
Menjelang malam, Nisa menunggu kedatangan suaminya dari balik jendela ruang tamu.
"Tumben Mas Herman belum datang?" gumam Nisa cemas.
"Atau aku telpon saja ya? Ahh sebaiknya tidak dulu, takutnya dia sedang rapat." tambahnya.
Nisa pun memutuskan untuk menunggu di ruang tamu. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Nisa pun menghela napas panjang.
"Sepi juga ya kalo cuma tinggal berdua. Nanti kalo sudah punya anak pasti bakal rame ini rumah." Ucap Nisa.
"Iya pasti rame dong." Sahut Herman seraya berjalan mendekati Nisa.
"Eh Sayang, sejak kapan pulang? Kok Aku enggak dengar suara gerbang depan?" tanya Nisa dan mencium tangan Herman.
"Baru aja." Jawab Herman dan ikut duduk disamping Nisa.
Nisa membantu Herman melepaskan Jas hitamnya kemudian melepaskan sepatu beserta kaos kaki dan menggantinya dengan sandal santai.
"Sayang, mandi dulu gih biar aku siapkan makan malam." Ucap Nisa.
Herman pun mengangguk dengan senyum. Nisa beranjak dapur untuk menghangatkan kembali menu makan malam dan menatanya di meja makan. Tak lama Herman datang dan menikmati makan malam bersama.
*
"Hei Mbak, tolong cepat sedikit karena yang lain juga mau bayar." Celetuk seorang pria yang berdiri dibelakang Rima.
__ADS_1
"Sabar dong, enggak tahu apa ini lagi trouble kartunya." Balas Rima dengan nada tinggi.
"Kalo enggak punya duit, jangan sok-sok an belanja banyak dong." Ucap pria itu.
"Pakai ini aja." Ucap seorang pria lain seraya menyerah sebuah kartu bank kepada kasir.
"Hei, kamu kira saya tidak bisa bayar?" Ucap Rima kesal.
"Ini Pak, silahkan pin nya." Ucap sang kasir.
"Terima kasih ya, Mbak." Balas Pria itu setelah menerima kartu bank nya kembali.
Pria itu berjalan keluar dari toko tanpa menghiraukan ocehan Rima. Setengah berlari Rima mengejar pria itu dan menghadang pria tersebut.
"Apa kamu mau menggantinya sekarang?" tanya Pria itu, sebut saja Yudha.
"Berikan nomor rekeningmu, nanti akan aku ganti." Jawab Rima angkuh.
Yudha pun mengambil dompet dari sakunya dan mengeluarkan secarik kartu nama lalu menyodorkan kepada Rima.
"Jika kamu sudah punya uang, kamu bisa hubungi aku di nomor itu." Ucap Yudha dan beranjak pergi meninggalkan Rima yang masih terbengong di posisinya.
*
"Sayang, kamu ingin punya anak berapa?" tanya Herman seraya memeluk Nisa dari belakang.
__ADS_1
"Hmm.. Berapapun aku aku terima. Karena anak itu hadiah terindah dari Tuhan." Jawab Nisa seraya menatap keramaian jalan malam itu.
Melihat pemandangan keramaian kota dari atas balkon memang menyenangkan ditemani angin sepoi-sepoi yang menambah keromantisan suasana malam itu.
"Baiklah, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita." Ucap Herman.
Nisa pun tersenyum mendengar perkataan Herman. Ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan saat ini. Herman meletakkan kepalanya di bahu Nisa dan menatap jalanan ramai malam itu.
"Apakah Mama akan baik-baik saja jika kita tinggal keluar kota?" tanya Nisa cemas.
"Aku sudah memastikan tadi. Mama akan menghubungi kita saat terjadi sesuatu. Jangan cemas, Sayang." Jawab Herman.
"Baiklah. Sebaiknya kita kembali ke kamar, udara disini mulai dingin." Ucap Nisa dan mencoba melepaskan rangkulan Herman.
Kini Nisa berbalik dan mereka saling berhadapan. Keduanya saling menatap satu sama lain selama beberapa detik dan
Cupp.. Herman pun memulai ciuman itu. Nisa pun mengikuti permainan Herman. Setelah beberapa saat, Herman pun menggendong Nisa untuk masuk ke dalam ruang kamar.
"Apakah kita bisa memulainya malam ini?" tanya Herman lirih.
Nisa pun mengangguk dengan senyum. Herman pun menutup pintu yang menghubungkan kearah balkon. Setelahnya keduanya menikmati malam pertama yang panjang.
***
Terima kasih ❤️
__ADS_1