
Malam itu ponsel Herman berdering, setelah melihat nama yang tertera di ponsel, ia bergegas mengangkat panggilan itu.
"Iya selamat malam, Dok." Sapa Herman.
"Apa Dok, ada pendonor yang mau mendonorkan ginjalnya untuk saya? Alhamdulillah.. Baik Dok, Terima kasih banyak." Ucap Herman dan tak lama memutus panggilan teleponnya.
Sangking senangnya, Herman langsung memeluk Nisa yang kini duduk bersama di sofa kamarnya.
"Selamat ya, Om." Ucap Nisa saat sambil menepuk perlahan bahu Herman.
Herman pun melepas pelukannya dan berkata,
"Terima kasih Nis, akhirnya sebentar lagi aku bisa sembuh."
"Hore.. Jadi sebentar lagi Om juga bisa kumpul lagi sama istri, Om." Ucap Nisa seraya bertepuk tangan.
Tetapi Herman hanya terdiam mendengar ucapan Nisa.
"Kok Om enggak seneng sih? Bukannya ini keinginan Om dari dulu ya, Om bisa sembuh lalu ajak Mbak Lala balik ke rumah, Om." Celetuk Nisa.
"Yahh sebentar lagi tugas Nisa sudah selesai." Tambah Nisa.
"Siapa bilang? Kamu harus tetap merawatku." Sahut Herman dan kembali memeluk Nisa.
"Apa aku harus kasih tahu Om yang sebenarnya, kalo Mbak Lala sama pria lain? Tapi ini terlalu jauh, batasanku hanya sebagai perawat Om Herman dan memastikan majikanku segera sembuh." batin Nisa.
"Hoaamm..." Nisa pun pura-pura menguap untuk memecahkan keheningan.
Herman pun melepaskan pelukannya dan menatap Nisa.
"Ini sudah malam, Om. Waktunya tidur, apa perlu Nisa antar ke ranjang?" tanya Nisa mengalihkan pandangannya.
Herman pun mengangguk dan bangkit dari duduk dibantu Nisa. Seperti biasa Nisa memasang selimut untuk Herman dan pamit kembali ke kamarnya. Saat akan menuju kamarnya, Nisa mendengar suara alunan gitar dari arah taman belakang. Karena penasaran Nisa pun menghampiri asal suara itu.
"Mas Dennis belum tidur?" tanya Nisa seraya berjalan menghampiri Dennis dan ikut duduk disampingnya.
"Eh Nisa, aku belum ngantuk aja. Mas Herman sudah tidur?" Jawab Dennis.
Nisa hanya mengangguk. Dennis kembali melanjutkan memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu "Widodari" dari Denny CakNan. Nisa pun ikut menyanyikan lagu itu dan pada saat reff suara mereka menyatu merdu. Mereka berdua asyik menyanyi dan mengobrol hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 1 malam. Rasa kantuk mulai menghampiri Nisa, sangking ngantuknya ia tertidur dan bersandar di bahu Dennis membuat pemuda itu sedikit terkejut tetapi hatinya juga nyaman.
Karena tidak mau membangunkan Nisa, Dennis meletakkan gitarnya kemudian mengambil bantal dibelakang tubuhnya lalu meletakkan diatas pahanya dan memindahkan kepala Nisa kebantal tersebut. Dennis juga mengubah posisi Nisa dan mensejajarkan kedua kaki Nisa. Tak lama Dennis pun ikut tertidur dengan posisi duduk dan tangannya memegang rambut Nisa.
Keesokan paginya, Nisa terbangun karena cahaya matahari menyilaukan matanya. Saat melihat posisi tidurnya, Nisa segera bangun dan duduk disamping Dennis. Nisa beranjak meninggalkan Dennis dan berjalan menuju kearah dapur.
__ADS_1
"Selamat pagi, Nisa." Sapa Dina.
"Selamat pagi, Mbak Dina." Balas Nisa.
"Mau nyiapin sarapan untuk Tuan Herman?" tanya Dina.
"Hmm.. belum, Mbak." Jawab Nisa seraya mengambil sekotak susu cair dari kulkas dan menuangkannya ke gelas.
"Nisa, mau minum susu? Jangan yang itu, soalnya itu punya Den Dennis." Ucap Dina.
"Ahh.. ini memang buat Mas Dennis, Mbak." Sahut Nisa dan pamit meninggalkan Dina.
Nisa pun kembali menghampiri Dennis dan dengan sengaja menempelkan segelas susu dingin ke pipi Dennis. Dennis yang terkejut pun langsung memegang tangan Nisa dan membuka matanya. Kini jarak wajah Nisa dan Dennis sangat dekat hingga Dennis dapat merasakan deru napas Nisa. Sesaat keduanya saling menatap satu sama lain.
