Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Penggoda


__ADS_3

Plakk...!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Yudha.


"Berani kamu padaku, lihat saja aku akan membalasmu." Ucap Rima emosi.


"Apa yang bisa Nona Rima lakukan padaku? Apa kamu akan mengadu pada Papa mu jika aku yang menidurimu? Katakan saja pada Pak Tua itu. Jika sampai kamu mengatakan padanya, maka aku akan mengirim Pak Tua bertemu dengan Almh. Ibumu." Ancam Yudha dan beranjak pergi meninggalkan Rima.


Seketika kakinya lemas, Rima pun terduduk di lantai kamar hotel itu.


"Dasar cowok bre***k." Teriak Rima putus asa.


...****************...


Pagi ini Nisa melakukan rutinitasnya bersama Dina di dapur. Setelah siap Nisa dibantu Dina menata semua hidangan sarapan di meja makan. Tak lama Herman turun bersama dengan Lala. Nisa menatap tajam keduanya.


Herman duduk di kursi kesayangannya, sementara Lala duduk di kursi yang biasa ditempati Nisa. Alhasil Nisa pun duduk di kursi samping Herman sisi lain.


"Biar aku ambilkan ya, Her." Ucap Lala.


"Enggak perlu La, aku lebih senang kalo istriku yang melayaniku." Balas Herman seraya menoleh kearah Nisa.


Nisa pun tersenyum dan menyendokkan nasi dan beberapa lauk kesukaan Herman dipiring suaminya.


"Tumben enggak ada ayam kecap kesukaan kamu? Biasanya kan kamu tiap hari minta dimasakin itu terus." tanya Lala sengaja seraya melirik Nisa.


"Sekarang aku makan apapun yang terhidang di meja makan asal itu masakan istriku." Jawab Herman seraya kembali menoleh kearah Nisa.


"Sepertinya Mbak Lala sudah baikan ya? Jadi setelah ini bisa pergi dari rumah saya dong." Sindir Nisa.


"Kamu ngusir aku?" tanya Lala dengan nada sinis.


"Aku enggak ngusir Mbak, cuma Aku enggak nyaman kalo Mbak ada di rumahku dan berusaha menggoda suamiku." Jawab Nisa polos.


Uhukkk.. mendengar itu Herman pun terkejut.


"Oh jadi ini alasan kamu menangis sampai tertidur. Istriku yang masih polos ini cemburu toh." Batin Herman seraya menatap Nisa dengan senyum.


"Ini minum dulu." Ucap Nisa dan Lala bersamaan seraya mengulurkan gelas berisi air.


Herman pun menerima gelas dari Nisa dan meminumnya tanpa menoleh kearah Lala.

__ADS_1


"Kamu enggak usah khawatirin aku La, karena istriku yang baik hati ini bisa merawatku dengan baik." Ucap Herman.


"Maaf Her, aku hanya refleks." Sahut Lala.


"Setelah ini aku akan antar kamu cari hotel ya." Ucap Herman.


"Sayang, boleh aku ikut ya?" tanya Nisa.


"Maaf ya Sayang, aku enggak mau kamu kecapekan. Sebaiknya kamu dirumah aja ya, hari ini aku enggak lembur kok." Jawab Herman.


Lala pun tersenyum mendengar ucapan Herman. Tentunya ia akan bebas untuk mengambil hati Herman kembali.


Nisa pun hanya menghela napas panjang dan terpaksa tersenyum untuk menyenangkan hati suaminya. Setelah acara sarapan selesai, Herman pun pamit pergi bersama dengan Lala. Kata-kata Lala terngiang di pikiran Nisa, ia takut jika Herman kembali jatuh ke pelukan mantan istrinya.


Di dalam mobil, Lala sengaja mencari topik obrolan yang mengingatkan kebersamaan mereka dulu.


"Her, ternyata kamu masih Herman yang aku kenal ya. Maaf aku pernah ninggalin kamu dulu, itu karena aku belum siap kehilangan kamu. Tapi ternyata sekarang aku benar-benar kehilangan kamu." Ucap Lala.


"Kamu ngomong apa sih, La? Aku enggak ngerti maksud kamu." Tanya Herman.


"Eh itu ada Hotel Her, katanya hotel disini fasilitasnya bagus." Sahut Lala mengalihkan topik.


