JODOH Dari MAMA

JODOH Dari MAMA
31 menyusul Naura.....


__ADS_3

Bibi pengasuh Naura kembali ke rumah utama dan membantu mengatur rumah baru yang akan di tempati Marinka dan keluarga kecilnya, Marinka juga akan membawa Sellin tinggal bersamanya karena Sellin sudah di anggapnya anak.


''Bibi pokonya aturkan kamar untuk Sellin dan Naura, nanti orang orang furniture akan datang membawa barang barangnya. ''


ucap Marinka saat menunjukan dua kamar yang saling berdekatan untuk Naura dan Sellin.


Marinka menuju ruangan suaminya sambil membawa secangkir teh hangat untuk Arman, sekarang Marinka lebih santai di rumah karena perusahaannya di gabungkan dengan milik Arman sesuai dengan keputusan Marinka karena dia ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu.


''Mas teh nya sudah aku buatkan. ''


ucap Marinka saat memasuki ruangan kerja suaminya.


Arman tersenyum dan menjentikkan jarinya agar Marinka menghampirinya, Arman menepuk pahanya agar Marinka duduk di atas pangkuannya.


Marinka tidak menolak dan langsung duduk di atas pangkuan suaminya, menelusupkan wajahnya ke dada sang suaminya.


''Kamu sudah konsultasikan belum sama dokter?? masih ada harapan buat adik Naura gak?? ''


tanya Arman dan Marinka hanya mengangguk sambil membelai dada bidang sang suami.


''Dokter bilang kita hanya menunggu Tuhan memberikannya, hasil pemeriksaan kita berdua semua bagus dan masih subur. ''


jawab Marinka dan Arman hanya menggeram karena belaian tangan halus istrinya begitu membuatnya terbuai.


''Kamu kasih kode ke aku yaa Maa, ayo kita gas sekarang. ''


ucap Arman dengan nada yang tercekat karena menahan sesuatu yang bergejolak.


''Kamu memang doyan mas dan lagian bekas semalam masih perih, nanti malam saja kalau mau. ''


tolak Marinka dan Arman hanya tergelak mendengar protesan sang istri.


Arman dan Marinka seperti pengantin baru yang baru memulai rumah tangganya, padahal Naura sudah menjelma menjadi gadis dewasa di usia tujuh belas tahun.


Kembali ke perjalanan Naura dan Sellin, setelah perjalanan kurang lebih tiga jam, mereka berdua tiba di stasiun kota tujuan, ternyata orang kepercayaan Arman sudah menunggunya dan Naura juga Sellin langsung masuk kedalam mobil untuk di antarkan ke hotel milik Arman yang ada di kota itu setelah Arman mengancam di telphone saat menghubungi pengawalnya yang melaporkan Nona mudanya menolak di antarkan.


''Sudahlah Naura kamu terima saja pasilitasnya dan kita di kota ini hanya berdua loh, aku takut malah ada orang jahat yang melukai kita. ''


ucap Sellin saat Naura cemberut di dalam mobil.

__ADS_1


''Yasudah demi kamu aku menerima semuanya Sellin, kita harus punya dukungan untuk melabrak kedua orang tua kamu, Papa bilang nanti malam kedua orang tua kamu tiba di rumahnya dan besok siang kita datangi rumahnya. ''


jawab Naura dan Sellin tersenyum mendengarnya.


Tibalah mobil di sebuah hotel mewah dan megah, Naura menghembuskan nafasnya dan membuat Sellin tertawa karena dia tahu kalau sahabatnya sedang kesal saat ini.


''Sudah kita nikmati saja menjadi anak sultan yaa Naura, lihat sudah ada yang menunggu kita berjejer seperti kedatangan presiden saja ada penyambutan. ''


ucap Sellin sambil menunjuk orang yang ada di luar mobil di lobi utama hotel.


Naura keluar pertama saat supir membuka pintunya, semua langsung menunduk hormat pada Naura dan Sellin tersenyum melihatnya karena Naura paling malas di perlakukan lebih, Naura memilih menjadi sederhana dari pada di lengkapi pasilitas mewahnya.


