Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Oh Nisa..


__ADS_3

Nisa pun menggeleng.


"Jangan, Om. Nanti Ibu Yuyun akan kecewa." Ucap Nisa dan bangkit meninggalkan Herman sendiri di kamarnya.


Pria itu hanya menatap kepergian Nisa dengan sendu. Entah mengapa dirinya tidak bisa berkata-kata. Malam ini Nisa memilih kembali tidur di kamar Dina.


**


Keesokan paginya..


Herman, Yuyun, dan Rima sudah siap untuk berangkat ke Rumah Sakit. Sementara Dennis pamit berangkat mengantarkan Nisa ke Stasiun, namun sebenarnya mereka berdua pergi ke Rumah Sakit juga.


Kini Nisa sudah berada di ruang operasi dengan memakai baju khas Rumah Sakit. Tak lama seorang pasien Pria yang tertidur karena reaksi suntikan juga memasuki ruang operasi. Nisa menatap pria itu penuh arti.


"Sebentar lagi kamu enggak merasakan sakit lagi, Om. Semoga ini bukan pertemuan terakhir kita." batin Nisa seraya menatap Herman yang terbaring di ranjang terpisah di sebelahnya.


"Gimana Nisa, kamu sudah siap?" tanya Dokter Ridho.


Nisa hanya mengangguk. Seorang perawat mulai menyuntikkan sebuah cairan hingga membuat Nisa tertidur. Operasi pun mulai dilakukan. Yuyun dan Rima menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan cemas. Tak lama Dennis datang, pura-pura menjadi pendatang baru di Rumah Sakit itu.


"Gimana Ma, operasinya?" tanya Dennis cemas.


"Mas kamu baru aja masuk. Semoga operasinya berjalan dengan lancar." Ucap Yuyun tak kalah cemas.


Dennis pun mengangguk dan mencoba mengatur napasnya. Waktu terasa berlalu dengan lama. Dennis yang kembali dari kantin dengan membawa makanan bungkusan roti dan air mineral membagikan kepada Yuyun dan Rima. Dennis mencoba menenangkan kedua perempuan itu.


Akhirnya Dokter Ridho keluar dari ruang operasi.


"Gimana Dok, keadaan anak saya?" tanya Yuyun cemas.


"Saat ini pasien masih belum sadar karena efek obat tidur. Kami akan pindahkan ke ruang rawat untuk pemulihan Pasien." Jawab Dokter Ridho.


Tak lama 2 orang perawat mendorong ranjang Herman keluar dari ruang operasi, Yuyun dan Rima segera mengikuti perawat itu. Sementara Dennis masih cemas dengan keadaan Nisa.


"Bagaimana dengan keadaan Nisa, Dok?" tanya Dennis cemas.


Dokter Ridho sedikit terkejut dengan pertanyaan Dennis lantaran Nisa telah memberitahu untuk merahasiakan identitas pendonor.


"Tolong jawab, Dok. Saya mendengar pembicaraan antara Dokter dan Nisa waktu itu. Dokter tenang saja, hanya saya yang mengetahui tentang hal ini." Tambah Dennis.


Dokter Ridho berpikir sejenak dan akhirnya berkata,


"Maafkan saya, tetapi kondisi Nisa saat ini tidak baik. Kami akan memindahkan Nisa ke ruang ICU."


Dokter Ridho pun masuk kembali ke ruang operasi dan tak lama 2 orang perawat mendorong ranjang Nisa dan diikuti Dokter Ridho dan Dokter lain berjalan keluar dari ruang operasi. Dennis mengikuti rombongan itu dengan perasaan takut dan tak terasa air matanya menetes.


"Kamu pasti kuat, Nis. Kumohon bangunlah." batin Dennis.


Memori kebersamaannya bersama Nisa kini terputar di otaknya. Hatinya merasa sesak melihat keadaan Nisa saat ini. Sesampainya di ruang ICU, Seorang perawat meminta Dennis untuk menunggu di ruang tunggu depan ICU karena Dokter masih melakukan perawatan pada Pasien.


Entah berapa lama Dennis duduk di ruang tunggu hingga suara dering ponselnya membuyarkan lamunannya.


"Halo, iya Ma." Sapa Dennis pada Yuyun di seberang sana.


"Kamu dimana, Sayang? Ini Mas kamu sudah sadar. Tolong segera ke kamar Melati." Ucap Yuyun.


"Baik, Ma. Aku akan segera kesana." Ucap Dennis dan mengakhiri panggilan.


Disaat bersamaan Dokter Ridho keluar dari ruang ICU.


"Bagaimana keadaan Nisa, Dok?" tanya Dennis cemas.


"Kami sudah melakukan yang terbaik, tetapi tubuh Nisa tidak merespon. Bisa dibilang saat ini Nisa mengalami koma." Jawab Dokter Ridho.


"Koma? Bagaimana bisa, Dok? Nisa bilang kemarin pemeriksaan berjalan dengan lancar dan kondisi tubuh Nisa baik untuk menjadi pendonor, tetapi sekarang kenapa bisa koma, Dok?" tanya Dennis dengan nada tinggi.


