
"Kamu tenang aja, aku pasti bakal pisahin mereka berdua." Ucap Lala pada orang diseberang telepon.
"Bagus. Jangan sampai kamu menggores sedikit saja kulit wanitaku atau kamu yang harus menanggung resikonya." Balas orang di seberang telepon.
Lala pun memutus panggilan teleponnya dan menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk kamarnya.
"Aku pastikan kamu akan kembali padaku Herman Maulana." Ucap Lala sombong.
...****************...
"Wahh.. kok tumben kesini enggak ngabarin Mama dulu?" Tanya Yuyun seraya menyambut kedatangan Nisa dan Herman.
"Hehe.. Kejutan dong, Ma." Jawab Nisa dengan senyum.
"Kami ada satu kejutan lagi untuk, Mama." Ucap Herman tak sabar.
"Wah.. apa itu? Mama lihat kalian enggak bawa apa-apa." Tanya Yuyun.
"Kita masuk dulu yuk, Ma." Ucap Herman.
Mereka pun berjalan menuju ruang tamu.
"Jadi mana kejutan buat Mama?" tanya Yuyun penasaran.
Herman pun memegang tangan Yuyun dan mengarahkannya kearah perut Nisa.
"Kejutan Mama ada didalam sini." Ucap Herman.
"Kamu hamil, Sayang?" tanya Yuyun memastikan.
Nisa pun mengangguk dengan senyum.
"Baru 2 minggu, Ma." Sahut Nisa.
"Wahh.. Selamat ya, Mama seneng banget akhirnya Mama bisa gendong cucu." Ucap Yuyun seraya merangkul Nisa.
"Kalo gitu selama hamil kamu harus tinggal disini biar kamu ada yang jagain kan Herman belakangan sibuk kerja." Tambah Yuyun.
"Jangan dong, Ma. Nanti aku sama siapa di rumah? Mending Mama aja yang tinggal di rumah kami." Sahut Herman.
"Kan kamu bisa tidur disini juga. Kalo kamu kerja kan enggak ada yang jagain istri kamu, hayo.." Sahut Yuyun.
"Aku bisa pulang kapan saja kok, Ma. Mama tenang aja." Ucap Herman.
"Jadi Nis, kamu pilih tinggal sama siapa?" Tanya Yuyun.
"Aku apa kata Mas Herman aja, Ma." Jawab Nisa.
"Mama bisa mengunjungi Nisa tiap hari kok." Ucap Herman.
"Baiklah, Mama mengalah. Tapi kamu harus janji Herman, kalo kamu harus jaga Nisa dan kabarin Mama kalo terjadi sesuatu." Ucap Yuyun.
"Siap, Ma." Balas Herman.
Mereka pun larut dalam obrolan hingga waktu menunjukkan pukul 1 siang.
"Wah udah lewat jam makan siang, biar Mama masakin sesuatu ya." Ucap Yuyun dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Biar Nisa bantu, Ma." Sahut Nisa dan ikut bangkit.
"Eh, aku enggak ijinin kamu. Inget kata Dokter kalo kamu enggak boleh capek-capek." Ucap Herman memegang tangan Nisa.
"Iya Sayang, sebaiknya kamu istirahat aja di kamar nanti kalo sudah siap kita makan bareng." Ucap Yuyun.
"Gimana kalo Mas Herman yang bantuin Mama masak? Soalnya masakan Mas Herman enak banget. Mau kan, Sayang." Ucap Nisa.
"Hah? Aku ikut masak?" tanya Herman terkejut.
"Iya Sayang, ini permintaan baby lho pengen dimasakin sama Papanya." Jawab Nisa seraya mengelus perutnya.
Yuyun pun tersenyum melihat tingkah menantunya. Pasalnya tingkahnya hampir mirip saat dia tengah hamil Herman. Herman pun menghela napas dan ikut bangkit menuruti permintaan istrinya.
Kini Herman, Yuyun dan Nisa tengah asyik memasak bersama meski tugas Nisa hanya mengaduk sup tetapi bagi Yuyun itu sudah cukup. Setelahnya mereka menikmati makan siang bersama.
...****************...
5 Bulan berlalu...
Kini kandungan Nisa sudah menginjak usia 5 Bulan lebih. Hubungan rumah tangga mereka kian harmonis dan Nisa melupakan kejadian hari dimana Lala mengatakan akan merebut Herman darinya.
Saat tengah asyik menonton TV bersama di ruang keluarga, tiba-tiba suara bel pintu berbunyi.
"Siapa yang bertamu malam-malam di jam 10?" tanya Herman heran.
"Biar aku yang buka pintu ya." Balas Nisa.
"Biar aku aja, Sayang. Ini bukan waktunya untuk bertamu. Kamu tunggu sini ya." Sahut Herman dan dibalas anggukan Nisa.
