
"Jangan pergi." Ucap Herman lirih.
"Aku cuma mau nutup pintu balkon." Bisik Nisa dan mencoba melepaskan pelukan Herman.
Nisa beranjak menutup pintu Balkon lalu berlalu menuju kamar mandi. Herman pun meraba samping ranjangnya, namun ia tak menemukan Nisa disampingnya. Terdengar sayup-sayup percikan air dari kamar mandi.
Krittt... Terdengar suara pintu terbuka, Nisa pun berjalan menuju meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
"Jadi kamu mau menyenangkan suamimu malam ini?" tanya Herman mengagetkan Nisa.
Sontak Nisa pun menutup jubah tidurnya.
"E.. A.. Aku cuma mau coba baju baru aja." Jawab Bisa menoleh kearah Herman.
"Benarkah? Tapi Aku suka baju ini. Kamu terlihat sexy." Ucap Herman seraya melepas perlahan jubah tidur Nisa.
Nisa kini hanya memakai Dress tanpa lengan dengan model V yang menampakkan leher jenjangnya. Herman menggendong Nisa dan menjatuhkan istrinya di ranjang. Dan terjadilah malam honeymoon yang romantis.
...****************...
Sebulan berlalu...
Kini kehidupan berjalan normal seperti rutinitas biasanya. Keharmonisan rumah tangga mereka masih terasa dan membuat siapa pun yang melihatnya merasa senang.
"Huueekk... huueekk.."
Sayup-sayup terdengar kegaduhan dari kamar mandi. Mendengar hal itu Herman pun terbangun dan memastikan kembali suara itu. Dilihatnya Nisa tak berada disampingnya, sontak Herman berjalan cepat mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Herman cemas.
Tak ada jawaban, hanya suara itu kembali terulang. Herman masih setia menunggu di depan pintu dan tak lama Nisa keluar dengan langkah lemas dan wajah pucat.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Herman kembali.
"Eh, Sayang udah bangun? Maaf ya hari ini Aku enggak bisa masakin kamu. Badan aku lagi enggak enak." Jawab Nisa.
"Jangan pikirin soal masakan. Sekarang kita ke Dokter ya, kita periksa biar tahu kamu sakit apa." Ucap Herman.
Nisa pun mengangguk dan keduanya pun bersiap untuk ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit...
"Jadi istri saya sakit apa, Dok?" tanya Herman cemas setelah Dokter melakukan pemeriksaan.
"Bukan sakit yang serius, tetapi.." Jawab Dokter Ratna terhenti.
"Tapi apa, Dok?" tanya Herman tak sabar.
"Selamat ya karena istri Bapak hamil dan kandungannya sudah berjalan 2 minggu." Jawab Dokter.
"Dokter serius?" tanya Herman memastikan.
__ADS_1
Dokter Ratna pun mengangguk dengan senyum. Sontak Herman pun merangkul Nisa dan berkata,
"Makasih ya Sayang, kamu udah kasih kado terindah di kehidupan aku."
Tanpa terasa air mata Nisa menetes. Lalu Herman melepas rangkulannya dan menghapus air mata Nisa.
"Hei.. Jangan nangis, kita harus kasih tahu Mama, Ibu dan Papa soal ini. Mereka pasti akan senang." Ucap Herman.
Nisa pun mengangguk dengan senyum.
"Saya sarankan Ibu Nisa jangan terlalu banyak beraktivitas karena kondisi kandungannya masih lemah. Tolong dijaga baik-baik ya Bapak dan Ibu." Tutur Dokter Ratna.
"Iya Dok, terima kasih. Kalo begitu kami pamit ya." Ucap Herman lalu menjabat tangan Dokter Ratna diikuti oleh Nisa.
Herman tak bisa membendung bahagianya hingga di dalam mobil ia kembali memeluk Nisa.
"Rasanya enggak nyangka sebentar aku bakal jadi Papa. Terima kasih, Sayang." Ucap Herman bahagia seraya mengelus rambut Nisa dalam pelukannya.
"Semoga ini awal yang baik untuk kehidupan kita." Balas Nisa.
"Aamiin." Sahut Herman.
"Aku harus telpon Mama untuk kabarin soal ini." Ucap Herman setelah melepas pelukannya.
"Jangan sekarang. Sebaiknya kita kabarin Mama di rumah Mama aja. Ayok kita ke rumah Mama." Sahut Nisa.
Herman pun mengangguk dengan senyum.