"Maafkan saya, tetapi ini diluar dugaan kami. Semoga ada keajaiban untuk Nisa." Jawab Dokter Ridho.


Dennis meremas rambutnya, hatinya menjadi kacau. Tetapi perlahan ia mulai mengatur napasnya dan kembali tenang.

__ADS_1


"Bolehkah saya masuk?" tanya Dennis.


"Silahkan. Kalo. begitu saya tinggal dahulu, permisi." Jawab Dokter Ridho.


Dennis pun mengangguk dan beranjak memasuki ruang itu. Dennis tidak tega melihat keadaan Nisa saat ini. Dengan selang infus dan beberapa selang lain yang terpasang di tubuhnya. Dennis duduk disamping Nisa dan menggenggam tangan Nisa.


"Kamu harus kuat, Nis. Aku yakin kamu pasti bisa melewati ini." Ucap Dennis dengan air mata yang sudah menetes sedari tadi.


Tiba-tiba ponsel Dennis kembali berdering, tertera nama Mama di layar ponselnya.


"Nis, aku pamit dulu ya. Aku janji bakal nemenin kamu lagi." Ucap Dennis dan beranjak meninggalkan Nisa sendiri di ruang ICU.


"Halo, iya Ma." sapa Dennis setelah berada di luar kamar.


"Kamu kemana aja sih, Nak? Daritadi Mama tungguin." Tanya Yuyun dari seberang sana.


"Maaf Ma, ini aku masih perjalanan. Ini sudah mau deket kok." Jawab Dennis.


"Yasudah, cepat kamu kesini ya." Ucap Yuyun dan mengakhiri panggilannya.


Dennis menarik napas panjang dan kembali dengan ponselnya.


"Halo Bi Surti, bisa tolong saya sekarang. Tolong bawakan beberapa baju ganti saya dan antarkan ke Rumah Sakit Harapan. Saya tunggu di kamar Melati ya Bi, Terima kasih." Ucap Dennis pada ART yang selama ini tinggal di Apartemennya.


Setelah mendapat jawaban dari Bi Surti, Dennis pun mengakhiri panggilannya.


Dennis sebenarnya sudah memiliki tempat tinggal sendiri, meski sebuah Apartemen yang tidak sebesar rumah Herman tetapi ia nyaman tinggal disana. Selama Dinas di luar kota, Bi Surti menempati berdua dengan 1 ART lain di apartemen itu. Kehadiran Nisa di rumah Herman membuat Dennis tidak menjamah Apartemennya sama sekali.


Dennis berjalan menuju kamar Melati, tempat Herman dirawat. Sesampainya di kamar Herman, Dennis disambut oleh celotehan Yuyun.


"Kamu darimana saja sih, Nak? Mas kamu sudah sadar, tapi kamu enggak mampir ke kamarnya." Celoteh Yuyun.


"Maaf Ma, tadi aku enggak sengaja ketemu teman aku yang kebetulan dirawat disini juga jadi Aku mampir jenguk dia sebentar." Jawab Dennis berbohong.


"Yasudah Ma, enggak apa-apa. Aku juga udah membaik kok." Sahut Herman.


"Iya Ma, kalian pulang saja. Aku akan tunggu disini." Sahut Dennis.


"Yasudah, Mama sama Rima balik dulu ya. Inget ya Dennis, jangan pergi sebelum Mama datang besok. Jangan tinggalin Mas kamu lagi." Ucap Yuyun.


Dennis pun mengangguk dan mencium tangan Yuyun, begitupun dengan Herman. Yuyun dan Rima pun beranjak meninggalkan kedua Pria itu di kamar Melati.


Dennis pun duduk di sofa yang tersedia disana. Perasaannya cemas memikirkan kondisi Nisa. Tetapi ia mencoba mengalihkan kecemasannya agar Herman tidak curiga, ia tahu betul kalo Kakak satu-satunya ini peka terhadap mimik wajah seseorang. Dennis mulai menyalakan televisi dan mencoba menikmati acara yang tersedia. Meski pandangannya tertuju pada TV tetapi pikirannya melayang memikirkan Nisa.


"Nisa kemana sih? Kok nomornya enggak aktif. Apa dia belum sampai Surabaya?" Celetuk Herman setelah mencoba menghubungi Nisa beberapa kali.


Dennis pun menoleh kearah Herman.


"Mungkin baterainya habis, Mas." Sahut Dennis.


SEBELUM OPERASI..


"Mas, aku nitip barang-barang aku sementara ya termasuk ponsel aku. Jangan hubungi aku dulu selama operasi karena nanti Dokter Ridho keganggu pasti hehee.. Tapi HP nya sudah aku non-aktifkan kok. " Ucap Nisa seraya menyerahkan tas kecil berisi ponsel dan dompet bersamaan dengan 2 tas ranselnya.


