Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Tak Bisa Tertolong


__ADS_3

"Nisa Febriyani kamu harus jadi milikku." Ucap seseorang yang masih fokus menatap layar besar di depannya.


Sementara itu, setelah mendapat telepon dari Dina, Herman dan Yuyun bergegas menuju rumah sakit. Seorang dokter keluar dari ruang UGD dan menghampiri Herman.


"Apakah Bapak suaminya Ibu Nisa?" tanya Dokter Reza.


"Iya Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Jawab Herman.


"Kondisinya saat ini kritis, Pak. Mohon maaf Bapak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi pendarahan yang dialami Ibu Nisa cukup banyak dan bayinya tidak bisa tertolong. Kemungkinan untuk Ibu Nisa bisa hamil kembali itu kecil tetapi tindakan ini harus segera dilakukan." Balas Dokter Reza.


"Dok, sebenarnya apa yang terjadi dengan putri saya?" tanya Yuyun cemas.


"Mohon maaf Ibu, saat ini kondisi Ibu Nisa kian melemah dan harus segera dilakukan tindakan operasi. Mohon untuk segera menandatangi surat persetujuan tindakan operasi. Kalo begitu saya permisi." Jawab Dokter Reza dan beranjak pergi.


"Astaga.. Kenapa bisa begini? Herman, sebaiknya kamu segera lakukan apa yang Dokter bilang." Ucap Yuyun seraya menepuk pundak putranya.


Beberapa menit kemudian seorang suster mendatangi Herman dengan wajah panik.


"Permisi Bapak, mari saya antar untuk menandatangani surat persetujuan operasi dikarenakan kondisi pasien kian melemah." Ucap Suster.


Herman pun menghela napas panjang dan berkata,


"Baik, Sus." Ucap Herman.


"Mari saya antar, Pak." Balas Suster dan berjalan mendahului Herman.


"Maafkan Aku Sayang, semoga ini pilihan yang terbaik." Batin Herman seraya berjalan mengikuti Suster.


Setelah Herman menandatangi surat persetujuan, operasi pun segera dilaksanakan. Herman dan Yuyun pun menunggu dengan gusar di ruang tunggu. Dina datang membawa 2 botol air mineral dan menyerahkan kepada Yuyun dan Herman.


"Din, sekarang kamu jawab jujur sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Yuyun.


"Hmm.. Sebenarnya waktu saya bersih-bersih di lantai atas, saya sempat mendengar suara tangisan dari dalam kamar tuan, lalu tak lama Non Nisa turun ke ruang tamu dan berteriak memanggil saya. Sepertinya Non Nisa jadi begini setelah melihat ponselnya." Jawab Dina.


"Sekarang mana ponselnya?" tanya Yuyun.


Dina pun menyerahkan ponsel Nisa. Yuyun membuka pesan terakhir di aplikasi Whatsup dan terkejut melihat foto yang dikirim oleh nomor tidak dikenal. Jantungnya berdetak kencang menahan emosi yang bergejolak, Yuyun pun berjalan mendekati Herman dan..


Plakk...!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Herman.


"Tega kamu lakuin ini ya, Her. Apa Nisa kurang baik sampai kamu bisa melakukan hal sekeji ini?" tanya Yuyun emosi.


"Bu, tenang ya Bu, ini di Rumah Sakit." Ucap Dina seraya mengelus pundak Yuyun.

__ADS_1


"Ma.. maksud Mama apa?" tanya Herman balik.


Yuyun pun menunjukkan beberapa foto kemesraannya dengan Lala di sebuah kamar hotel. Herman pun terdiam, kakinya lemas dan memori ingatannya yang hampir berciuman dengan Lala di kamar hotel kembali muncul.


"Bagaimana bisa? Apa ini rencana, Lala? Tapi mana mungkin, Lala tidak sejahat itu. Siapa dalang dibalik ini semua?" Batin Herman.


"Kenapa diam? Jadi foto ini betul adanya? Kenapa kamu berduaan sama Lala? Sada Her, kamu itu sudah punya istri. Jangan main gila, Mama kecewa sama kamu." Ucap Yuyun masih dengan emosinya.


"Ma, aku bisa jelasin. Ini enggak seperti di foto, ayo kita duduk dan aku jelasin semuanya sama Mama. Sekarang Mama duduk dan minum dulu ya." Ucap Herman seraya memegang tangan Yuyun seraya memapah Yuyun untuk duduk.


Dina dengan sigap memberikan sebotol air mineral ke Yuyun. Setelah dirasa suasana mulai tenang, Herman pun menceritakan semuanya dengan detail.


"Dasar wanita penggoda. Mulai sekarang Mama Minta jauhin Lala, jangan pernah temuin dia lagi." Celetuk Yuyun geram.