Herman pun beranjak menuju pintu dan membuka pintu rumahnya. Sontak seorang wanita menghambur memeluknya. Penampilannya sedang tak baik-baik saja. Rambut yang acak-acakan, pakaian yang sobek di beberapa bagian dan bekas air mata di wajahnya.
"Hei.. Kamu kenapa, La?" tanya Herman cemas.
"Ma.. mantan aku mau bunuh aku. To.. tolong aku." Jawab Lala masih dipelukan Herman.
Nisa POV
"Mas Herman kok lama ya? Apa betul itu Tamu?" Gumam Nisa yang akhirnya bangkit lalu beranjak menyusul Herman.
"Siapa tamunya, Say... " Belum selesai perkataannya, hatinya tersayat saat melihat suaminya tengah berpelukan dengan seorang wanita.
"Mas!" Ucap Nisa dengan nada agak tinggi.
Back to Reality..
"Eh Sayang, ini enggak seperti yang kamu lihat." Bela Herman dan melepaskan pelukan Lala.
Nisa pun mencoba menahan emosinya dan berkata dengan lembut,
"Mbak Lala, kenapa? Sebaiknya kita masuk dulu dan duduk di ruang tamu."
Herman pun lega karena istrinya tidak marah. Mereka pun berjalan menuju ruang tamu. Nisa beranjak menuju dapur dan menyiapkan minuman untuk Lala.
"Ini Mbak, silahkan minum dulu." Ucap Nisa seraya menyodorkan segelas air putih.
"Nah, sekarang kamu sudah tenang, La?" tanya Herman.
__ADS_1
Lala pun mengangguk.
"Coba ceritain apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Herman.
"Ma.. mantan aku mau bunuh aku. Dia sempat nyiksa dan kunci aku di apartemennya tapi untungnya aku bisa kabur. Tolong ijinin aku tinggal disini, cuma disini tempat teraman buat aku." Jawab Lala.
"Maaf Mbak Lala, enggak bisa tinggal di rumah ini lagi. Sebaiknya Mbak Lala cari hotel terdekat." Sahut Nisa.
"Untuk malam ini kamu boleh menginap disini. Besok aku bantu cari hotel untuk kamu." Ucap Herman.
"Mas.. "
"Nanti kita bicara di kamar ya, Sayang." Ucap Herman seraya menggenggam tangan Nisa.
Karena kecewa dengan jawaban suaminya, Nisa pun beranjak meninggalkan Herman dan Lala. Nisa bersembunyi di balik selimut dan menangis dalam diam.
"Kenapa kamu ijinin masuk ke kehidupan kamu lagi, Mas? Apa kamu masih mencintainya?" Batin Nisa.
Sementara Herman mengantarkan Lala ke kamar tamu.
"Kamu bisa temenin aku sebentar disini, Her? Aku takut kalo mantanku datang kesini." Ucap Lala seraya memeluk Herman.
"Kamu aman kok disini, dia enggak akan bisa nyakitin kamu." Ucap Herman seraya melepas pelukan Lala.
"Maaf La, aku enggak bisa temenin kamu karena aku harus jaga Nisa. Aku panggilin Bi Dina ya biar temenin kamu." Tambah Herman.
"Enggak usah Her, sebaiknya aku tidur sendiri." Ucap Lala.
Herman pun mengangguk dan berlalu kembali ke kamarnya.
"Lihat aja, aku pasti bakal dapetin kamu lagi." Batin Lala.
Dikamarnya, Herman melihat Nisa bersembunyi dibalik selimut lalu ia membuka selimut itu dan melihat Nisa tertidur. Saat mengamati wajah istrinya dari dekat, tampak bekas air mata kering di pelupuk matanya.
"Maafkan aku, Sayang." Ucap Herman lirih dan mencium kening istrinya.
Nisa yang belum tertidur dapat mendengar jelas ucapan suaminya tetapi hatinya masih kecewa dan tak ingin membahas apapun.
...****************...
"Apa yang sudah kamu lakukan? Apa salahku?" tanya Rima dengan emosi.
"Itu balasan untuk Nona sombong sepertimu. Aku hanya merenggut satu sesuatu berharga dalam dirimu, terima kasih untuk malam ini." Jawab Yudha.
Rima pun turun dari ranjang dengan berbalut selimut dan beranjak menghampiri Yudha yang telah berpakaian rapi.
Plakk...!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Yudha.
"Berani kamu padaku, lihat saja aku akan membalasmu." Ucap Rima emosi.
"Apa yang bisa Nona Rima lakukan padaku? Apa kamu akan mengadu pada Papa mu jika aku yang menidurimu? Katakan saja pada Pak Tua itu. Jika sampai kamu mengatakan padanya, maka aku akan mengirim Pak Tua bertemu dengan Almh. Ibumu." Ancam Yudha dan beranjak pergi meninggalkan Rima.
Seketika kakinya lemas, Rima pun terduduk di lantai kamar hotel itu.
"Dasar cowok bre***k." Teriak Rima putus asa.
__ADS_1
...****************...