
"Mas Ramon?"
Ramon pun mengangguk dengan senyum mengembang. Betapa senang hatinya saat pujaan hatinya masih mengingat dirinya.
"Kamu apa kabar?" tanya Ramon.
"Aku baik, Mas Ramon sendiri gimana?"
"Ya seperti yang kamu lihat sekarang."
Nisa pun tersenyum kearah Ramon dan menatap pria di depannya dari ujung rambut sampai kaki.
"Eh.. kemeja Mas kenapa?" tanya Nisa.
Belum sempat Ramon menjawab, Nisa melepas Blazer nya yang kebetulan ukurannya agak besar dan menyerahkan kepada Ramon.
"Pakai ini, Mas. Kebetulan ini model Blazernya netral." Ucap Nisa.
Ramon pun menerima Blazer berwarna hitam dari Nisa dan mulai memakainya.
"Makasih ya, Nis." Ucap Ramon.
"Kamu ternyata masih Nisa yang dulu aku kenal." Batin Ramon.
"Kamu enggak apa-apa pakai gaun terbuka?" tanya Ramon.
Seketika Nisa tersadar dengan gaun berwarna Pink selutut dengan lengan pendek yang ia kenakan.
"Ahh.. enggak apa-apa kok, Mas." Jawab Nisa.
"Eh ya, kamu kesini sama siapa? Ada acara juga?" tanya Ramon.
"Iya Mas, Tadi sama suamiku. Teman bisnisnya ngadain pesta disini." Jawab Nisa.
Deg.. Seketika hatinya sakit mendengar kata suamiku. Gadis yang telah lama ditunggunya selama 2 tahun, kini sudah memiliki kehidupan baru.
"Kamu sudah nikah, Nis?" tanya Ramon memastikan.
Nisa pun mengangguk dengan senyum.
"Sudah, Mas. Maaf ya enggak undang-undang." Jawab Nisa.
Ramon pun hanya terdiam menatap Nisa.
__ADS_1
"Mas Ramon, sendiri gimana? Sudah punya anak berapa nih?" tanya Nisa.
"Eh.. Aku belum nikah, Nis." Jawab Ramon lemah.
"Sayang, kamu kok belum masuk?" Suara Herman membuat Nisa dan Ramon saling menatap kearah Herman.
"Lho Pak Ramon, kalian saling kenal?" tanya Herman.
"Ahh iya Sayang, ini Mas Ramon. Dia Kakak kelas aku waktu SMA. Mas Ramon, ini Mas Herman suamiku." Jawab Nisa menjelaskan.
Ramon berpura-pura bahagia melihat kedua pasangan di depannya.
"Wahh.. jadi ini istri Pak Herman. Selamat ya atas pernikahan kalian. Saya turut berbahagia." Ucap Ramon.
"Terima kasih, Mas." Sahut Nisa.
"Iya terima kasih, Pak. Ini perempuan istimewa yang saya maksud tempo hari." Ucap Herman.
"Ihh.. Jadi kalian berdua ngomongin aku ya dibelakang." Celetuk Nisa pura-pura kesal.
"Hehe.. Lebih tepatnya Pak Herman muji kamu, Nis." Sahut Ramon.
Ketiga orang itu pun saling tertawa dan larut dalam obrolan ringan selama beberapa menit.
*
"Aku mau ajak kerjasama kamu." Jawab Yudha dan menyeduh minumannya.
"Aku tidak tertarik." Celetuk Rima.
"Kamu menginginkan Pria ini kan." Ucap Yudha seraya menunjukkan sebuah foto seorang pria bersama kekasihnya.
"Darimana kamu kenal, Herman?" Tanya Rima heran.
"Itu enggak penting. Yang aku mau perempuan yang bersama pria ini." Jawab Yudha.
"Cihh.. Apa kamu juga salah satu korban pelet perempuan jal*** itu?" Tanya Rima.
"Jangan sebut dia jal***. Jaga ucapanmu." Ucap Yudha dengan nada tinggi seraya menatap tajam Rima.
"Terserah apa katamu. Aku tidak mau bekerjasama denganmu. Aku akan memakai caraku sendiri untuk menghancurkan pernikahan mereka." Ucap Rima dan beranjak meninggalkan Yudha sendiri.
"Dasar, benar-benar perempuan angkuh yang masih sama dengan dulu." Gumam Yudha kesal.
__ADS_1
*
Flashback..
"Hei, jangan ganggu dia!" Teriak Nisa dan berlari ke kerumunan itu.
Semua orang menoleh kearah Nisa. Yudha berjalan mendekat kearah Nisa.
"Siapa kamu? Berani-beraninya ganggu kesenangan kami." Tanya Yudha dan menatap Nisa dari ujung rambut sampai kaki.
"Ternyata kamu adik kelas 10. Jangan sok jagoan kamu, lebih baik kamu kembali ke kelasmu anak kecil." Ucap Yudha.
"Tolong lepasin dia. Dia temanku." Ucap Nisa.
"Teman? Sejak kapan si cupu ini punya teman adik kelas? Hei anak kecil, kamu jangan pura-pura jadi temannya ya." Ucap Yudha.
Karena kesal terus dianggap anak kecil, Nisa pun mengarahkan tinjunya kearah perut Yudha dan menginjak kaki Kakak kelasnya itu.
Setelahnya Nisa menarik tangan Ramon dan mengajaknya berlari menghindari Yudha beserta geng nya.
Semenjak saat itu, setiap Yudha membully anak di sekolahnya terutama Ramon, Nisa selalu membantu membebaskan korban Yudha. Hingga suatu ketika, kejadian tragis membuat Yudha tersadar.
Malam itu, setelah acara pensi (pentas seni) para panitia berkumpul untuk membereskan semua perlengkapan.
"Makasih ya Nis, berkat kamu tugasku jadi berkurang." Ucap Ramon.
"Hehehe.. Apaan sih Mas Ramon, ini kan sudah jadi tugasku juga. Enggak usah bilang makasih." Sahut Nisa.
Nisa dan Ramon pun sibuk memindahkan meja untuk dikembalikan ke kelas. Mereka tak menyadari sepasang mata terus mengintai setiap gerak-gerik mereka.
"Nis, Aku ambil minum dulu ya." Ucap Ramon.
"Iya Mas, jangan lama-lama ya kan horor sendirian disini." Ucap Nisa.
Ramon pun tertawa mendengar ucapan Nisa dan beranjak meninggalkan Nisa di kelas sendirian. Saat tengah asyik menata meja, tiba-tiba kepulan asap mulai menyelimuti ruang kelas itu hingga membuat Nisa terbatuk.
"Kebakaran. Astaga, kelas ini kebakaran." Ucap Nisa panik dan berlari menuju pintu, sayangnya pintu itu terkunci.
"Perasaan tadi enggak aku kunci deh." Gumam Nisa.
" Tolong.. tolong.. tolong aku disini.. Siapapun tolong.." Teriak Nisa panik.
Ditengah suara teriakannya, tiba-tiba terdengar suara orang terbatuk-batuk, namun karena asap yang kian tebal Nisa tak dapat melihat jelas siapa itu.
__ADS_1
**
Terima kasih ❤️