Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Selamat Jalan


__ADS_3

Yuyun pun menoleh kearah Nisa dan terduduk untuk menyamai tubuh Nisa.


"Ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir, kita harus menerimanya dengan ikhlas." Jawab Yuyun dan memeluk Nisa.


"Nisa."


Sebuah suara tak asing terdengar hingga membuat semua orang menoleh ke asal pemilik suara.


"Syukurlah kamu sudah sadar." Tambah Herman dan berjalan mendekati Nisa.


Nisa pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman.


*


Selama di Rumah Sakit, hampir seluruh waktunya untuk menemani Dennis di kamarnya. Nisa juga melakukan hal yang sama yang pernah dilakukan Dennis ketika ia terbaring koma. Mulai dari rutin menanyakan perkembangan Dennis ke dokter, mengaji di dekat Dennis dan bercerita mengenai harinya selama bersama Dennis.


Nisa berharap Dennis juga mendapat keajaiban seperti dirinya. Herman yang melihat dari balik pintu hanya bisa menatap sendu, tetapi sisi lain hatinya merasa sakit.


Dua minggu telah berlalu, Nisa sudah diijinkan untuk menjalani rawat jalan meski tubuhnya dibantu oleh kursi roda.


"Ibu, tolong ijinkan aku menginap disini malam ini." Ucap Nisa seraya menatap sendu kearah Ranti.


"Tapi kamu masih dalam penyembuhan,Nak. Sebaiknya besok kita kembali lagi ya." Ucap Ranti.


"Iya Nis, sebaiknya kamu istirahat di rumah biar aku yang akan menjaga adikku disini." Sahut Herman.


"Kumohon, malam ini saja." Ucap Nisa.


Ranti tampak menimbang beberapa saat. Perempuan paruh baya itu menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih,Bu." Ucap Nisa seraya memeluk pinggang Ranti.


"Besok pagi Ibu dan Papamu akan menjemput kamu ya." Ucap Ranti.


"Biar saya antar saja,Tante. Sekalian saya mau ambil baju ganti." Sahut Herman.


"Baiklah kalo begitu. Tante titip Nisa ya, Nak Herman." Ucap Ranti.


Herman pun mengangguk dengan senyum. Tak lama Ranti berpamitan karena jam besuk sudah habis. Kini hanya tersisa Nisa, Herman dan Dennis yang masih belum terbangun.


"Kamu mau makan apa, Nis?" Tanya Herman.


"Aku tidak lapar, Om." Jawab Nisa.


"Baiklah. Tolong jaga Dennis sebentar ya, aku akan cari makan malam." Ucap Herman dan beranjak keluar dari ruangan.


Nisa pun kembali menatap Dennis dengan sendu.


"Tolong lekaslah bangun Mas, aku membutuhkanmu." Ucap Nisa lirih.

__ADS_1


Hatinya miris melihat keadaan Dennis saat ini. Nisa pun menggenggam salah satu tangan Dennis seraya berdoa untuk kesembuhan calon suaminya.


Perlahan Nisa merasakan sebuah respon dari tangan Dennis. Nisa terperanjat kaget dan langsung menatap Dennis dengan berbinar.


"Mas Dennis." Ucap Nisa.


Tanpa berpikir panjang, Nisa bergegas memencet tombol darurat untuk memanggil dokter.


"Mas Dennis, tunggu ya. Sebentar lagi dokter akan kesini." Ucap Nisa.


Dennis perlahan membuka matanya dan tampak samar wajah Nisa dilihatnya yang perlahan mulai jelas. Tak lama seorang dokter bersama perawat masuk ke dalam ruangan.


"Maaf Mbak, tolong tunggu diluar ya biar kami periksa keadaan pasien." Ucap seorang suster.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk Mas Dennis, Dok." Ucap Nisa.


Suster pun mengangguk dan diikuti Nisa yang beranjak keluar dari kamar Dennis. Sementara menunggu kabar dari Dokter, Nisa pun menghubungi Herman untuk mengabarkan hal ini padanya.


*


"Apa, Nis? Alhamdulillah, kalo Dennis sudah sadar. Ini kabar baik, aku akan segera mengabari Mama." Ucap Herman pada Nisa diseberang telepon.


"Baik, aku akan segera kembali kesana." Balas Herman dan mengakhiri panggilan telepon.


Setelahnya Herman menghubungi Yuyun dan mengabarkan kondisi Dennis saat ini.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar." Ucap Herman seraya berjalan mendekati Dennis.


