Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Kecelakaan Pesawat


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Herman yang masih terdiam di sofa kamarnya. Tak lama pintu kamarnya terbuka dan seseorang melangkah masuk menghampirinya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Yuyun seraya meletakkan sebuah nampan berisi menu sarapan di meja dekat sofa.


Herman menggeleng.


"Sebaiknya kamu makan dulu." Ucap Yuyun.


Herman pun menurut dan mulai menikmati sarapan yang dibawakan oleh Yuyun. Wanita paruh baya itu memandang lekat kearah putranya.


"Pikirkan kembali keinginanmu untuk tinggal di luar negeri." Ucap Yuyun.


Herman tak menjawab, ia tidak ingin membahas hal itu lagi. Entah mengapa pikirannya saat ini teringat pada Nisa. Hatinya menjadi gelisah.


"Apakah terjadi sesuatu pada mereka?" batin Herman.


Tak lama dering ponsel Herman berbunyi, sebuah nomor tak dikenal tampil dilayar ponselnya. Ia pun dengan ragu mengangkat panggilan itu.


"Halo. Iya, dengan saya sendiri.."


"Sekarang mereka ada di rumah sakit mana?"


"Baik, terima kasih. Saya segera kesana."


Herman pun memutuskan panggilannya dan menatap Yuyun dengan wajah cemas.


"Ada apa, Nak? Siapa yang di rumah sakit?" tanya Yuyun cemas.


"Ni..Nisa dan Dennis, Ma. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan." Jawab Herman.

__ADS_1


"Ya Allah, ujian apalagi ini. Yasudah ayok kita segera berangkat sekarang." Ucap Yuyun.


Herman dan Yuyun pun bergegas bersiap menuju Rumah Sakit.


*


"Allahuakbar.. Allahuakbar.."


"Ya Tuhan, tolong selamatkan kami.."


Dennis menutup kedua matanya dan berdoa dalam hati. Tangannya masih erat menggenggam tangan Nisa. Setelah mengetahui pesawat yang ditumpangi akan jatuh, para penumpang mulai panik namun yang bisa dilakukan saat ini hanya berdoa.


Dennis sengaja tak membangunkan Nisa karena ia tidak ingin gadis itu menjadi cemas dan panik.


"Maafkan aku ya Nis, semoga kita bertemu lagi di kehidupan baru sebagai sepasang kekasih." Ucap Dennis dan mencium kening Nisa.


Pesawat mereka pun jatuh terjun bebas dan mendarat disebuah hutan hingga membuat badan pesawat terbelah menjadi 2. Untungnya tidak menimbulkan ledakan, namun banyak memakan korban.


*


"Apakah aku di rumah sakit?" batin Nisa.


"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar." Suara lembut khas yang tak asing untuk Nisa.


"I..Ibu." Ucap Nisa lirih.


"Ke..kenapa aku ada disini, Bu?" tanya Nisa.


"Kamu koma selama 7 hari, Ibu senang kamu sudah siuman sekarang." Jawab Ranti, Ibu Nisa.


"Setelah Ibu lihat berita kecelakaan pesawat di TV, Ibu dan Papa mu langsung kemari." Tambah Ranti.

__ADS_1


"Kecelakaan pesawat? Mas Dennis.. Mas Dennis gimana, Bu?" tanya Nisa cemas.


"Calon suami kamu masih belum sadar." Jawab Ranti.


Nisa pun melepaskan alat pernapasan dihidungnya, ia pun bangkit dan turun dari ranjangnya.


"Ibu, tolong antarkan aku ke ruangan Mas Dennis." Ucap Nisa.


"Tapi Nak, kamu baru sadar. Tolong jangan paksakan dirimu." Ucap Ranti.


"Tidak Ibu, aku tidak tenang kalo belum melihat keadaan Mas Dennis." Ucap Nisa.


Ranti pun menghela napas panjang, ia pun menuruti permintaan anaknya. Dibantu kursi roda, Ranti mendorong Nisa menuju kamar Dennis sementara tangan Nisa satunya mendorong tiang roda untuk Infus.


"Nisa, syukurlah kamu sudah sadar, Nak." Ucap Yuyun seraya mendekati Nisa.


"Gimana keadaan Mas Dennis, Ma?" tanya Nisa cemas.


"Tubuhnya belum merespon." Jawab Yuyun seraya menatap sendu kearah Dennis.


Nisa pun menangis dalam diam melihat keadaan Dennis saat ini. Tubuhnya penuh balutan perban di beberapa bagian.


"Nisa minta maaf Bu, karena tidak bisa menjaga Mas Dennis dengan baik." Ucap Nisa.


Yuyun pun menoleh kearah Nisa dan terduduk untuk menyamai tubuh Nisa.


"Ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir, kita harus menerimanya dengan ikhlas." Jawab Yuyun dan memeluk Nisa.


***


Terima kasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2