan yang diminta Dennis juga ia membeli beberapa buah roti, Nisa kembali ke kamar tempat Herman dirawat. Tanpa sengaja dilorong Rumah Sakit ia berpapasan dengan Rima.
"Hei, kebetulan kita bertemu disini." Sapa Rima seraya menarik lengan Nisa.
"Ha.. Halo, Mbak." Sapa Nisa terbata.
Hatinya merasa tidak enak ketika melihat tatapan Rima padanya. Sepertinya perempuan di depan ini siap menerkamnya.
"Pasti ini semua karena kamu kan sampai calon suami aku masuk Rumah Sakit." Ucap Rima dengan nada tinggi seraya menuntun tubuh Nisa berjalan mundur hingga tubuh Nisa menabrak dinding Rumah Sakit.
"Apa yang sudah kamu lakuin sama calon suamiku. Cepat Jawab." Ucap Rima sedikit berteriak.
"A.. apa maksud, Mbak?" tanya Nisa bingung.
"Jangan pura-pura enggak tahu ya. Kamu pasti udah guna-guna calon suamiku ya sampai dia bisa kepincut sama kamu." Jawab Rima seraya menarik rambut Nisa.
"Aww.. Mbak to.. tolong hentikan." Ucap Nisa kesakitan.
__ADS_1
"Enggak, aku enggak akan hentikan sampai kamu mengakui sebenarnya." Sahut Rima.
"Aa.. apa yang harus aku akui Mbak?" tanya Nisa.
Karena geram dengan sifat polos Nisa, Rima pun kembali menarik rambut Nisa dan sengaja membenturkan kening Nisa ke tembok beberapa kali hingga membuat Nisa jatuh pingsan dengan darah segar keluar dari keningnya.
"Ini baru permulaan, dasar pembantu tidak tahu diri." Ucap Rima lirih dan beranjak meninggalkan lorong yang sepi itu.
*
Sementara itu, diwaktu yang bersamaan.
"Nisa.. Nis.. Tolong kembalilah.. " Racau Herman yang mengagetkan Dennis dan Yuyun yang masih setia berada di ruangan itu.
"Sayang.. " Ucap Yuyun dan beranjak menghampiri putranya yang masih terpejam.
Begitupun dengan Dennis yang juga mengekor pada Yuyun kemudian ia memencet tombol panggilan.
"Herman, ayo bangun. Ini Mama, Nak. Bangunlah Sayang.. " Ucap Yuyun mencoba menyadarkan putranya, namun Herman masih meracau memanggil nama Nisa.
Tak lama seorang dokter bersama perawat datang untuk memeriksa kondisi Herman. Setelahnya Herman kembali tertidur tenang setelah dokter menyuntikkan sebuah cairan.
"A.. ada, Dok. Memangnya kenapa dengan putra saya, Dok?" Jawab Yuyun.
"Sebaiknya saudari Nisa segera dipanggil kesini karena hal ini bisa memicu kesembuhan pasien." Balas Dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih." Ucap Yuyun.
"Kalo begitu saya permisi dulu." Ucap Dokter.
"Terima kasih, Dok." Ucap Yuyun dan Dennis bersamaan.
Dokter pun mengangguk dan beranjak pergi diikuti seorang perawat dibelakangnya.
"Ma, kalo gitu aku cari Nisa dulu ya." Pamit Dennis.
Yuyun pun mengangguk dan duduk di kursi dekat ranjang Herman. Pandangannya cemas menatap putranya terbaring disana.
__ADS_1
*
"Nisa kemana ya? Udah sejam kenapa belum kembali juga? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dennis cemas dan terus melangkah mencari sosok Nisa.
Sementara Nisa mulai sadar dari pingsannya tetapi darah segar masih menetes dari keningnya. Ia merasakan kepalanya pusing sangat, namun perlahan ia mencoba bangkit. Ia teringat jika harus segera kembali ke kamar Herman.
"Nisa!" Panggil seseorang yang membuat Nisa akhirnya menoleh.
"Nisa, ya Allah kamu kenapa bisa berdarah gini? Siapa yang ngelukain kamu?" tanya Dennis cemas saat sudah berada di dekat Nisa.
"Ma.. Mas Dennis, ini tadi Nisa cuma jatuh kok." Jawab Nisa lirih.
"Jatuh? Kok bisa sampai gini? Yakin enggak ada yang nyakitin kamu?" tanya Dennis curiga.
"Iya Mas, ini cuma jatuh. Mas Dennis jangan cemasin aku. Sebentar lagi juga sembuh kok." Jawab Nisa.
"Ayo kita obati dulu luka kamu." Ucap Dennis seraya menarik tangan Nisa pelan dan beranjak menuju ruang IGD.
*
Setelah keningnya terbalut rapi dengan perban dan dokter juga telah memberikan resep obat, kini Dennis dan Nisa tengah menunggu antrian obat di apotek.
"Apakah Om Herman sudah sadar, Mas?" tanya Nisa yang cukup membuat Dennis terkejut.
"O.. Om? Apa ingatan Nisa sudah kembali?" Batin Dennis.
"Nis, apa ingatan kamu sudah kembali?" tanya Dennis.
"Ingatan? Memangnya aku pikun? Hehe Mas Dennis ngaco ahh.. " Sahut Nisa.
"A.. Apa kamu ingat siapa aku?" tanya Dennis memastikan.
"Ya ingatlah, Mas. Mas kan Mas Dennis adiknya Om Herman majikan aku dan Mas juga seorang tentara." Jawab Nisa.
Deg.. Bagai disambar petir, Dennis terkejut ingatan Nisa kini telah kembali. Impian membangun masa depan dan rencana untuk menikah dengan gadis pujaan seketika diujung tanduk. Dennis tidak mengerti apakah dia harus senang atau sedih karena ingatan Nisa telah kembali.
**
__ADS_1
Author Terima kasih sekali sudah menyempatkan mampir untuk membaca cerita ini, jangan lupa like, share dan favoritkan cerita ini ya agar tidak ketinggalan episode terbaru
Mau komen juga boleh, Terima kasih 🙏😊