Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Pesta


__ADS_3

"Hei pria sok pahlawan, cepat berikan nomor rekeningmu!" Ucap Rima dengan nada dingin pada seseorang diseberang telepon.


"Nomor rekening?" tanya Yudha heran.


"Ya, kamu pria yang sok jadi pahlawan di mall. Cepat berikan nomor rekeningmu karena aku tidak mau berutang pada siapapun terutama kamu." Jawab Rima dengan nada kesal.


"Ahh.. Aku baru ingat. Baik aku akan infokan nomor rekeningku kepada Nona Rima."


"Hei, darimana kamu tahu namaku?"


Terdengar suara tawa renyah Yudha dari seberang sana yang membuat Rima kian kesal.


"Itu tidak penting. Apakah kamu sudah punya uang untuk mengganti?"


"Hei, jangan meremehkanku. Aku ini putri seorang konglomerat, mana mungkin aku tidak punya uang. Hanya saja waktu itu ATM sedang trouble."


"Ya ya ya.. terserah kata Nona Rima saja. Kalo begitu Aku akan kirimkan pesan WhatsApp untuk nomor rekeningku. Selamat malam, Nona Rima."


Setelahnya Yudha pun memutuskan panggilan teleponnya.


"Permainan baru dimulai, mari kita nikmati." Ucap Yudha lirih.


*


Herman meraba sisi ranjang disampingnya, namun ia tak menemukan seseorang yang dicarinya. Perlahan ia membuka kedua matanya dan raut mukanya berubah kecewa.


"Sudah kuduga." Gumam Herman.


Herman pun bangkit dari tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi.


"Mbak Dina, tolong bantu tiriskan mie nya ya." Ucap Nisa.


"Iya, Nis." Jawab Dina dan beranjak menuju sudut dapur.


"Wahh.. Sayang, masak apa hari ini?" tanya Herman seraya memeluk Nisa dari belakang.


"Eh.. Tolong jangan gini dong, Sayang." Bisik Nisa.


"Lho kenapa? Kan kita udah nikah, jadi bebas dong." Sahut Herman.


"Malu dong ada Mbak Dina." Bisik Nisa.


Seketika Herman pun menyusuri pandangannya ke sekitar dapur dan benar saja ia menemukan Dina tengah menatap kearahnya dan Nisa. Sontak Herman pun melepaskan pelukannya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ehem.. Aku tunggu di meja makan ya, Sayang." Bisik Herman di telinga Nisa.


Melihat tingkah Herman, Nisa dan Dina pun hanya saling pandang dan tertawa kecil.


"Tuan Herman, kalo lagi manja lucu ya." Bisik Dina setelah mendekati Nisa.


Nisa hanya mengangguk dengan senyum. Keduanya kembali sibuk memasak di dapur dan diselingi obrolan ringan. Tak lama menu sarapan pun telah siap dan Nisa dibantu Dina menata rapi di meja makan.


"Nasi nya segini cukup?" tanya Nisa seraya menyendokkan nasi ke piring Herman.


"Udah Sayang, makasih ya." Jawab Herman.


"Hari ini Sayang pulang malam lagi?" tanya Nisa.

__ADS_1


"Mungkin iya. Kenapa, Sayang? Mau nitip sesuatu?" Jawab Herman.


"Ahh.. enggak kok. Cuma tanya aja." Balas Nisa.


"Jangan nungguin aku di ruang tamu. Kalo capek kamu langsung tidur aja." Ucap Herman.


"Mana bisa aku tidur sendiri." Ucap Nisa.


"Ehem.. Dulu sebelum nikah kan juga tidur sendiri. Bilang aja kamu pengen aku nemenin kan? Hayo ngaku deh." Goda Herman.


"Ihh... Sayang apaan sih. Maksud aku, mana bisa istri tidur disaat suaminya belum pulang kerja." Sahut Nisa.


"Masak sih? Enggak deh, aku yakin kamu pengen tidurnya ditemenin aku kan? Huu dasar, gitu aja gengsi enggak mau ngobrol." Celetuk Herman.


"Ihh.. Yaudah aku nanti tidur duluan. Awas aja kalo kamu bangunin aku." Ucap Nisa pura-pura marah tetapi sebenarnya tidak.


*Ehh jangan dong, Sayang." Cegah Herman.


"Kita harus melakukan ritual malam lagi." Bisik Herman.


Mendengar kalimat terakhir Herman, Nisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan menikmati sarapannya.


*


"Apa kalian belum berhasil menemukan gadis itu?" tanya Ramon pada seseorang diseberang telepon.


Ramon pun menghela napas panjang dan menutup teleponnya.


"Kamu pergi kemana? Kenapa tidak ada petunjuk satu pun yang bisa kuperoleh." Keluh Ramon.


Tok..tok.. tok..


Seorang wanita berpakaian rapi berjalan masuk ke dalam ruangan Ramon.


"Permisi, Pak. Ada Pak Herman datang beliau mau bertemu dengan Bapak." Ucap Sekretaris itu ramah.