"Bagaimana kata Dokter?" tanya Herman.


"Dokter bilang kondisinya masih belum stabil, jadi masih harus dalam pemantauan,Mas." Jawab Nisa.


Tak lama Yuyun bersama kedua orang tua Nisa datang dan ikut bergabung di kamar Dennis.


"Nak, syukurlah kamu sudah bangun." Ucap Yuyun dengan raut wajah bahagia.


Dennis pun perlahan melepas alat pernapasan dihidungnya dan memulai pembicaraan. Apa yang dilakukan Dennis sontak membuat para tamu di kamarnya cemas, tetapi mereka tidak bisa mencegahnya.


"Ma." Ucap Dennis lirih.


"Iya, Sayang. Apa kamu mau makan? Mama suapin ya." tanya Yuyun.


Dennis hanya menggeleng.


"Bisakah ka..lian.. mengabulkan permintaan te..terakhirku." Jawab Dennis terbata.


"Hei, jangan bilang permintaan terakhir. Kamu pasti bisa melewati ini." Sahut Herman cemas.


"Kak..Kak, to..long menikahlah dengan Nisa besok. Karena besok adalah hari pernikahan yang ba..ik." Ucap Dennis.

__ADS_1


"Kita yang akan menikah, Mas." Sahut Nisa.


"Maafkan aku, Nis. A.. aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Kumohon menikahlah dengan Kakakku karena aku yakin dia bisa menjaga kamu dan membahagiakan kamu." Ucap Dennis dengan suara yang mulai melirih.


"Mas, kamu harus yakin kalo kamu bisa sembuh dan kita akan menikah." Ucap Nisa seraya menggenggam tangan Dennis.


Dennis hanya menggeleng.


"Ma.. Ma.. Te..rima kasih sudah menjadi Ibu yang terbaik selama ini. Den..nis min..minta maaf.." Ucap Dennis terputus.


Nisa dapat merasakan tangan Dennis jadi lemas dan perlahan matanya menutup.


"Mas Dennis, bangun.. Mas, harus bangun." Ucap Nisa dengan nada agak meninggi.


"Dennis, Tolong bangun, Nak. Dennis.." Ucap Yuyun seraya mencoba menepuk pipi Dennis perlahan.


Keadaan pun menjadi panik, Herman bergegas memencet tombol darurat. Tak lama seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaan Dennis. Namun sayangnya, Tuhan berkata lain. Dennis telah berpulang, mendengar hal ini tangis di ruangan itu pun pecah. Tak ada yang dapat membendung tangis diantara satu sama lain.


*


Keesokan harinya setelah pemakaman Dennis, suasana di rumah Yuyun mulai ramai dengan para pelayat. Setelah suasana mulai sepi, Nisa memutuskan untuk duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong.


"Nak." Sapa Ranti membuyarkan lamunan Nisa.


Nisa pun tersadar dari lamunannya dan menoleh kearah Ranti.


"Sebaiknya setelah 7 hari acara tahlil Nak Dennis, sebaiknya kamu ikut Ibu sama Papa kembali ke Surabaya." Ucap Ranti seraya mengelus bahu Nisa mencoba menguatkan putrinya.


Nisa menimbang sejenak, namun sebuah suara membuyarkan konsentrasinya.


"Maaf Tante, sesuai dengan wasiat alm. adik saya, saya akan menikahi Nisa hari ini. Saya meminta restu dari Om dan Tante." Ucap Herman.


"Apa?" Celetuk Nisa terkejut.


"Ta..tapi Om, kita sedang berduka." Tambah Nisa.


"Aku tahu Nis, tapi Dennis meminta kita untuk melaksanakan pernikahan di hari ini. Mama juga menyetujui hal ini, karena ini permintaan terakhir Dennis. Untuk sementara kita tidak akan mengadakan pesta pernikahan, jadi kita akan melakukan pernikahan sederhana." Jelas Herman.


"Iya, Nis. Ibu mohon sama kamu, Nak. Sebenarnya Mama tidak ingin melakukan ini dihari duka seperti saat ini, tetapi ini permintaan terakhir putra Ibu. Jadi Ibu mohon sama kamu ya." Tambah Yuyun.


Ranti dan Doni (Papa Nisa) hanya bisa menghela napas panjang.


"Keputusan ada ditangan kamu, Nak." Ucap Ranti.


**


Terima kasih ❤️


Mohon bantu like, komen dan favoritkan karya ini ya biar author tambah semangat 💪, Terima kasih banyak ☺️

__ADS_1


__ADS_2