
Setelah kepergian Nisa, Yuyun segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Dennis.
"Halo, Ma!" Sapa Dennis diseberang sana.
"Gimana keadaan kamu, Sayang? " tanya Yuyun.
"Aku baik kok, Ma. Mama gimana?" Jawab Dennis.
"Mama baik, Sayang. Nisa juga membaik disini kondisinya." Balas Yuyun.
"Syukurlah, Ma. Dennis nitip tolong jagain Nisa ya, Ma."
"Pasti, Sayang. Oiya, Mama mau tanya sama kamu."
"Tanya apa, Ma?"
"Apa kamu serius dengan Nisa?"
"Iya Ma, Dennis serius sama Nisa. Dennis menyukai Nisa sejak beberapa hari kenal dia. Setelah pulang dari Dinas, Dennis akan menikahi Nisa Ma. Dennis sudah mengurus semua persiapannya. Mama akan merestui aku dengan Nisa kan, Ma?"
Yuyun terdiam dan berpikir sejenak. Ia teringat dengan Herman yang juga menyukai Nisa. Herman yang membatalkan perjodohan dengan Rima demi keinginan menikah dengan Nisa. Herman hampir putus asa saat Nisa menghilang selama sebulan lebih. Tetapi di satu sisi Dennis juga merawat Nisa selama satu bulan lebih. Hatinya bimbang dan akhirnya berkata,
"Mama merestui pernikahan kalian."
"Terima kasih, Ma." Ucap Dennis.
Tak lama Yuyun memutus panggilan teleponnya.
*
"Kenapa kamu mengkhianati aku." Ucap Herman lemah.
"Apa maksud, Mas Herman?" tanya Nisa bingung.
"Kenapa kamu memilih tidur dengan dia? Bukankah kamu menyukaiku?" tanya Herman seraya memegang dagu Nisa.
"Aa.. apa maksud, Mas?" tanya Nisa semakin tak mengerti.
Herman melepaskan tangannya dari dagu Nisa dan tertunduk lemah.
"Tolong katakan apa maksud Mas Herman, sebenarnya? Apakah aku salah jika tidur bersama dengan suamiku?" tanya Nisa kian penasaran.
"Dia bukan suamimu." Jawab Herman lemah.
"Ma.. maksud Mas Herman bagaimana? Mas Dennis suamiku, Dia yang selama ini merawatku selama aku sakit di Rumah Sakit. Bagaimana bisa Mas Dennis bukan suamiku?" tanya Nisa kian penasaran.
"Jawabannya ada di Dennis." Jawab Herman lemah.
Nisa pun terdiam dan mencoba menahan rasa sakit di kepalanya.
**
Nisa masih terngiang dengan jawaban Herman,
"Dia bukan suamimu."
__ADS_1
Malam ini terasa panjang bagi Nisa karena ia masih mencoba mencari jawaban dari ucapan Herman. Meski Nisa mencoba mengingat memori masa lalunya tetap saja hal itu tak jua Nisa dapatkan.
"Sepertinya aku harus mencoba untuk menanyakan kembali sama Mas Herman." Celetuk Nisa lirih.
Tepat pukul 02.00 dini hari, Nisa baru dapat memejamkan kedua matanya dengan lelap.
Keesokan paginya, seperti biasa Nisa menyiapkan sarapan untuk Yuyun dan Herman.
"Ma, aku berangkat ke kantor dulu ya." Ucap Herman dan mencium tangan Yuyun.
"Lho, kamu enggak sarapan dulu Sayang?" tanya Yuyun.
"Nanti aku sarapan di kantor aja, Ma. Maaf aku ada meeting pagi ini jadi buru-buru ke kantor." Jawab Herman dan berlalu pergi.
Nisa hanya menatap kepergian Herman dengan sendu.
"Kamu enggak apa-apa, Nis?" tanya Yuyun mengalihkan pandangan Nisa dari langkah Herman.
"Ahh.. enggak apa-apa kok, Ma." Jawab Nisa dan duduk di meja makan.
Yuyun dan Nisa terlibat obrolan seru saat acara sarapan berlangsung. Kedekatan mereka layaknya Ibu dan anak.
**
"Ma, aku boleh nggak minta alamat kantornya Mas Herman?" tanya Nisa menghampiri Yuyun di ruang tamu.
Yuyun menatap Nisa heran.
"Untuk apa, Sayang?" tanya Yuyun balik.
"Hmm.. Tadi kan Mas Herman enggak sarapan, jadi Nisa berniat mau bawain makan siang, Ma." Jawab Nisa.
"Terima kasih ya, kamu sudah perhatian sama anak Mama." Ucap Yuyun tersenyum.
Nisa pun mengangguk dengan senyum.