"Oiya sampai lupa aku. Nah, Sayang mau sarapan apa?" tanya Herman.
"Hmm.. Aku mau bubur ayam." Jawab Nisa.
"Oke, kita pesan online ya karena kalo jam segini banyak yang udah tutup." Ucap Herman.
"Enggak mau, pokoknya aku mau bubur ayam makan di tempat penjualnya." Rengek Nisa.
"Ini anak permintaan baby lho." tambah Nisa seraya mengelus perutnya yang masih rata.
Herman pun menghela napas panjang dan akhirnya membuka ponselnya untuk mencari penjual bubur ayam terdekat.
Tak lama mereka sampai di sebuah restoran yang menyediakan menu bubur ayam. Beberapa menit makanan yang dipesan tiba, Nisa sangat menikmatinya sementara Herman hanya geleng-geleng melihat Nisa yang makan dengan lahap.
"Hmm.. Sayang, aku ke kamar mandi dulu ya." Pamit Nisa dan berjalan setengah berlari menuju kamar mandi.
"Hueekk.. Hueekk.."
Lagi, problematika Ibu Hamil terjadi tanpa mengenal situasi.
"Kamu hamil?" tanya seorang wanita mengejutkan Nisa.
Sontak Nisa pun menoleh ke asal suara dan terkejut melihat siapa wanita itu.
__ADS_1
"Aku kira Herman mandul." Tambah wanita itu seraya mencuci tangannya di wastafel.
"Darimana Mbak tahu saya istrinya Mas Herman?" tanya Nisa.
"Aku tahu semua tentang Herman termasuk istri barunya. Oiya, selamat atas pernikahan kalian dan kehamilan kamu." Jawab Lala.
"Ma.. makasih, Mbak." Ucap Nisa.
"Tapi kamu jangan senang dulu. Aku enggak melepas Herman semudah itu. Kamu lihat saja, Dia akan kembali padaku." Ucap Lala dengan tatapan licik.
"Kalo Mbak berniat merebut Mas Herman dari saya, tidak akan semudah itu. Kenapa enggak dari dulu aja Mbak kembali sama Mas Herman kali Mbak berniat balikan? Apapun yang terjadi aku bakal berusaha pertahanin rumah tanggaku." Sahut Nisa.
"Kita lihat saja sekuat apa kamu bisa bertahan." Sahut Lala sinis dan beranjak pergi.
"Aduhh.. perutku. Kamu yang kuat ya, Nak." Gumam Nisa seraya mengelus perutnya.
Nisa pun beranjak kembali ke mejanya. Ia terkejut saat melihat dari kejauhan Lala berbincang dengan suaminya dan mereka tampak bahagia.
"Apakah ini akan mudah kita lalui bersama, Nak?" Batin Nisa.
Nisa pun mencoba menepis pikiran negatifnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya.
"Maaf lama ya, Mas. Eh ini siapa, Mas?" tanya Nisa pura-pura tidak terjadi apapun.
"Enggak apa-apa. Oiya kenalin ini Lala mantan aku dan Lala ini Nisa istriku." Jawab Herman memperkenalkan mereka berdua.
"Nisa." Ucap Nisa seraya mengulurkan tangannya.
"Kalo gitu aku pamit dulu ya, lain kali kita ngobrol lagi." Ucap Lala tak menjabat tangan Nisa.
Herman pun mengangguk dan Nisa menarik kembali tangannya.
"Maafin Lala ya, Dia memang cuek kalo sama orang baru." Ucap Herman.
Nisa pun hanya tersenyum.
"Kamu udah enakan? Mau ke rumah Mama sekarang?" tanya Herman.
Nisa pun mengangguk. Mereka berdua pun beranjak meninggalkan restoran dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Yuyun.
Sepanjang perjalanan suasana menjadi hening. Herman melirik kearah Nisa yang hanya menatap kosong ke jendela di sampingnya.
"Apa masih merasa mual?" tanya Herman memecah keheningan.
"Enggak kok." Jawab Nisa singkat.
"Nisa kenapa ya? Kok sejak dari restoran jadi pendiem gini? Apa karena bubur nya enggak enak?" Batin Herman.
**
"Kamu tenang aja, aku pasti bakal pisahin mereka berdua." Ucap Lala pada orang diseberang telepon.
__ADS_1
"Bagus. Jangan sampai kamu menggores sedikit saja kulit wanitaku atau kamu yang harus menanggung resikonya." Balas orang di seberang telepon.