"Ma, ini bukan salah Lala. Aku kenal Lala, dia enggak mungkin kayak gini. Pasti ada orang lain dibalik ini semua." Sahut Herman.


"Astaga Nak, jangan terlalu percaya dengan orang di masa lalu. Setiap orang pasti bisa berubah. Tolong turutin permintaan Mama yang satu ini atau kamu akan kehilangan keluarga kecilmu." Tutur Yuyun.


Herman pun menghela napas panjang dan mengangguk.


...****************...


"Dia belum keluar kamar sama sekali sejak 7 hari terakhir dan saya tidak melihatnya pergi untuk bekerja." Ucap seorang Pria berpakaian serba hitam.


"Apa kamu lihat dia pergi ke Rumah Sakit atau mungkin klinik?" tanya Yudha.


"Baiklah, terus awasi dia. Laporkan jika ada sesuatu terjadi." Perintah Yudha.


"Baik, Bos. Saya permisi dulu." Pamit Pria itu dan beranjak meninggalkan Yudha.


"Rencana balas dendamku berhasil. Rima Adeline Wijaya sebentar lagi hidupmu akan hancur bahkan aku akan membuatmu lebih hancur dariku." Gumam Yudha.


...****************...


Tok.. tok.. tok..


"Rima, tolong buka pintunya. Ini Aku Ramon." Ucap Ramon dari balik pintu.


Tak ada jawaban, akhirnya Ramon pun membuka pintu kamar Rima dengan kunci cadangan. Saat Ramon memasuki kamarnya yang gelap, Rima pun histeris karena mengira Ramon adalah Yudha.


"Hei.. tenang.. ini aku Ramon." Ucap Ramon seraya menyalakan lampu kamar Rima.


Ramon pun berjalan mendekati Rima yang terduduk disudut ranjang. Pria itu langsung memeluk Rima seraya mengelus rambutnya untuk menenangkannya.


"Are you okay?" Tanya Ramon melepas pelukannya.

__ADS_1


"Tolong aku Ram, dia mau bunuh Papa. Tolong Ram, dia.. dia.. " Ucap Rima ketakutan.


"Hei.. Hei.. kamu tenang dulu ya. Om Wijaya aman kok. Kan ada security juga diluar.


"Sekarang kita turun dan makan ya." Tambah Ramon.


"Tolong jangan tinggalin aku, Ram. Aku takut dia kembali terus bunuh Papa." Ucap Rima seraya memeluk lengan Ramon.


"Iya aku temenin kamu. Yuk, kita makan dulu." Ucap Ramon.


Ramon pun berjalan menuntun Rima menuju ruang makan.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, Rim? Kenapa orang itu mau membunuh Om Wijaya?" Batin Ramon.


Saat tengah menikmati makan siang bersama Rima, Tiba-tiba ponselnya berdering. Ramon pun mengangkat teleponnya.


"Syukurlah kalo sudah sadar. Tolong kamu pantau dia terus ya. Kabari saya kalo ada apa-apa." Ucap Ramon dan memutuskan panggilan teleponnya.


Rima pun menikmati makan siangnya dalam diam tidak seperti biasanya yang selalu mengajak ngobrol Ramon, sahabatnya.


...****************...


Sementara itu, di ruangan Rumah Sakit Nisa yang sedari tadi tertidur setelah operasi kini sudah sadar.


"Sayang, Syukurlah akhirnya kamu sudah bangun." Celetuk Herman lega.


"Mas, Apa aku sudah melahirkan? Dimana Anak kita?" tanya Nisa seraya memegang perutnya yang mengecil.


"Hmm.. Maaf ya Sayang, Bayi kita enggak bisa diselamatkan." Jawab Herman seraya menggenggam tangan Nisa.


"Kamu yang sabar ya, Sayang. Sekarang kamu fokus sama kesembuhan kamu dulu." Ucap Yuyun mencoba menenangkan.


Nisa pun melepaskan tangan Herman dan berbalik membelakangi suaminya. Nisa terisak dalam diam. Mengingat bayi yang ditunggu akan hadir tetapi Tuhan berkata lain.


"Maafkan aku, Sayang." Ucap Herman seraya memegang pundak Nisa.


"Tolong tinggalin aku sendiri." Ucap Nisa lirih.


"Enggak, aku temenin ka.."


Yuyun pun menepuk pundak Herman seraya berkata, "Biarkan Nisa menenangkan dirinya dahulu."


Herman pun menghela napas dan menuruti ucapan Yuyun. Yuyun dan Herman pun beranjak pergi. Kini tinggal Nisa sendirian di ruangan dan ia menangis terisak seraya memegang perutnya.


...****************...

__ADS_1


Terimakasih ❤


Mohon bantu Like, Favoritkan dan Bintangnya yaa biar Author tambah semangat hehehe ❤


__ADS_2