
Satu Bulan sudah setelah kepulangan Nisa dari Rumah Sakit, ia hanya melamun menatap kosong apa yang ada di depannya. Nisa bahkan mengacuhkan orang-orang di sekitarnya.
Herman dan Yuyun sering mengajaknya mengobrol tetapi ia tetap tak merespon. Hatinya benar-benar terluka saat ini. Herman juga sudah memanggilkan dokter ahli, namun hasilnya sama.
Siang ini seperti biasanya Herman pergi ke kantornya. Ia tetap tidak bisa fokus pada pekerjaannya, pasalnya kondisi Nisa saat ini selalu mengusik pikirannya. Andai saja waktu bisa diputar, pasti hal ini tidak terjadi, Batin Herman.
Namun nasi sudah menjadi bubur. Tiba-tiba ponselnya berdering, membuyarkan lamunannya. Tertera nama Ramon di layar ponselnya, ia pun mengangkat panggilan itu.
"Halo, Pak Ramon." Sapa Herman mencoba mengatur suaranya senetral mungkin.
"Halo, Pak Herman. Bagaimana kabarnya" Balas Ramon diseberang sana.
"Agak kurang baik, Pak. Bagaimana dengan Anda?"
"Saya Baik, Pak. Apakah Bapak Herman sakit?"
"Ah tidak, Pak. Hanya sedang kurang baik saja."
"Oiya, Selamat atas kehamilan istri Anda. Maaf saya baru tahu kalo sebentar lagi Anda memiliki bayi lucu."
Herman pun menghela napas dan mencoba menahan tangisnya.
"Terima kasih, Pak Ramon. Sayangnya malaikat kecil kami sudah lebih dulu berpulang."
Deg..
Ternyata benar apa yang dilaporkan ajudannya bahwa Nisa telah kehilangan malaikat kecilnya.
Lalu apakah kondisinya benar-benar memprihatinkan? Batin Ramon.
"Maafkan saya Pak, saya turut berduka cita. Malaikat kecil kalian pasti saat ini sudah bahagia di Surga."
"Tidak apa, Pak. Iya, saya meyakini itu. Hanya istri saya yang belum meyakini hal itu."
"Apa terjadi sesuatu dengan Nisa? Maaf maksud saya Bu Nisa."
"Istri saya tidak pernah lagi berbicara setelah mengetahui bayinya meninggal. Ia lebih banyak melamun dan diam."
"Bolehkah saya datang untuk menjenguk istri Anda? Maaf saya datang bukan sebagai rekan kerja tetapi sebagai teman sekolah Ibu Nisa."
"Boleh, Pak. Nanti akan saya kirimkan alamat saya."
"Terima kasih, Pak Herman."
Kemudian keduanya membahas soal pekerjaan selama beberapa saat.
Malam Harinya...
Sesuai obrolan di telepon jika Ramon akan mengunjungi Nisa sebagai teman sekolah. Hampir tiap malam Nisa duduk di ruang keluarga seraya menatap kosong kedepan.
"Halo, Nis." Sapa Ramon.
Namun tak ada jawaban.
"Are you okay? " Tanya Ramon seraya duduk di sofa samping Nisa.
__ADS_1
Tetap tak ada jawaban.
"Apa kamu masih ingat aku? Ramon yang dulu selalu jahilin kamu di sekolah." Tanya Ramon lagi.
Nisa tetap terdiam tak merespon.
"Pasti luka kali ini terlalu dalam ya, Nis? Baru kali ini kamu berbeda. Apa yang harus aku lakukan?" Batin Ramon seraya menatap sendu Nisa.
"Nisa, dulu kamu pernah bilang kalo setiap luka bisa disembuhkan dan kamu selalu tahu setiap obat untuk luka itu. Nah, sekarang bisakah kamu memberitahuku obat apa yang kamu perlukan?" Tanya Ramon kembali.
Nisa pun menoleh kearah Ramon. Matanya berkaca-kaca dan Nisa pun terisak.
"Hei.. apakah ada yang terluka di tubuh kamu? Jangan menangis." Ucap Ramon dan mendekati Nisa lalu memeluknya untuk menenangkannya.
Herman yang melihat itu terkejut dan saat akan mencegahnya tetapi Yuyun lebih dahulu mencegah Herman.
"Biarkan Nisa meluapkan semua emosinya. Jangan berpikir macam-macam apalagi cemburu." Ucap Yuyun lirih seraya menepuk bahu Herman.
Herman hanya menghela napas panjang. Nisa kian menangis dan menumpahkan semua air matanya membasahi kemeja Ramon. Ramon mengelus rambut Nisa dan membiarkan Wanita itu menangis sejadi-jadinya.
"Jadi, apakah ini obat untuk luka kali ini?" tanya Ramon seraya melepas pelukannya saat dirasa Nisa mulai tenang.
