
Selesai sarapan, Nisa dan Yuyun sibuk di dapur karena hari ini Dina ijin dadakan merawat sang Ibu di kampung halaman. Masih duduk di meja makan, Herman dengan gusar memainkan ponselnya seraya sesekali kearah Nisa.
"Jadi Sayang, apakah Dennis pernah menyentuhmu?" tanya Yuyun dan hal ini menarik perhatian Herman untuk ikut mendengarkan.
Nisa pun mengangguk. Hal ini membuat Yuyun terkejut tetapi ia mencoba untuk tidak terlihat terkejut agar Nisa tidak curiga. Sementara Herman segera beranjak dari meja makan menuju kamarnya.
"Wahh.. sebentar lagi Mama akan jadi oma." Celetuk Yuyun senang.
"Doakan saja, Ma." sahut Nisa tersenyum.
"Pasti, Sayang. Mama doakan yang terbaik untuk Menantu dan Anak Mama." Ucap Yuyun.
Meski belum resmi sah pernikahan Dennis dan Nisa, tetapi Yuyun tidak dapat menyembunyikan keinginannya untuk menimang cucu.
"Aku harus segera bicara dengan Dennis." batin Yuyun.
"Ma, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Nisa.
"Boleh Sayang, tanyakan saja." Jawab Yuyun seraya mengeringkan tangannya dengan lap bersih yang tergantung.
__ADS_1
"Apa dulu, sebelum menikah dengan Mas Dennis aku sering main ke rumah ini? Karena rumah ini rasanya tidak asing untukku." tanya Nisa.
Yuyun pun tersenyum dan mengajak Nisa untuk duduk di ruang tamu.
"Dulu kamu pernah tinggal di rumah ini selama beberapa waktu, kamu sudah memiliki tempat di hati kami. Makanya kamu merasa tidak asing dengan rumah ini." Jawab Yuyun.
Yuyun tidak menyangka ternyata perawat yang dulu merawat anaknya yang sakit kini akan menjadi menantunya. Yuyun tidak pernah membedakan seseorang dari status sosialnya, menurutnya semua orang sama. Yang membedakan hanya etika dan kejujuran. Hatinya masih gusar dengan kedua anaknya yang menyukai satu gadis yang sama. Selama ini ia selalu mendukung pilihan kedua anaknya selagi itu baik untuk satu sama lain.
Semenjak kepergian suaminya, Yuyun lah yang menjadi kepala rumah tangga untuk kedua anaknya. Dia telah menjadi sosok Ibu dan mertua idaman karena sikap dan tutur katanya yang lembut.
Sementara itu, Herman meluapkan semua amarahnya dengan melemparkan semua yang ada di depannya. Hatinya dipenuhi amarah bercampur kepedihan.
**
"Nisa, tolong setelah makan, kamu antarkan makan malam untuk Mas Ipar kamu ya." Ucap Yuyun.
"Baik, Ma." Jawab Nisa dan segera menyelesaikan makan malamnya.
Nisa mengambilkan makan malam beserta segelas air putih dan meletakkannya di nampan kosong.
__ADS_1
"Ma, nanti kalo Mama sudah selesai makan, tolong jangan diberesin ya, Ma. Biar aku aja yang beresin, Mama istirahat aja." Ucap Nisa sebelum beranjak menuju kamar Herman.
Yuyun pun mengangguk dengan senyum. Meski Nisa telah mengajukan diri, tetapi tetap saja Yuyun berniat untuk membereskan semuanya.
Sesampainya di depan pintu kamar Herman, Nisa mencoba mengetuk pintu itu beberapa kali tetapi sayangnya tak ada jawaban.
"Mas Herman, ini makan malamnya." Ucap Nisa di depan pintu kamar, tetapi tak ada jawaban.
Nisa pun memberanikan diri membuka pintu kamar Herman dan perlahan melangkah masuk. Nisa terkejut melihat keadaan kamar Herman. Kamar itu terlihat sangat berantakan dan Nisa menangkap sosok Herman yang terduduk dibawah ranjangnya. Nisa berjalan meletakkan nampan yang ia bawa ke meja dekat Herman dan bergegas menghampiri Herman.
"Mas Ipar, kenapa? kenapa jadi berantakan seperti ini?" tanya Nisa khawatir.
Herman pun menoleh kearah Nisa dan menatap sendu gadis di depannya. Entah mengapa hati Nisa merasa tersayat melihat kondisi Herman saat ini. Rambut yang acak-acakan, mata yang basah dan wajah tak bersemangat.
"Kenapa kamu mengkhianati aku." Ucap Herman lemah.
***
Semoga enggak bosen ya sama jalan ceritanya 😊
__ADS_1
Author Terima kasih sekali sudah menyempatkan mampir untuk membaca cerita ini, jangan lupa like, share dan favoritkan cerita ini ya agar tidak ketinggalan episode terbaru
Mau komen juga boleh, Terima kasih 🙏😊