Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Supermarket


__ADS_3

"Ram, tolong bantu aku." Ucap Rima terisak.


"Hei.. Kenapa menangis? Bantuan apa yang bisa aku lakukan?" tanya Ramon seraya menghapus air mata Rima.


"Tolong bantu aku cari tahu siapa ayah dari anakku ini." Ucap Rima kian terisak.


"Apa yang Yudha katakan padamu? Bukankah dia Ayah dari bayi yang kamu kandung?" tanya Ramon.


Dengan gemetar Rima pun menggeleng. Ramon pun menghela napas panjang.


"Kamu tenangin dulu diri kamu ya. Kalo sudah siap cerita, kamu bisa ceritain semua ke aku." Ucap Ramon seraya menyodorkan segelas air putih ke Rima.


Rima pun menerima gelas itu dan meminumnya habis. Ramon memberi jarak duduk antara dirinya dan Rima.


5 menit lalu Rima datang ke rumahnya dengan memeluknya diiringi tangisan yang membasahi bajunya. Entah apa yang diucapkan oleh Yudha hingga membuat Rima menangis.


"Sudah baikan?" tanya Ramon menatap sendu Rima.


Rima pun mengangguk.


"Beristirahatlah di rumah ini. Aku mau mengurus beberapa pekerjaan di kantor." Ucap Ramon.


Tetapi Rima memegang lengan Ramon seolah meminta waktu pria itu. Rima mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa foto yang sudah dikirimkan Yudha kepadanya tadi.


Melihat foto itu Ramon pun terkejut, napasnya berderu menahan emosi.


"Ini tidak mungkin kan, Rima?" tanya Ramon memastikan.


"A.. aku tidak tahu, Ram. Tolong bantu aku mencari tahu kebenarannya." Jawab Rima.


"Astaga... Kalo sampai foto ini benar, aku tidak tahu bagaimana reaksi Nisa istrinya." Celetuk Ramon.


"Kenapa kamu lebih mengkhawatirkan istrinya Herman ketimbang aku sahabat yang sudah kamu anggap adik?" tanya Rima.


"Karena dia cinta pertamaku." Jawab Ramon dengan nada tinggi.


"Ja.. Jadi dia yang kamu maksud tempo hari?" tanya Rima tak percaya.


"Jangan mengatakan mengenai hal ini pada istrinya atau aku tidak akan membantu kamu." Ancam Ramon dan beranjak pergi meninggalkan Rima dirumahnya.


"Astaga.. Wanita itu lagi." Gumam Rima kesal.

__ADS_1


...***************...


"Bisa saya bertemu dengan Bapak Herman?" tanya Ramon pada resepsionis.


"Maaf Bapak, hari ini Pak Herman tidak ke kantor." Jawab sang Resepsionis.


"Baik, Terima kasih." Balas Ramon dan beranjak pergi.


"Sepertinya aku harus ke rumahnya langsung." Gumam Ramon.


Ramon berniat untuk menanyakan langsung mengenai keberadaan Herman di malam itu, sayangnya takdir berkata lain.


.


Sementara itu, Nisa dan Herman tengah asyik berbelanja di Supermarket dekat kompleks perumahan mereka. Dari kejauhan beberapa pasang menatap gerak-gerik keduanya.


Saat Herman pergi ke deretan rak lain, Yudha pun berjalan mendekati Nisa.


"Nisa!" Sapa Yudha seolah ini pertemuan tak disengaja.


"Ya." Balas Nisa seraya menoleh kearah Yudha.


"Masih inget aku kan?" tanya Yudha memastikan.


"Mas Yudha Bagaskara ya?" Tebak Nisa.


"Nah inget kan akhirnya. Murid paling ganteng di sekolah dan Kakak kelas yang terkenal gangster hahahaa.. " Sahut Yudha.


"Idih.. Mas Yudha pede banget." Sahut Nisa diiringi tawa.


Mereka pun terlibat obrolan ringan hingga tak sadar Herman berjalan mendekat.


"Kamu!" Ucap Herman menghentikan obrolan mereka.


"Iya Om, ada apa ya?" tanya Yudha.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Nisa.


"Tentu kami sudah saling kenal. Bukankah begitu Om Herman Maulana?" Jawab Yudha penuh penekanan pada saat menyebut nama Herman.


"Oh ya? Wah.. Suamiku ternyata cukup terkenal. Dua teman sekolahku ternyata juga teman suamiku." Celetuk Nisa bangga.

__ADS_1


"Suami? Jadi Om Herman ini suami kamu? Tunggu, Om ini kan sudah punya istri, kalo enggak salah siapa ya namanya, aduh.. aku lupa." Sahut Yudha berakting.


"Maksudnya Mbak Lala?" tanya Nisa memastikan.


"Ahh iya, itu maksudku." Jawab Yudha.


"Hmm.. Iya sekarang aku yang berjodoh dengan Mas Herman." Ucap Nisa.


"Wah.. Sayang sekali, wanita sebaik kamu harus menikahi pria seperti ini." Celetuk Yudha seraya melirik Herman.


"Maksud Mas Yudha, gimana ya?" tanya Nisa bingung.


"Jangan berbicara asal kamu ya." Celoteh Herman kesal.


"Memang itu kenyataannya kan, Tuan Herman Maulana." Sahut Yudha.


"Sayang, tolong kamu ke kasir dulu ya. Nanti aku menyusul." Ucap Herman seraya memegang kedua tangan Nisa.


"Beneran kalian berdua enggak apa-apa aku tinggal duluan?" tanya Nisa.


"Enggak apa-apa kok Nis, kamu tenang aja. Ini hanya obrolan sesama pria." Sahut Yudha.


Nisa pun menghela napas dan beranjak meninggalkan dua pria itu seraya mendorong keranjang belanjanya.


"Jangan melibatkan istriku dalam masalah kita." Ancam Herman di telinga Yudha.


"Tentu aku tidak akan melukai istrimu karena dia Wanitaku." Sahut Yudha seraya melipat kedua tangan di dadanya.


"Apa maksudmu?" tanya Herman menahan emosi.


"Aku menyukai istrimu sudah lama dan aku pastikan akan mendapatkannya kali ini." Jawab Yudha.


Bughh...!!!


Sebuah pukulan mendarat di pipi mulus Yudha hingga sudut bibir pria itu mengeluarkan sedikit darah segar. Untungnya supermarket saat ini sepi pengunjung jadi tak ada yang mengetahui adegan barusan.


"Nikmati detik-detik terakhir bersama istrimu sebelum kamu benar-benar kehilangan dia." Ucap Yudha ketus dan beranjak pergi meninggalkan Herman.


Herman sudah dilanda emosi, napasnya tak teratur. Ingin rasanya ia berteriak dan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya, sayangnya ia sadar jika ini bukan tempat yang tempat.


...****************...

__ADS_1


Terimakasih ❤


Tolong bagi like, vote dan komennya yaa 😆


__ADS_2