
FLASHBACK..
Herman dan Rima datang bersamaan sore itu di Rumah Sakit Harapan untuk mengetahui hasil tes DNA beberapa hari lalu.
Setelah seorang perawat memberikan hasil tes nya bergegas Herman membukanya, Rima ikut menyimak dengan perasaan khawatir. Herman menuruti saran dari Ramon untuk melakukan tes DNA.
"Ini pasti ada kesalahan." Celetuk Herman tak percaya.
"Apa yang salah? Kamu lihat sendiri kan waktu pemeriksaan aku selalu bersama kamu." Ketus Rima seraya melipat kedua tangannya.
Herman pun terduduk di kursi dan meremas rambutnya kasar. Pikirannya kacau.
"Jadi kapan Tuan Herman Maulana akan menikahiku?" tanya Rima.
Herman pun tak menjawab dan beranjak pergi meninggalkan Rima sendiri. Rima pun hanya menatap tajam kearah Herman.
Tanpa sadar sepasang mata sedari tadi mendengar Perbedebatan Herman dan Rima.
Tess..
"Semoga dugaanku salah." Batin Nisa seraya menghapus air matanya.
...****************...
Sejak kejadian itu, Nisa selalu mengamati gerak-gerik Herman dan ia mengetahui jika hari ini suaminya memiliki janji temu dengan Ramon.
"Jadi ada apa Pak Herman, mengajak saya bertemu?" tanya Ramon heran.
"Hasil Tes DNA nya positif, Pak." Jawab Herman tertunduk lemah.
Ramon pun terkejut dengan jawaban Herman. Suasana pun mulai hening.
"Rima positif mengandung anak saya." Tambah Herman tertunduk.
__ADS_1
Deg..
Bagai disambar petir Nisa pun sama terkejutnya dengan Ramon. Nisa sengaja mengikuti Herman diam-diam dan kini mengambil tempat duduk di belakang Herman dengan mengenakan kacamata hitam.
"Jadi benar Rima tengah hamil anak Mas Herman." Batin Nisa tersayat.
Ia teringat ucapan dokter kala itu jika ia akan sulit untuk hamil lagi. Pasalnya di waktu bersamaan dengan Herman mengambil tes DNA nya, Nisa juga tengah kontrol rutin untuk program hamilnya.
"Biar aku yang akan bertanggung jawab, Pak Herman. Aku akan menikahi Rima." Ucap Ramon.
"Tidak Mas Ramon, biarkan Mas Herman yang bertanggung jawab." Ucap Nisa seraya berjalan menghampiri meja Herman.
Sontak kedua pria itu terkejut.
"Aku bisa jelasin ini semua." Ucap Herman seraya berdiri dari duduknya.
"Kita bisa selesaikan di rumah, Mas. Sebaiknya kalian lanjutkan saja." Ucap Nisa dan beranjak pergi.
"Maaf Pak, saya harus mengejar istri saya." Ucap Herman dan dibalas anggukan oleh Ramon.
"Mari pulang bersama." Ucap Herman.
Nisa pun menuruti suaminya dan mengikuti langkah Herman. Suasana di mobil hening, Nisa hanya menatap kosong jalanan di depannya.
"Maafkan Aku." Ucap Herman memecah keheningan.
"Kita bisa bicarakan di rumah. Mas, fokus saja menyetir." Sahut Nisa dingin tanpa menoleh kearah Herman.
Herman pun menghela napas panjang dan menuruti ucapan Nisa.
Sesampainya di rumah..
Nisa pun turun dari mobil mendahului Herman dan bergegas menuju kamar. Herman menyusulnya dibelakang.
__ADS_1
"Jadi kenapa Mas, mengkhianati pernikahan kita?" tanya Nisa yang kini sudah duduk di tepi ranjang seraya menatap Herman tajam.
"Maafkan Aku, Sayang. Aku sama sekali enggak berniat berkhianat tetapi ada yang sengaja menjebak aku." Jawab Herman.
Herman pun menceritakan kejadian sebenarnya kepada Nisa.
...****************...
DI RUMAH KELUARGA WIJAYA
"Kenapa hal sebesar ini kamu tidak menceritakan semuanya sama Papa?" tanya Wijaya dengan emosi.
"Ma.. maafkan aku, Pa. Aku ingin menceritakan semuanya nanti saat Ayah dari bayiku bertanggung jawab." Jawab Rima tertunduk.
"Astaga.. Kamu tidak pernah menganggap Papamu ini ada ya? Apapun yang terjadi, Papa ingin tahu soal kamu. Papa benar-benar kecewa sama kamu!" Celoteh Wijaya penuh amarah.
"Jangan pendam masalahmu sendiri. Papa bisa membantumu." Tambah Wijaya mencoba mengatur napasnya.
"Ta.. tapi Pa, aku tidak bisa menceritakan masalah satu ini kepada Papa karena orang itu akan mencelakai Papa." Jelas Rima.
Tiba-tiba suara tawa sumbang Wijaya pun pecah membuat Rima dan Ramon menatap Wijaya heran.
"Siapa yang akan bisa mencelakai Papamu ini. Hei, apa kamu lupa jika Papa punya banyak gangster? Nak, Papa tidak takut jika harus mengorbankan nyawa Papa untukmu yang terpenting Papa tidak ingin Putri kesayanganku ini menderita." Tutur Wijaya.
Sontak Rima memeluk Wijaya dan menjatuhkan air matanya di pundak sang Papa layaknya anak kecil yang mengadu pada Papanya.
Ramon pun ikut terharu dengan suasana saat itu.
...****************...
Maaf baru update yakk...
__ADS_1
mohon bantu like, komen dan votenya, makasih ❤