Tak lama setelah menyiapkan semuanya, Nisa berpamitan kepada Yuyun dan beranjak menuju kantor Herman dengan menaiki ojek online.
Sesampainya di kantor Herman, Nisa dibuat kagum oleh bangunan besar nan megah yang kini ada di hadapannya. Dengan perasaan ragu, Nisa pun bertanya kepada security yang berjaga di depan pintu masuk.
"Permisi, Pak. Apakah Mas Herman Firmansyah ada ditempat?" Tanya Nisa.
"Kebetulan Bapak Herman baru saja datang, Mbak. Ini Mbak Nisa ya? Istrinya Pak Herman?" Jawab sang Security.
"Ahh iya saya Nisa, Pak." Jawab Nisa.
"Akhirnya Mbak Nisa datang juga. Belakangan Bapak Herman cemas nyariin Mbak Nisa terus. 1 kantor tahu hal ini karena Pak Herman udah ngerahin semua orang suruhannya buat nyari Mbak Nisa, sampai beliau buat sayembara." Ucap sang Security.
"*Mas Herman nyariin aku? Tapi kenapa? Apa Dia tidak tahu kalo aku ada di RS?" Batin Nisa.
"Ah.. sebaiknya aku tanya langsung saja." tambah Nisa*.
"Ruangannya Mas Herman ada dimana ya, Pak?" tanya Nisa.
"Mari saya antar, Mbak." Jawab sang Security dan mulai beranjak dari tempatnya diikuti oleh Nisa dibelakangnya.
__ADS_1
Setelah menaiki lift dan berhenti di lantai 4, sang Security mulai mengetuk pintu kayu ruangan Herman.
"Permisi, Pak Herman." Ucap sang Security dari balik pintu.
"Siapa?" tanya Herman.
"Maaf Pak, ini ada tamu yang cari Bapak." Jawab sang Security.
"Ya, masuk saja." Sahut Herman.
"Mbak, silahkan masuk. Saya pamit kembali ke lantai bawah ya." Ucap sang Security.
"Iya Pak, Terima kasih banyak ya." Ucap Nisa.
Setelah sang Security pergi, perlahan Nisa membuka pintu ruangan Herman. Herman pun menoleh dan terkejut melihat kedatangan Nisa.
"Halo, Mas." Sapa Nisa dan berjalan menuju kearah meja Herman.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Herman dingin dengan mengalihkan pandangan kearah tumpukan kertas di depannya.
"Hmm.. ini ada titipan dari Mama. Bekal makan siang buat, Mas." Jawab Nisa seraya meletakkan kotak makan ke meja Herman dan sedikit mendorongnya kearah Herman.
"Ya, kamu tinggalkan saja disitu. Nanti aku makan." Ucap Herman dingin.
"Hmm.. Aku harus memastikan Mas Herman makan bekal ini dan membawa pulang kotak kosong." Ucap Nisa.
"Kotaknya akan kubawa pulang nanti." Sahut Herman.
"Ahh.. tidak, Mas. Aku akan menunggu saja disini sampai kotak ini kosong." Ucap Nisa.
"Dasar keras kepala." gerutu Herman dan mengambil kotak makan itu lalu beranjak menuju sofa kantor.
Nisa pun ikut menghampiri Herman dan duduk berhadapan dengan Herman. Herman bergegas menghabiskan makan siangnya karena ia tidak mau Nisa berlama-lama terus menatapnya. Nisa menyerahkan sebotol air minum yang tersaji di meja itu.
"Sudah habis, sekarang kamu boleh pulang." Ucap Herman seraya menyerahkan kotak makan yang sudah kosong.
"Terima kasih, Mas." Ucap Nisa.
Herman tak menggubris ucapan Nisa dan beranjak kembali ke kursi kerjanya.
"Mas, aku boleh bertanya?" tanya Nisa tetap duduk di sofa kantor itu.
"Hmm.. " Jawab Herman dingin.
"Tadi Pak Security yang antar aku bilang kalo aku istri Mas Herman dan beliau juga cerita kalo belakangan Mas cari aku. Apakah Bapak Security itu enggak tahu kalo aku ini adik ipar Mas Herman?" tanya Nisa.
Herman terdiam sejenak.
"Enggak usah digubris ucapan security itu. Anggap aja angin lalu." Jawab Herman.
"Bisakah Mas jelaskan siapa aku sebenarnya? Jadi aku ini istrinya Mas Herman atau Mas Dennis?" tanya Nisa berharap Herman berkata sejujurnya.
***
Semoga enggak bosen ya sama jalan ceritanya 😊
__ADS_1
Author Terima kasih sekali sudah menyempatkan mampir untuk membaca cerita ini, jangan lupa like, share dan favoritkan cerita ini ya agar tidak ketinggalan episode terbaru
Mau komen juga boleh, Terima kasih 🙏😊