"Oh iya, ajak masuk saja." Ucap Ramon.


"Baik, Pak. Permisi." Balas sang sekretaris dan beranjak meninggalkan ruangan Ramon.


Tak lama Herman melangkah masuk ke dalam ruangan Ramon.


"Halo, Pak Herman. Silahkan duduk." Sapa Ramon seraya mempersilahkan Herman duduk di sofa tamu, kemudian mereka saling berjabat tangan.


"Kalo boleh tahu ada kepentingan apa sampai Bapak Herman datang ke kantor saya?" tanya Ramon.


"Begini Pak, saya mau memberikan copy an kontrak kerjasama kita. Maaf kemarin ketinggalan di mobil saya." Jawab Herman dan menyerahkan sebuah amplop berisi beberapa kertas dokumen.


"Terima kasih, Pak Herman sudah repot-repot mengantarkan kesini." Ucap Ramon seraya menerima amplop itu.


"Tidak repot kok, Pak. Kebetulan setelah ini saya mau makan siang bareng istri saya, jadi sekalian mampir kesini." Ucap Herman.


"Ah iya, ini kebetulan nanti malam saya ada pesta kecil-kecilan, Pak Herman harus datang bersama istri Bapak ya." Ucap Ramon dan menyerahkan sebuah undangan.


"Baik Pak, nanti saya ajak istri saya." Ucap Herman dengan senyum.


"Sekali lagi saya terima kasih, Pak." Ucap Ramon.

__ADS_1


"Saya juga terima kasih atas undangannya, Pak. Kalo begitu saya pamit ya, Pak Ramon." Ucap Herman dan bangkit dari duduknya kemudian menjabat tangan Ramon.


*


Malam pun tiba, Herman mengemudikan mobilnya menuju sebuah hotel tempat pesta Ramon diadakan.


"Terima kasih ya Sayang, sudah mau ikut ke acara ini." Ucap Herman seraya menoleh kearah Nisa.


"Kenapa harus berterima kasih? Sudah tugasku untuk menemani suamiku." Balas Nisa dengan senyum.


Keduanya pun saling menatap dengan senyum mengembang. Tak lama mobil berhenti di parkiran hotel. Nisa dan Herman pun turun dari mobil dan melangkah memasuki ruang hotel yang dimaksud.


"Sayang, aku mau ke toilet dulu. Kamu masuk saja dulu, nanti aku menyusul." Ucap Nisa saat menemukan sebuah ruangan bertuliskan toilet.


"Baiklah, aku tunggu di dalam ya." Ucap Herman.


Nisa pun mengangguk dan beranjak meninggalkan Herman. Untungnya ruang pesta masih satu area dengan toilet itu.


"Halo, Pak Herman." Sapa Ramon menyambut Herman.


"Halo, Pak Ramon. Selamat ulang tahun ya." Balas Herman dan menjabat tangan Ramon.


"Terima kasih, Pak Herman." Ucap Ramon.


"Hmm.. Ngomong-ngomong apakah Pak Herman datang sendiri?" tanya Ramon.


"Ahh tidak, kebetulan istri saya tadi mampir ke toilet dulu. Sebentar lagi dia akan menyusul." Jawab Herman.


"Wahh, terima kasih sudah datang ke pesta saya. Silahkan menikmati hidangannya, Pak." Ucap Ramon dan mengajak Herman menuju tempat makanan dihidangkan.


Herman, Ramon dan beberapa pria berjas hitam pun asyik mengobrol membahas hal bisnis. Tanpa sengaja seorang anak kecil yang tengah membawa minuman menyenggol Ramon dan menumpahkan minumannya ke kemeja Ramon. Melihat hal itu, beberapa tamu mengira Ramon akan memarahi anak kecil itu.


"Halo adik kecil, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ramon ramah.


Anak kecil yang ketakutan itu hanya tertunduk dan mengangguk.


"Syukurlah. Mau Om ambilkan minuman lagi untukmu?" tanya Ramon.


Anak kecil itu menatap Ramon dengan tak percaya dan mengiyakan pertanyaan Ramon. Dengan senyum manisnya Ramon pun beranjak mengambilkan segelas jus jeruk dan menyerahkan ke anak kecil itu.


"Terima kasih, Om." Ucap si anak kecil.


"Sama-sama, lain kali hati-hati ya karena itu bisa melukaimu." Tutur Ramon.


Setelah menatap kepergian anak kecil tadi, Ramon pun beranjak menuju toilet untuk membersihkan kemejanya. Di pintu toilet ia berpapasan dengan gadis yang selama ini ia cari. Hatinya bergetar haru dan senang saat merasa telah menemukan gadis pujaannya.


"Akhirnya aku menemukanmu." batin Ramon.


Ramon sengaja menghadang langkah gadis itu.


"Hai.." Sapa Ramon.


"Siapa ya?"


Gadis itu mencoba mengingat siapa pria di depannya ini.


"Mas Ramon?"

__ADS_1


**


Terima kasih ❤️


__ADS_2