
"Aku sudah memikirkan dengan matang, Ma. Awalnya pasti akan sulit, Ma. Tetapi setelah aku sudah benar-benar mengikhlaskan semuanya aku akan kembali ke rumah ini." Jawab Herman.
*
Sesampainya di sebuah tempat perbelanjaan, kini Nisa dan Dennis berjalan di area lantai 2.
"Jadi barang pertama akan kita beli?" tanya Dennis.
Nisa tampak berpikir sejenak dan memalingkan wajahnya menyapu area di sekitarnya.
"Kita bisa coba ke toko itu." Jawab Nisa seraya menunjuk sebuah toko yang jaraknya tak jauh darinya.
"Baik, Tuan putri." Ucap Dennis dan meraih tangan Nisa lalu menggenggamnya.
Nisa pun memandang Dennis dengan senyum dan melangkah bersama Dennis menuju toko yang dimaksud.
"Halo Mbak dan Mas, lagi cari perhiasan untuk pernikahan ya?" sapa seorang karyawan toko.
"Iya Mas." Jawab Dennis.
"Kebetulan hari ini baru datang model baru. Sebentar ya." Ucap karyawan toko kemudian berjalan meninggalkan Nisa dan Dennis.
Keduanya asyik melihat koleksi cincin yang terpajang di rak etalase. Tak lama karyawan datang dengan membawa 2 kotak perhiasan berwarna biru.
"Nah, ini koleksi perhiasan kami yang baru. Cocok buat calon pengantin, ini dihiasi batu permata asli yang langka ditemukan." Jelas karyawan toko seraya membuka kotak perhiasan dan mengarahkan kearah Dennis dan Nisa.
"Wahh bagusnya.. harganya?" tanya Nisa.
"Untuk yang ini harganya 300 juta dan yang satu ini 600 juta. Tapi khusus calon pengantin saya kasih diskon deh." Jawab karyawan toko.
Nisa terdiam sesaat setelah mengetahui harga dari perhiasan tersebut.
"Jadi kamu mau yang mana, Nis?" tanya Dennis.
"Hmm.. kita cari model yang lain aja ya, Mas. Untuk yang ini terlalu mencolok." Jawab Nisa dan berjalan ke sisi samping toko untuk melihat koleksi cincin lain.
__ADS_1
"Tolong bungkus terpisah untuk yang ini." Ucap Dennis kepada karyawan toko seraya menunjuk salah satu kotak perhiasan itu.
"Baik, Mas. Pilihan yang bagus." Ucap karyawan toko.
Dennis berjalan menghampiri Nisa yang tengah sibuk mengobrol dengan salah satu karyawan toko lain.
"Apakah sudah dapat cincinnya?" tanya Dennis.
"Kalo yang ini menurut Mas gimana? Mas suka nggak?" tanya Nisa.
Dennis pun mengamati cincin yang dipilih oleh Nisa. Dua cincin emas putih yang berkilau, sekilas modelnya hampir sama dengan cincin di kotak tadi, hanya saja ini lebih banyak permata kecil di untuk cincin wanitanya.
"Ini cincinnya bagus, aku suka." Jawab Dennis.
"Hore.. oke Mbak, mau ini ya." Ucap Nisa seraya menyerah cincin itu kepada karyawan toko.
"Untung Mas Dennis suka. Maaf ya Mas, aku pilih cincin ini karena harganya terjangkau dan modelnya bagus." Batin Nisa.
Tak lama karyawan toko pertama datang dengan membawa sebuah kotak yang telah dibungkus kertas kado dan satunya paperbag berisi kotak cincin berukuran sedang.
"Lho kok ada 2, Mas?" tanya Nisa bingung.
Tanpa curiga, Nisa pun tersenyum kearah Dennis. Dennis pun membalas dengan senyum kemudian ia menyerahkan sebuah kartu dan menyerahkan kepada karyawan toko.
Setelah selesai melakukan pembayaran, karyawan toko menyerahkan 2 paperbag kepada Dennis dan berkata,
"Terima kasih, kami tunggu kunjungannya kembali."
Nisa pun membalasnya dengan senyum. Kemudian Nisa dan Dennis beranjak menuju toko lain.
*
Malam ini Herman menyibukkan dirinya pada layar PC di meja kerjanya berharap agar ia bisa segera melupakan masalahnya. Tak lama dering ponselnya berbunyi dan Herman pun mengangkat panggilan tersebut.
"Selamat malam, Pak Ramon." Sapa Herman.
__ADS_1
"Kabar saya baik, bagaimana dengan Anda?"
"Syukurlah kalo begitu. Ada keperluan apa Bapak menghubungi saya?".
*
"Apa ada sesuatu yang belum kita beli?" tanya Dennis seraya mengecek beberapa paperbag yang ia bawa.
"Hmm.. rasanya sudah cukup, Mas." Jawab Nisa seraya juga mengecek paperbag yang dibawanya.
"Ahh.. akhirnya kita berhasil borong beberapa barang di mall." Celetuk Dennis.
"Maaf ya Mas, kalo aku merepotkan hari ini." Ucap Nisa.
"Kamu enggak merepotkan aku kok." Balas Dennis dan mencium kening Nisa.
"Terima kasih sudah mau menjadi Ibu dari anak-anakku." Tambah Dennis.
Nisa pun hanya terdiam karena terkejut dengan apa yang dilakukan Dennis. Beberapa pengunjung Mall tersenyum melihat mereka berdua.
"Ayo kita pulang. Mama pasti khawatir kalo kita pulang terlalu malam." Ucap Dennis.
Nisa pun mengangguk dan berjalan mengikuti irama langkah Dennis.
*
"Baik Pak Ramon, besok kita bisa bertemu di kantor saya pukul 10 pagi." Ucap Herman.
"Sama-sama Pak Ramon dan selamat malam." Balas Herman dan memutuskan panggilan itu.
Herman pun melihat jam ditangannya, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Pandangannya kini beralih ke jendela kamar dan mengintip keluar jendela.
"Kenapa mereka belum kembali? Haiss.. Berhenti memikirkan Nisa, sebentar lagi dia akan jadi adik iparmu, Herman." gumam Herman lirih.
**
__ADS_1
Mohon maaf baru update lagi, Terima kasih sudah bersedia menunggu 😊
Selamat membaca ❤