
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya seorang apoteker.
"Saya mau obat sakit kepala." Jawab Ramon.
"Baik, sebentar ya." Ucap si apoteker.
"Mas Ramon." Sapa Nisa.
Sontak Ramon pun menoleh ke asal suara.
"Eh kamu di apotek juga?" tanya Ramon.
"Haha.. iya nih Mas, beli beberapa obat nih buat Mas Herman." Jawab Nisa.
Ramon pun menoleh ke meja kasir dimana terdapat beberapa obat dan sebuah testpack.
"Pak Herman sakit?" tanya Ramon.
"Iya, tadi sepulang dari kantor badannya demam." Jawab Nisa.
"Totalnya Rp 210.000, Mbak." Ucap salah seorang apoteker yang berjaga di kasir.
"Eh biar aku aja yang bayar sekalian sama punyaku." Sahut Ramon seraya menyodorkan sebuah kartu debit.
"Eh jangan.. "
"Enggak apa-apa, Nis. Santai aja."
"Mbak, tolong ditambahkan sama obat saya ya."
Si apoteker pun mengangguk.
Diluar apotek, keduanya terlibat obrolan ringan.
"Kamu naik apa kesini?" tanya Ramon.
"Naik ojek online. Setelah ini aku pesan kok." Jawab Nisa.
"Biar aku antar aja. Ini udah malam, lagian aku juga ada arah kesana." Sahut Ramon.
__ADS_1
"Waduh.. aku ngerepotin Mas Ramon lagi." Celetuk Nisa.
"Apa sih kamu Nis, aku enggak merasa direpotin kok." Sahut Ramon.
"Makasih ya, Mas." Ucap Nisa diiringi senyum.
Ramon pun mengangguk. Ramon membukakan pintu mobil depan untuk Nisa. Setelahnya ia menyusul masuk ke sisi lain. Mobil Ramon beranjak menuju keramaian kota.
"Siapa yang sakit, Mas?" tanya Nisa memecah keheningan.
"Ahh itu cuma beli buat stok aja kok." Jawab Ramon.
Sebenarnya setelah obrolan dengan Rima, mendadak kepala Ramon pusing memikirkan masalah itu. Jadi ia memutuskan pergi ke Apotek untuk membeli obat pereda pusing.
Tanpa sengaja ternyata bertemu dengan Nisa. Entah mengapa sekarang pusing di kepalanya hilang setelah bertemu dengan Nisa.
"Oh gitu." Ucap Nisa seraya manggut-manggut.
"Hmm.. Apa kamu hamil lagi, Nis?" tanya Ramon seraya menoleh sesaat kearah Nisa.
"Belum sih, Mas. Tapi enggak ada salahnya aku sedia testpack di rumah. Karena aku dan Mas Herman juga sedang proses program hamil." Jawab Nisa.
Deg..
"Bagaimana kalo kamu tahu jika suamimu menghamili wanita lain, Nis? Semoga Rima mengurungkan niatnya." Batin Ramon.
"Mas Ramon kapan nih nikah?" tanya Nisa membuyarkan lamunan Ramon.
"Haha.. Aku belum kepikiran soal itu. Lagi sibuk-sibuknya ngurusin kerjaan." Jawab Ramon asal.
"Waduh.. Jangan kerja terus dong, Mas. Nanti keburu stok wanita single habis lho." Sahut Nisa.
"Ya gampangnya, kalo stok wanita habis tinggal aku menikahimu saja." Celetuk Ramon asal.
"Astaga.. Aku sudah bersuami, jangan bicara seenaknya ya." Ucap Nisa seraya melipat kedua tangannya didada seolah marah kepada Ramon tetapi sebenarnya tidak.
"Hahaha.. Tentu aku akan menunggu jandamu dan mengajakmu menikah." Sahut Ramon diikuti tawa.
Deg...
__ADS_1
"Ngomong apa sih kamu, Ram. Bodoh!" Umpat Ramon dalam hati seraya melirik Nisa yang masih menatapnya kesal.
"Udah ya Mas Ram, dari SMA sampai sekarang kamu masih aja bercanda ngajak aku nikah. Pliss ya, udah saatnya Mas nikah beneran. Kita udah dewasa dan bercandaan kayak gini enggak lucu." Celetuk Nisa.
"Andai aja kamu mengganggap perasaanku serius, Nis." Batin Ramon.
Ramon pun hanya menoleh kearah Nisa dengan tersenyum.
"Kalo ada apa-apa atau perlu bantuan, kamu kabarin aku ya." Ucap Ramon setelah menghentikan mobilnya.
Nisa pun mengangguk dengan senyum.
"Makasih ya, Mas." Ucap Nisa diikuti anggukan Ramon.
Ramon pun terus menatap kepergian Nisa hingga wanita itu hilang dibalik pintu. Ia menghela napas panjang.
"Aku enggak tahu apa yang bakal terjadi kalo benar Herman yang menghamili Rima." Batin Ramon.
...****************...
Di kamar Herman tertidur pulas. Nisa duduk di tepi ranjang seraya mengecek suhu badan Herman dengan telapak tangannya
"Sayang, ayo bangun dulu dan minum obatnya." Ucap Nisa seraya mengelus bahu suaminya.
Herman pun menggeliat dan perlahan membuka kedua matanya.
"Kamu barusan dari Apotek" tanya Herman seraya mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar.
Nisa pun mengangguk. Lalu mengambilkan obat dan menyerahkan kepada Herman.
Herman pun bergegas meminum obatnya. Setelah keduanya hanya saling pandang.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Nisa.
"Hanya pusing karena masalah kerjaan saja. Selebihnya tidak ada." Jawab Herman dengan tersenyum.
"Hmm.. Sayang, bagaimana kalo kita tinggal di luar negeri selama beberapa saat?" tanya Herman.
Nisa pun mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Herman.
__ADS_1
...****************...
Author do'ain yang udah dukung dan semangatin Author, semoga tambah dilancarkan rejekinya dan sehat selalu ❤