"Selamat pagi, Mas Dennis." Sapa Nisa dan menarik diri menjauh dari Dennis.
"Ahh.. kamu mengganggu mimpi indahku." Gerutu Dennis.
"Hehe.. Maafkan Nisa ya. Sebagai permintaan maaf, ini Nisa bawakan susu kesukaan Mas Dennis." Ucap Nisa seraya menyerahkan segelas susu kearah Dennis.
Dennis pun menerima dan meminum susu pemberian Nisa.
"Uhhh.. ini terlalu dingin. Apa kamu enggak panasin dulu tadi?" tanya Dennis.
"Oh ya Mas, makasih ya kemarin sudah jaga Nisa sampai belain ikut tidur disini." Ucap Nisa.
"Itu enggak gratis lho." Celetuk Dennis.
"Hah? Harus bayar ya?" tanya Nisa.
"Iya dong. Sekarang enggak ada yang gratis. Hmm.. bayarannya, kamu harus antarkan susu cokelat hangat tiap pagi dan malam sebelum aku tidur." Jawab Dennis.
"Tapi selama satu minggu ini ya." tambah Dennis.
"Ahh.. itu sih gampang." Sahut Nisa.
Dennis pun tertawa mendengar jawaban Nisa.
"Hmm.. Yaudah ya Mas Dennis, Nisa ijin mau mandi ?lterus lanjut nyiapin keperluan Om Herman." Pamit Nisa.
Dennis pun mengangguk dan Nisa beranjak meninggalkan Dennis.
Selesai mandi dan bersiap, Nisa berjalan menuju kamar Herman. Setelah mengetuk pintu, Nisa membuka pintu dan terkejut saat melihat Yuyun, Herman dan seorang wanita tengah duduk di sofa kamar Herman.
__ADS_1
"Halo, Nisa." Sapa Yuyun tersenyum ramah.
"Halo, Ibu. Ibu sudah lama datang?" tanya Nisa dan berjalan mendekat kearah Yuyun.
"Ahh Ibu baru datang kok. Oiya kenalkan ini Rima, dan Rima ini Nisa." Jawab Yuyun.
"Nisa." Ucap Nisa seraya mengulurkan tangan kanannya.
"Rima." Jawab Rima tetapi acuh pada tangan Nisa.
Nisa pun menarik kembali tangannya dan tersenyum. Herman menatap Rima dengan tajam.
"Herman, sengaja Mama ajak Rima kemari karena dia baru pulang dari Malaysia dan ingin bertemu dengan kamu." Ucap Yuyun.
"Lalu apa hubungannya sama aku, Ma?" tanya Herman.
"Mama berencana akan menikahkan kalian berdua. Sebentar lagi kamu kan segera sembuh, jadi Mama rasa sudah saatnya kamu bahagia." Jawab Yuyun.
Herman menatap Nisa yang tertunduk. Ia ingin mengetahui reaksi gadis itu.
"Tapi Ma, Herman kan masih menjadi suami Lala. Lagian Herman masih mau fokus sama kesembuhan Herman." Sahut Herman.
"Mama sudah meminta Abdul untuk mengurus perceraian kalian berdua. Kamu bisa fokus pada kesembuhan kamu Sayang, biar Rima yang membantu kamu." Tutur Yuyun.
"Aku mau Nisa yang merawatku Ma, bukan Rima." Celetuk Herman.
"Herman! Rima ini gadis baik dan cantik. Pokoknya mulai sekarang Rima yang akan bantu merawat kamu. Nisa hanya membantu menyiapkan keperluan kamu saja sembari membantu tugas Dina." Perintah Yuyun.
"Baik, Bu." Jawab Nisa lirih.
"Nisa, sekarang kamu siapkan makanan dan obat untuk anak saya ya, lalu kamu bantu Dina di dapur. Biarkan Rima yang menyuapi Herman." Ucap Yuyun dan beranjak pergi.
Nisa hanya mengangguk dan beranjak menyiapkan sarapan sesuai instruksi Yuyun. Mendadak rasa sesak menjalar dihati Nisa.
"Memang Mbak Rima pantas menjadi pasangan Om Herman, kamu harus sadar posisimu Nisa. Lakukan pekerjaanmu dengan benar dan segera akhir semua." Batin Nisa menyemangati diri sendiri.
***
Terima kasih atas dukungannya ❤
Jangan lupa klik favorit ya agar dapat notifikasi update episode terbaru 😊
Mohon bantuannya untuk klik Vote juga ya, mau isi kolom komentar juga boleh 😁
__ADS_1