Herman pun mengarahkan mobilnya ke arah hotel dan memarkir disana. Setelah check in, seorang karyawan hotel pun mengantarkan Herman dan Lala ke kamarnya.


"Iya Her, tapi aku takut kalo tidur sendiri. Gimana kalo mantan aku tahu kalo aku tinggal disini?" tanya Lala dengan nada manja.


"Kan ada security disini, La. Kamu enggak usah khawatir. Maaf La, aku enggak bisa bantu kamu lebih karena aku sudah menikah dan aku harus menghargai istri aku." Jawab Herman.


"Kalo begitu aku pamit dulu ya, La. Jaga diri kamu." Tambah Herman dan beranjak pergi.


Tetapi tiba-tiba Lala memeluknya dari belakang.


"Tolong jangan tinggalin aku, Her. Aku masih cinta sama kamu. Aku janji enggak bakal ninggalin kamu lagi, kita mulai semuanya dari awal ya, Her." Ucap Lala.


"Maaf La, hubungan kita sudah berakhir. Tolong jangan bersikap seperti ini." Ucap Herman seraya mencoba melepas pelukan Lala.


Setelah berhasil melepas pelukan Lala, Herman pun membalikkan tubuhnya kearah Lala dan melihat wanita di depannya menangis.


"Jangan nangis La, kumohon mengertilah posisiku." Ucap Herman seraya memeluk Lala untuk menenangkannya.


"Aku cuma mau kamu, Her. Aku bisa memberikanmu lebih dari Nisa. Kamu mau anak dariku? Aku akan berikan, kamu mau aku jadi istri setia, aku akan lakukan. Kumohon Her, kembalilah padaku." Ucap Lala seraya memegang pipi Herman.

__ADS_1


"Aku rela jadi istri kedua kamu tanpa sepengetahuan Nisa." Tambah Lala seraya mendekatkan wajahnya kearah Herman.


...****************...


"Mas Herman.. Kamu.. " Gumam Nisa.


Ia tampak terkejut dengan beberapa foto yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal di ponselnya. Nisa pun bergegas menghubungi suaminya namun tak ada jawaban.


"A.. apa betul kamu masih mencintai dia, Mas?" tanya Nisa di sela isak tangis lirihnya.


Nisa pun bersiap dan bergegas menuju kantor Herman. Namun langkahnya terhenti di ruang tamu saat ia merasakan kram perutnya yang teramat sangat.


"Mbak.. Mbak Dina.. Tolong.. Mbak.." Teriak Nisa.


Tak lama Dina pun datang dan panik melihat keadaan Nisa.


"Nis, aku telepon Nyonya sebentar ya." Ucap Dina.


"Aduh.. Aku udah nggak kuat Mbak, tolong bawa aku ke Rumah sakit dulu, Aduhh.. Mbak.. " Rintih Nisa seraya memegangi perutnya dan darah segar mengalir dari kakinya.


Dina pun menuruti ucapan Nisa dan bergegas memanggil Pak Ujang sopir baru yang dikhususkan untuk mengantarkan Nisa kemana saja.


...****************...


"Astaga.. ini ndak mungkin terjadi. Kamu gila ya, La. Ini pertemuan terakhir kita." Ucap Herman dengan nada tinggi dan beranjak pergi meninggalkan Lala yang terdiam di tempat.


Tak lama ponselnya berdering. Lala pun mengangkat teleponnya.


"Apa semua berjalan sesuai rencana?" tanya seseorang di seberang sana.


"Aku sedang berusaha, jangan menghubungiku terus." Sentak Lala emosi.


"Hahaha.. Aku rasa rencana kali ini gagal. Ya sebaiknya persiapkan dirimu untuk hukumanmu." Sahut orang di seberang sana.


"Itu tidak akan terjadi. Kamu lihat baik-baik bagaimana caraku bekerja." Omel Lala dan memutuskan panggilan teleponnya.


Napasnya berdetak cepat, emosi masih menyelimuti dirinya. Ia hanya bisa berteriak seperti orang gila untuk melampiaskan semuanya.


"Kamu akan kembali padaku, Herman Maulana." Teriak Lala.


Sementara seseorang yang tadi menelepon Lala hanya tersenyum melihat Lala dari layar besar di depannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2