Dua orang petugas hotel mengambil alih koper Naura dan Sellin lalu membawanya menuju kamar hotel suite room dengan pasilitas pantastik.


Naura memberikan uang tip kepada dua petugas dan sempat menolak namun Naura menatap tajam lalu keduanya menerimanya.


''Tadinya aku pengen menginap di sebuah Villa yang sejuk, semua gagal karena Papa deh. ''


keluh Naura saat memasuki kamar dan duduk di sofa.


''Sudahlah jangan protes mungkin ini lebih baik Naura, sepertinya lokasinya dekat dengan rumah mereka dan menjadi pilihan kedua orang tua kamu untuk kita menginap. ''


Sellin langsung merapihkan pakaiannya dan pakaian Naura kedalam lemari sedangkan Naura sedang mengabari orang tuanya kalau sudah sampai selamat tempat tujuan.


Tinggalkan sejenak Naura dan Sellin, sore hari di kediaman Tante Hilda sedang terjadi kebingungan karena Tante Hilda merasa heran putranya pergi tiba tiba ke kota sebelah meminta ijin dan Tante Hilda langsung tersenyum mengejek ke arah putranya yang sedang mengepak pakaiannya.


''Bunda baru ngeuh Davi, kamu mau menyusul Naura ke kota sebelah kan?? jangan mengelak atau Bunda akan minta bantuan Ayah kamu untuk menggagalkan kepergian kamu. ''


ucap Tante Hilda sedikit mengancam dan membuat Davian langsung kesal mendengarnya.


''Bunda pliis jangan gagalkan dong, Davi sudah bekerja ekstra pagi sampe siang agar bisa pergi. ''


protes sang putra dan Bundanya hanya mengangkat bahunya.


Davian meninggalkan kopernya dan berlari mengejar Bundanya yang akan menghampiri Ayahnya, Davian langsung menghadang Bundanya.


''Oke Bunda menang, Davi mau menyusul Naura ke kota sebelah. ''


jawab Davian dan membuat Bundanya tersenyum lebar.

__ADS_1


''Oke..... Bunda ijinkan dan hati hati, jaga calon menantu Bunda yaa. ''


ucap sang Bunda sambil menepuk bahu putranya dan langsung menuju lantai bawah rumahnya.


Davian kembali ke kamarnya sebelum Antoni meninggalkannya karena Antoni akan berangkat menggunakan kereta malam dengannya.


''Bunn.... kamu kenapa senyum senyum terus?? ''


tanya sang suami saat istrinya tersenyum menghampirinya.


''Sepertinya kita harus menemui Marinka membicarakan putra kita, Marinka akan setuju kalau kita melegalkan Naura dan Davi. ''


jawab sang istri dan suaminya tersenyum.


''Terserah Bunda saja karena Ayah ikut yang terbaik, Arman bilang Davi memang sangat ideal menjadi menantunya padahal tahu Davi sang penjelajah wanita tapi Arman percaya Davi laki laki setia. ''


ucap sang suami dan istrinya mengangguk.


Davian membawa kopernya menuju pintu utama sambil menunggu Antoni menjemputnya dia kembali ke dalam rumah untuk pamit pada orang tua nya.


''Davi pergi dulu...... ''


pamit Davian dan membuat Ayahnya tersenyum.


''Hati hati dan jangan macam macam sama Naura karena dia masih sekolah kelas tiga belum lulus, itu pesan Ayah. ''


ucap Sang Ayah dan Davian hanya berdehem tanpa menjawab ucapan sang Ayah.


Davian langsung keluar dari rumah saat Antoni sudah di luar untuk menjemputnya, Davian menghela nafasnya saat melihat sahabatnya tersenyum mengejek menatap ke arahnya.


''Aku kira kamu gak akan jadi Davi tapi di luar dugaan kamu ternyata ikut. ''


ejek Antoni dan Davian hanya mendelik sebal menatap ke arah sahabatnya.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2