"Oke, nanti aku simpan di Apartemen ku biar aman." Sahut Dennis seraya memasukkan barang-barang Nisa ke bagasi mobilnya, kecuali Tas kecil Nisa. Ia letakkan di dalam tas ransel yang biasa ia pakai saat pergi Dinas.


Mobil Dennis pun berjalan melewati macetnya Ibunya menuju Rumah Sakit Harapan.


KEMBALI KE KAMAR HERMAN..


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dennis. Dennis pun berjalan kearah pintu dan membuka pintu kamar itu.


"Permisi Den, ini baju yang Aden minta tadi." Ucap Bi Surti seraya menyerahkan sebuah tas ransel berisi pakaian dan perlengkapan lain.


"Oh iya, Terima kasih, Bi." Balas Dennis dan membiarkan Bi Surti masuk.


"Ya Allah Den Herman, kenapa atuh?" tanya Bi Surti cemas.


"Aku habis operasi, Bi. Bi Surti enggak usah khawatir, sebentar lagi juga sembuh kok." Jawab Herman.

__ADS_1


Bi Surti sudah lama bekerja dengan keluarga Yuyun dan beliau dulu bekerja sebagai ART sekaligus Nanny untuk Dennis. Oleh karena itu hingga kini Bi Surti menjadi ART di Apartemen Dennis dibantu dengan 1 ART lain.


"Bi Surti gimana kabarnya?" tanya Herman.


"Alhamdulillah baik atuh, Aden." Jawab Bi Surti.


"Semoga Aden lekas sembuh ya." Tambah Bi Surti.


"Aamiin, Terima kasih, Bi." Sahut Herman.


"Oiya Bi, bukannya hari ini Bibi mau nemenin Mbak Ola nonton drakor ya." Ucap Dennis seraya memegang bahu Bi Surti.


"Ayo aku antar ke lobby, Bi." tambah Dennis.


"Tapi, Den.. "


Belum juga Bi Surti menyelesaikan pembicaraan, tetapi Dennis sudah menyela.


"Maaf ya Mas, Bi Surti harus kembali ke Apartemen karena Mbak Ola kasihan disana sendiri." Ucap Dennis dan menuntun Bi Surti keluar dari ruang Melati.


Herman hanya geleng-geleng melihat kejadian itu. Ia kembali pada ponselnya dan mencoba menghubungi Nisa kembali. Herman juga berkali-kali mengirimkan pesan Whatsapp kepada gadis itu.


"Kemana kamu, Nisa." Celetuk Herman gusar.


Sementara Dennis di lorong Rumah Sakit berjalan bersama Bi Surti.


"Maaf ya Bi, saya terpaksa berbohong. Karena ada hal lain yang ingin saya beritahu pada Bibi. Saya mau minta tolong lagi sama, Bi Surti." Ucap Dennis menghentikan langkahnya saat telah berada di depag kamar ICU.


"Minta tolong apa, Aden?" tanya Bi Surti.


Dennis mengajak Bi Surti untuk masuk ke dalam dan masih terbaring Nisa disana. Hati Bi Surti merasa kasihan dengan pasien perempuan yang terbaring disana.


"Aku minta tolong buat jagain perempuan ini, Bi. Aku mohon ya, Bi." Jawab Dennis.


"Ya Allah, Dia siapa, Den?" tanya Bi Surti cemas.


"Dia perawatnya Mas Herman dan aku akan melamarnya setelah dia sembuh." Jawab Dennis.


"Jadi ini calon istri, Den Dennis?" tanya Bi Surti.


Dennis hanya mengangguk.


"Siapa namanya, Den? Cantik pisan calonnya, Aden." tanya Bi Surti.


"Nisa, Bi." Jawab Dennis.


"Apakah Dia sakit parah, Den?" tanya Bi Surti.


Dennis hanya menggeleng seraya menggenggam tangan Nisa.


" Dia koma setelah menjadi pendonor untuk Mas Herman. Nisa rela menjadi pendonor ginjal untuk Mas Herman agar Mas Herman bisa segera sembuh, Bi. Sayangnya Aku harus merahasiakan ini dari siapapun. Tolong Bibi jangan kasih tahu siapapun ya, termasuk Mama dan Mas Herman." Jawab Dennis.


"Ya Allah.. Baik sekali Non Nisa ini, semoga Dia segera sembuh. Bibi janji akan rahasiakan ini, Den." Ucap Bi Surti.


"Terima kasih, Bi. Maaf saya harus kembali ke kamar Mas Herman." Ucap Dennis dan melepaskan pegangan pada tangan Nisa.


"Iya, Aden." Sahut Bi Surti.


"Lekaslah bangun, Nis. Aku membutuhkanmu." Ucap Dennis lirih dan mencium kening Nisa.


Setelah itu Dennis beranjak meninggalkan ruang ICU dan berpindah ke kamar Herman.


***


Semoga enggak bosen ya sama jalan ceritanya 😊


Author Terima kasih sekali sudah menyempatkan mampir untuk membaca cerita ini, jangan lupa like, share dan favoritkan cerita ini ya agar tidak ketinggalan episode terbaru


Mau komen juga boleh, Terima kasih 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2