Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Tolong jangan sekarang


__ADS_3

"Hei kita sudah menikah. Tolong jangan panggil aku Om lagi." Celetuk Herman.


"La..lu aku harus memanggil apa?" tanya Nisa gugup karena jarak antar keduanya kian mendekat.


"Panggil aku, Sayang." Ucap Herman lirih.


Cup.. Herman pun mulai mencium bibir Nisa dengan lembut membuat Nisa membulatkan matanya selama beberapa saat sebelum akhirnya ia memejamkan kedua matanya dan larut didalamnya.


Saat Herman akan melangkah lebih jauh, Nisa memberi isyarat penolakan.


"Kenapa? Kita kan sudah menikah." Tanya Herman.


"Tolong jangan sekarang. Ini bukan waktu yang tepat." Jawab Nisa lirih.


Herman pun menuruti permintaan Nisa dan menghentikan langkahnya. Ia pun beranjak menuju sofa, tetapi Nisa menahan lengannya.


"Lebih adil jika kita berbagi ranjang." Ucap Nisa.


Herman pun tersenyum dan merebahkan tubuhnya disamping Nisa.


"Tolong jangan melewati batas guling ini." Ucap Nisa seraya memegang guling yang kini berada di tengah kasur.


"Kenapa?" tanya Herman heran.

__ADS_1


"Turuti saja permintaan pertama istri kamu." Jawab Nisa dan berbalik membelakangi Herman.


Herman yang melihat tingkah Nisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkan oleh istri barunya saat ini. Herman pun memutuskan untuk kembali terlelap dalam mimpinya.


*


Satu bulan kemudian..


Perlahan Nisa mulai membuka kedua matanya dan ia melihat sisi sampingnya kosong.


Kemana perginya sang suami?


Nisa pun bangkit dari tidurnya dan pandangannya menyapu seluruh ruangan kamar itu, namun ia juga tak menemukan sosok suaminya. Akhirnya ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Selamat pagi, Sayang." Sapa Herman menoleh kearah Nisa lalu melanjutkan aktivitasnya.


"Pagi, Sayang. Lho kenapa enggak bangunin aku? Kok masak sendiri? Mbak Dina kemana?" tanya Nisa.


"Mbak Dina kan ijin selama satu minggu. Aku enggak mau ganggu tidur nyenyak kamu, ya jadi biar aku yang masak hari ini." Jawab Herman.


"Oiya ya.. Maaf aku lupa kalo Mbak Dina ijin. Yasudah kita masak bareng ya." Ucap Nisa.


Herman pun mengangguk dengan senyum. Keduanya memasak bersama layaknya sebuah tim di acara lomba masak. Setelah selesai memotong sayuran, Herman membawa sayuran yang sudah terpotong dan dicuci ke sebuah panci berisi air yang sudah dimasak Nisa diatas kompor.

__ADS_1


Herman sengaja berdiri dibelakang Nisa dan mulai memasukkan semua sayuran ke dalam panci.


"Terima kasih, Sayang." Bisik Herman lirih di telinga Nisa.


Nisa yang terkejut pun hanya terdiam. Herman pun merangkul kedua tangannya di perut Nisa. dan menyandarkan kepalanya di bahu Nisa.


"Aku ingin kita segera memiliki malaikat kecil." Bisik Herman seraya mengelus perut Nisa.


Nisa pun tersenyum tetapi masih melanjutkan aktivitas memasaknya. Herman yang merasa diabaikan pun mencoba menggoda Nisa dengan bisikan rayuannya. Karena sebal Nisa tak merespon, akhirnya Herman pun membalikkan tubuh Nisa yang kini mereka saling berhadapan.


Perlahan Herman pun mendekatkan wajahnya kearah Nisa dan Cup.. Pria itu berhasil mencium lembut bibir istrinya. Keduanya pun terhanyut dalam suasana romantis, saat Herman melangkah lebih jauh Nisa pun menghentikan langkahnya.


"Maaf kita tidak bisa melanjutkan ini Sayang, aku sedang kedatangan tamu." Bisik Nisa ditelinga Herman.


Mendengar hal itu Herman pun langsung lemas.


"Sabar ya, kita bisa mencobanya di lain hari. Atau mungkin di masa suburku." Tambah Nisa.


"Baiklah. Kapan kamu selesai?" tanya Herman tidak sabar.


"2 hari lagi." Jawab Nisa.


"Oke, 2 hari lagi aku akan ambil cuti dan kita akan pergi honeymoon." Sahut Herman.

__ADS_1


***


__ADS_2