Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Kehidupan yang kembali


__ADS_3

1 MINGGU BERLALU..


Sudah seminggu Herman dirawat di Rumah Sakit, selama di RS Herman juga belajar jalan dan kini ia mulai bisa menyeimbangkan tubuhnya dan mulai berjalan dengan tongkat jalan. Hari ini Dokter mengijinkan Herman pulang, meski harus tetap sesekali berkunjung ke RS untuk melakukan pemeriksaan.


Sementara Nisa masih terbaring koma di ruang ICU. Tubuhnya belum merespon dengan perawatan yang diberikan oleh Dokter. Tetapi dengan sabar dan telaten Dennis mensupport Nisa. Pria itu selalu menyempatkan datang ke kamar Nisa, membantu perawat menyisir rambutnya, mengaji di dekatnya, bercerita tentang kehidupannya selama Dinas di luar kota bahkan cerita masa kecilnya. Bi Surti yang rutin melihat aktivitas Dennis diruangan itu tak tahan untuk membendung air matanya.


Langkah Herman terhenti saat di depan ruang ICU. Entah mengapa hatinya ingin masuk ke dalam ruang itu.


"Sayang, ayo pulang." Panggil Yuyun menghentikan langkah Herman yang akan memasuki ruang ICU.


"Ahh.. mungkin ini cuma karena aku belum makan." batin Herman.


Pria itu berjalan menuju kearah Yuyun dan Rima yang sudah menunggu.


**


Sesampainya di rumah, Dennis telah mempersiapkan kedatangan Herman. Dia telah meminta bantuan Dina untuk memasak besar demi menyambut kedatangan Kakaknya. Saat Herman, Yuyun dan Rima mulai memasuki rumah, Dennis menyambut Herman dengan pelukan hangat.


"Selamat datang kembali ke rumah, Mas." Ucap Dennis.


"Wahh.. Terima kasih, Dek." Balas Herman.


Setelah sambutan itu, mereka menikmati makan siang bersama.


"Mama sudah memilih beberapa WO untuk pernikahan kamu dengan Rima." Ucap Yuyun memulai pembicaraan.


"Uhuk.. " Mendengar perkataan Yuyun, Herman pun mendadak terbatuk.


Dengan sigap Dennis mengulurkan segelas air kepada Herman dan segera diminumnya.


"Maaf Ma, tolong jangan bahas pernikahan ini terlebih dahulu. Aku mau fokus pada kesembuhanku dahulu." Ucap Herman dan mulai beranjak meninggalkan meja makan.


Nafsu makannya mendadak hilang. Herman memutuskan kembali ke kamarnya dan ia kembali mencoba menghubungi Nisa namun sayangnya jawaban yang sama masih terdengar. Suara operator selalu setia menjawab panggilan darinya.


"Kamu kemana, Nis? Cepatlah kembali. Aku sudah membaik dan aku membutuhkanmu." batin Herman.


**


Malam hari, Dennis pamit untuk tinggal di apartemen dengan alasan lokasi tempat Dinasnya di kota Jakarta jaraknya lebih dekat dari apartemen miliknya. Dengan berat hati Yuyun dan Herman menyetujui keinginan Dennis.


1 Bulan Berlalu..


Herman sudah pulih dan bisa berjalan dengan normal. Ia kembali bekerja di perusahaan miliknya. Memang selama Herman sakit, ia hanya bekerja dari rumah itu pun kadang seminggu sekali. Ia mempercayakan Deni, tangan kanannya untuk mengurus perusahaannya. Tetapi saat ini Herman kembali datang ke perusahaannya seperti saat ia masih sehat.


Bi Surti setia menemani Dennis untuk membantu menjaga Nisa, meski pun ada tanda-tanda tubuh Nisa merespon. Seusai sholat maghrib, seperti biasa Dennis mengaji di samping ranjang Nisa.


Selesai mengaji, Dennis duduk disamping Nisa dan menggenggam tangan gadis itu.

__ADS_1


"Tolong cepatlah bangun, aku mencintaimu." ucap Dennis lirih.


Tak lama Dennis merasakan pergerakan ditangan Nisa yang ia genggam. Perasaan terkejut bercampur senang menyelimutinya.


"Bi, tangannya mulai bergerak." Ucap Dennis.


"Alhamdulillah." Sahut Bi Surti.


"Bibi, tolong jaga Nisa ya. Saya mau panggilkan Dokter." Ucap Dennis.


Bi Surti hanya mengangguk dan kini berdiri disamping ranjang Nisa. Tak lama Dennis datang bersama Dokter Ridho. Dokter Ridho segera memeriksa keadaan Nisa.


Perlahan Nisa mulai membuka matanya dan ia melihat beberapa orang mengelilingi ranjangnya.


"Alhamdulillah pasien sudah sadar, ini merupakan keajaiban." Ucap Dokter Ridho.


