
Ditengah suara teriakannya, tiba-tiba terdengar suara orang terbatuk-batuk, namun karena asap yang kian tebal Nisa tak dapat melihat jelas siapa itu.
Karena suara itu kian jelas, Nisa mencoba berjalan mendekat ke asal suara dan ia menemukan Yudha terduduk bersandar di pojok kelas.
"Kamu." Ucap keduanya bersamaan.
"Kamu ngapain sih bakar kelas aku? Uhukk..uhukk.." Tanya Yudha.
"Ngapain juga aku bakar kelas. Aku terjebak disini." Jawab Nisa ketus.
Yudha pun mulai lemas karena banyaknya asap yang ia hirup. Melihat hal itu, Nisa pun melepaskan jaketnya dan menutupi kepala Yudha dengan jaket itu. Sisi lain jaketnya ia gunakan sebagai masker pelindung agar Yudha tak banyak menghirup asap.
Yudha dapat melihat jelas ketulusan Nisa dan terpana beberapa saat.
"Ternyata dia gadis yang baik." Batin Yudha.
Nisa mencoba memapah Yudha menuju pintu kelas. Sesampainya di pintu kelas, Nisa mencoba menggedor pintu kelas itu dan berteriak minta tolong. Tak lama bantuan datang dan Nisa meminta petugas medis untuk lebih dahulu memeriksa kondisi Yudha.
"Kamu enggak apa-apa?" Tanya Ramon cemas.
"Aman kok, Mas." Jawab Nisa mencoba menyembunyikan keadaannya.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, Mas." Ucap Nisa.
"Mau aku antar?" Tanya Ramon.
Nisa pun menggeleng dan beranjak menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Nisa pun bersandar pada wastafel seraya terbatuk-batuk dan mencoba mengatur napasnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dan menghirup udara dari benda itu. Dibalik pintu kamar mandi, Ramon menatap iba pada Nisa.
"Kenapa kamu enggak mau jujur soal kondisi kamu, Nis?" Batin Ramon.
Ramon menunggu Nisa dengan sabar di depan kamar mandi. Tak terasa air matanya ikut menetes saat melihat Nisa terisak pelan dikamar mandi.
Setelah dirasa cukup untuk menumpahkan semua sedihnya, Nisa melanjutkan mencuci mukanya untuk menghilangkan matanya yang sembab dan bekas hitam karena terkena asap kebakaran.
Nisa menatap kaca dihadapannya seraya menghela napas panjang dan berkata, "Semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Nisa pun beranjak keluar dari kamar mandi dan terkejut saat melihat Ramon menunggu di depan kamar mandi.
"Mas, belum pulang?" Tanya Nisa.
Ramon tak menjawab, namun ia melangkah mendekati Nisa dan memeluk adik kelasnya.
"Jangan pura-pura semua baik-baik saja. Ada kalanya kamu perlu sandaran untuk menangis." Ucap Ramon seraya mengelus rambut Nisa.
Nisa pun terkejut dengan perlakuan Ramon dan air matanya kembali tumpah membasahi baju seragam Ramon. Keduanya saling terisak dalam diam.
Flashback Off..
*
"Sudahi pencariannya, nanti akan saya transfer uangnya." Ucap Ramon dan memutus panggilan teleponnya.
Pria itu menatap kosong ke luar jendela kantornya.
"Ternyata kita bertemu dalam suasana seperti ini." Batin Ramon.
*
"Sudah kok. Mari kita berangkat." Jawab Nisa.
Herman pun tersenyum dan membuka kan pintu mobil untuk Nisa. Kini keduanya tengah asyik menikmati perjalanan menuju kota Jogja, destinasi kota yang cocok untuk berbulan madu.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya keduanya telah sampai di hotel malam hari. Sangking capeknya, Nisa tertidur pulas di ranjang hotel setelah sampai.
Herman yang melihat itu hanya tersenyum dan meninggalkan istrinya untuk membeli makan malam. Pukul 10 malam, Nisa terbangun dan terkejut karena ia tak menemukan Herman di kamarnya. Ia pun bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi Herman. Namun ternyata ponsel suaminya tertinggal dikamar hotel.
Nisa memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Selesai mandi dan berganti baju, Nisa keluar dari kamar mandi dan terkejut saat melihat seseorang berdiri di dekat ranjangnya.
"Siapa ya?" Tanya Nisa terkejut.
"Maaf Nona, saya mau mengantarkan makanan yang dipesan suami Anda. Makanannya saya letakkan disini ya." Ucap pria berseragam karyawan hotel.
__ADS_1
"Oh ya, terima kasih." Ucap Nisa.
Selesai dengan pekerjaannya Pria itu berpamitan dan beranjak pergi dari kamar Nisa.
"Sepertinya aku enggak asing sama suara itu. Tapi siapa ya?" Gumam Nisa.
Tak lama Herman datang membawa paperbag berisi beberapa jenis makanan.
"Iihh.. Sayang, pesan makanan kok enggak ngajak aku sih." Rengek Nisa.
"Kamu tadi tidur pules banget, enggak enak mau bangunin kamu." Jawab Herman.
"Lho.. Sayang, pesan makan malam?" Tanya Herman.
"Enggak, Sayang. Tadi pelayan kamar bilang kalo ini Sayang yang pesen." Jawab Nisa.
"Perasaan aku enggak pesan makanan. Ini aku beli sendiri di luar hotel." Ucap Herman.
Karena khawatir, Herman pun segera menghubungi pihak hotel.
"Baik, terima kasih." Ucap Herman dan memutus panggilan telepon.
"Jadi gimana, Yang? Apakah ini salah kamar?" Tanya Nisa.
"Kata pihak hotel hari ini ada promo gratis makan malam untuk semua tamu." Jawab Herman.
"Wahh.. Pas banget, Sayang." Celetuk Nisa.
Herman pun tersenyum melihat tingkah Nisa. Akhirnya Nisa dan Herman pun menikmati makan malam bersama. Selesai makan malam, kedua pasangan itu tengah asyik menikmati pemandangan kota Jogja dari atas balkon kamar.
Herman memeluk Nisa dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Nisa. Nisa menggenggam erat tangan Herman yang kini berada diperutnya.
"Bagaimana kalo kita memiliki rumah di dekat sini, Sayang?" Tanya Nisa.
Namun Herman tak menjawab, namun terdengar napasnya teratur di telinga Nisa. Nisa melirik sekilas dan mengetahui jika Herman tertidur. Karena takut Herman terjatuh, Nisa pun perlahan membalikkan badannya dan memapah pelan-pelan suaminya kembali ke ranjang kamar. Perlahan Nisa menidurkan tubuh Herman di ranjang dan ia pun beranjak meninggalkan suaminya. Sayangnya, tubuhnya dikunci oleh tangan Herman dan kini berada di pelukan Herman.
__ADS_1
***
Terima Kasih ❤️