"Bi.. Bisakah kamu mengembalikan bayiku? Aku hanya mau dia kembali padaku, aku tidak butuh yang lain termasuk suamiku yang masih mencintai mantan istrinya. Tolong kembalikan malaikat kecilku. " Ucap Nisa terisak.
Deg.. Bagai disambar petir, ucapan Nisa begitu menusuk hati Herman. Ramon menatap Herman dengan tatapan meminta penjelasan.
"Nisa, kamu tahu dimana malaikat kecilmu saat ini?" tanya Ramon.
Nisa pun menggeleng.
Nisa pun mengangguk.
"Malaikat kecil itu bilang, Mama jangan sedih lagi ya, Aku sudah bahagia disini. Aku tetap bisa melihat Mama dari langit, meski Mama dan Papa enggak bisa lihat aku." Jawab Ramon.
"Dan kamu tahu Nis, dia juga berpesan kalo dia sangat bahagia jika Mama dan Papa nya kembali berkumpul dan bahagia." Tambah Ramon.
"Benarkah itu?" tanya Nisa memastikan.
Ramon pun mengangguk dengan senyum.
Ramon Pov..
"Mas, sudah jangan menangis lagi karena pasti orang tua Mas akan sedih." Ucap Nisa seraya menepuk pundak Ramon.
Setelah para pelayat beranjak pergi meninggalkan pemakaman, kini hanya tinggal Ramon dan Nisa yang masih setia duduk di dekat makam kedua orang tua Ramon.
"Kamu tahu Mas, aku mendapat pesan dari Mama Mas." Ucap Nisa lirih.
Sontak Ramon pun menoleh.
"Pesan apa?" tanya Ramon penasaran.
"Kata Mama Mas begini, Ramon jangan sedih lagi ya, Mama dan Papa sudah bahagia disini dan akan terus pantau Ramon dari atas langit. Ramon enggak boleh jadi anak nakal ya, awas kalo Ramon jadi anak nakal nanti Mama suruh Nisa buat cubit kamu." Jawab Nisa seraya memperagakan seolah-olah dia Mama nya Ramon.
Sontak Ramon pun tertawa.
__ADS_1
"Makasih ya Nis, kamu udah hibur aku." Ucap Ramon seraya mengacak-acak rambut Nisa.
Nisa pun tersenyum manis.
"Mulai sekarang Mas Ramon jangan sedih lagi ya. Kalo ada apa-apa bisa cerita ke aku. Aku tahu segala macam obat untuk sembuhin luka hehe.. " Ucap Nisa diiringi tawanya.
"Wah.. enak dong enggak perlu ke Dokter lagi, tinggal nyamperin kamu aja ya buat berobat." Celetuk Ramon.
Nisa pun mengangguk dengan senyum.
BACK TO REALITY...
"Mas, mulai sekarang aku akan hidup bahagia agar malaikat kecilku juga bahagia melihatku dari atas sana." Ucap Nisa berbinar.
"Aku mendukungmu asal itu baik untuk kamu." Sahut Ramon.
"Aku juga akan mendukungmu, Sayang." Sahut Herman seraya berjalan menghampiri Nisa.
"Maaf Mas, Kita perlu pillow talk sebelum tidur." Ucap Nisa.
Herman pun mengangguk dengan senyum.
**
"Terima kasih Pak Ramon, sudah membantu keluarga saya." Ucap Herman sebelum Ramon masuk ke mobilnya.
"Tidak perlu berterima kasih, Pak. Sudah tugas saya membantu teman saya sama seperti waktu Bu Nisa membantu saya masa itu." Balas Ramon.
"Masa itu?" tanya Herman penasaran.
"Lain kali saya bisa ceritakan bagaimana awal saya mengenal istri Anda. Maaf ini sudah malam, saya tidak bisa ceritakan sekarang. "Jawab Ramon.
"Ahh iya, lain kali kita bisa mengobrol santai ya. Kalo begitu hati-hati di jalan, Pak." Sahut Herman.
Ramon pun mengangguk dengan senyum, lalu ia beranjak memasuki mobilnya.
...****************...
"Hasilnya positif? Nggak.. ini nggak mungkin. Pasti ini hasilnya salah. Aku akan mencobanya sekali lagi."
...**********
(Gambar hanya Ilustrasi) ...
Author mau ngucapin Terima kasih banyak banyak yang sudah mendukung sampai disini 🙏🙏
Alhamdulillah sekian purnama akhirnya cerita saya lulus kontrak di Novel toon ❤
Semoga para pembaca dilancarkan rejekinya dan dimudahkan segala urusannya.. Aamiin.. Aamiin.. Aamiin.. 🙏
Sekali lagi Terima kasih para pembaca setia, Author mohon dukungannya dengan like, vote, favoritkan dan share (kalo cerita ini menarik hehe)
Mau kasih kritik dan saran juga SANGAT SANGAT BOLEH 😁
__ADS_1