"A.. Aku dimana?" tanya Nisa.


"Kamu di Rumah Sakit, selama ini kamu koma dan baru sadar." Jawab Dennis.


"Suamiku, bagaimana bisa Aku ada disini?" tanya Nisa menatap Dennis.


Dennis pun terkejut dengan perkataan Nisa.


"Suamiku? Kenapa Nisa menyebut aku suaminya?" batin Dennis.


"Apakah Nisa mengalami lupa ingatan, Dok?" tanya Dennis.


"Bisakah kita pulang, Suamiku? Aku tidak suka berada di tempat ini." tanya Nisa lagi.


"Maaf Nisa, tapi saat ini kami harus memerikda kondisi kamu lebih lanjut." Jawab Dokter Ridho.


"Kamu dengar kan Nisa, sekarang kamu tenang dahulu ya. Besok kalo sudah sembuh kita akan pulang ke rumah." Tambah Dennis.


"Kalo begitu saya permisi dahulu, besok pagi akan saya aturkan untuk pemeriksaan lebih lanjut." Ucap Dokter Ridho dan berlalu meninggalkan ruang ICU.


"Alhamdulillah, Bibi ikut senang akhirnya Non Nisa kembali sadar." Ucap Bi Surti.


Nisa pun tersenyum mendengar ucapan Bi Surti.


"Kamu mau makan apa, Nis?" tanya Dennis.


"Kok kamu enggak panggil aku sayang? Apa kamu sudah mencintaiku setelah aku masuk Rumah Sakit?" tanya Nisa tertunduk.


Dennis pun terdiam. Bi Surti pun menyenggol lengan Dennis dan berbisik,


"Udah Aden, enggak apa-apa Aden pura-pura jadi suami Non Nisa. Ini demi kesembuhan Non Nisa."

__ADS_1


Memikirkan kata-kata Bi Surti, Dennis pun mendekat dan mengelus rambut Nisa.


"Ahh enggak Sayang, aku masih cinta sama kamu. Maaf aku terlalu senang hingga melupakan panggilan kita." Ucap Dennis.


Nisa pun kembali sumringah dengan jawaban Dennis.


**


Setelah menjalani pemeriksaan, Nisa dipindahkan ke kamar rawat inap. Dennis kembali menemukan hidupnya karena kini Nisa telah sadar meski ia mengingat bahwa Dennis adalah suaminya.


"Maafin aku ya Sayang, kamu jadi repot bolak-balik rumah dan Rumah Sakit selama aku dirawat disini. Tapi besok setelah kita kembali ke rumah, aku akan berusaha menjadi istri yang baik." Ucap Nisa memecah keheningan malam.


"Tidak Sayang, aku tidak merasa direpotkan. Selama ini kamu juga sudah menjadi istri yang baik." Sahut Dennis seraya mengelus rambut Nisa.


Sengaja malam ini Dennis meminta Bi Surti untuk istirahat di rumah dan menyiapkan acara penyambutan kepulangan Nisa besok pagi.


"Oiya, Sayang.. Selama pernikahan kita, rasanya kita belum pernah bulan madu." Ucap Nisa


Pipi Dennis pun memerah mendengar ucapan Nisa.


"Jangan bahas itu dulu ya, sekarang yang terpenting kesembuhan kamu." Ucap Dennis.


"Tapi kamu janji ya setelah aku sembuh, kamu harus ajak aku bulan madu."


"Memangnya kamu mau bulan madu kemana?"


"Hmm.. Bagaimana kalo ke Jogja?"


"Boleh asal kamu harus sembuh dulu ya."


Nisa pun mengangguk dengan senyum. Dennis tersenyum membayangkan bagaimana jika ia betul-betul akan berbulan madu dengan Nisa.


"Sepertinya aku harus segera menikahi Nisa sebelum acara bulan madu." Batin Dennis.


"Sini Sayang, tidur disebelahku. Kita kan suami istri, jadi tidak masalah kan kalo seranjang berdua." Celetuk Nisa dan mulai menggeser posisinya. Kebetulan ranjang di kamar VIP ini agak besar, Dennis pun menurut dan tidur di samping Nisa. Sementara Nisa memiringkan tubuhnya dan memeluk Dennis.


"I Love you, Sayang." Ucap Nisa.


"I Love you too, Sayang." Balas Dennis.


Layaknya pasangan yang dimabuk cinta, keduanya saling mengungkapkan perasaan mereka dan tertidur di ranjang Rumah Sakit.


***


Maaf kalo banyak yang ke SKIP Ceritanya 🙏


Terima kasih atas dukungannya ❤

__ADS_1


Jangan lupa klik favorit ya agar dapat notifikasi update episode terbaru 😊


Mohon bantuannya untuk klik LIKE, SHARE, DAN VOTE juga ya, mau isi kolom komentar juga boleh 😁


__ADS_2