JODOH DARI TUHAN

JODOH DARI TUHAN
Bab 11. Menerima keputusan untuk hubungan kami


__ADS_3

Meninggalkan orang yang setia, demi mencintai orang lain.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, kini aku dan Edi hampir tiba di desaku.


"El, bangun sebentar lagi angkot ini akan tiba di desamu." Ucap Edi padaku sambil membangunkan aku yang ketiduran di dalam angkot.


"Iya kenapa?" tanyaku dengan kaget sambil mengucek mata dan melihat di sekitar


"Sebentar lagi sudah tiba di desamu." Kata Edi padaku sambil merapihkan rambutku yang terurai


"Oh iya. Terimakasih." Jawabku pada Edi dengan suara pelan.


"Kamu tidak ikut dengan aku ke rumahku?" tanya Edi padaku dengan wajah serius sambil menatapku.


"Tidak, aku turun di rumahku saja," Ucapku pada Edi dengan suara pelan.


"Baiklah aku tidak memaksamu." Jawab Edi singkat dengan wajah lesu.


"Enak saja, memangnya aku sudi ikut sama kamu ke rumahmu, dan melihat kamu akan tertawa bersama wanita itu, dasar lelaki brengsek." Ucapku dalam hati, sambil memandang pepohonan lewat kaca jendela angkot.


"El, apakah keluargamu sudah tahu tentang masalah kita?" tanya Edi padaku dengan suara lemas.


"Iya! Aku sudah memberitahu keluargaku, jika kita tidak akan melanjutkan hubungan ini, karena kebodohanmu untuk memilih wanita lain." Jawabku dengan tegas pada Edi dengan nada suara pelan, karena ada banyak orang di dalam angkot itu.


"Iya sudah, sampaikan salam dari aku untuk Ayahmu." Kata Edi padaku, dengan suara pelan.


"Ok." Jawabku singkat pada Edi.


Mobil berhenti tepat di depan rumahku, terlihat dari jauh Ayahku sedang berdiri di depan rumah.


"Halo Ayah." Ucapku pada Ayahku.

__ADS_1


"Siapa yang melambaikan tangan untuk Ayah lewat kaca Angkot itu?" tanya Ayahku padaku sambil memandang lajunya angkot itu berlalu.


"Itu Edi, kami bersama dalam perjalanan tadi." Jawabku pada Ayah dengan wajah panik.


"Kenapa kalian bisa pulang bersama?" tanya Ayahku dengan wajah serius sambil menatapku


"Itu tadi kebetulan ketemu Edi di dalam fery, lalu kita melanjutkan perjalanan sama-sama." Jawabku dengan wajah serius, sambil berdiri aku merasa deg-degan karena aku belum pernah menipu Ayahku, kali ini aku menipu Ayahku hanya karena takut.


"Aku melanjutkan langkahku menuju ke kamar yang adalah milikku, aku meletakkan tas di atas meja dan membaringkan tubuh di atas tempat tidur setelah 1 jam beristirahat, hpku bergetar."


Saat ku lihat layar hpku, ternyata telepon dari Edi.


"Halo," jawabku pada Edi.


"El, aku sakit. Aku ingin memintamu agar datang besok menjenguk aku dirumah." Jawab Edi dengan suara serak.


"Ok, nanti aku kabari kamu jika sudah mendapatkan izin dari Ayahku." Jawabku pada Edi.


"Aku harap kamu bisa datang besok El, aku menunggumu." Jawab Edi.


Aku melangkah keluar dari kamar dan temui Ayahku yang berada di ruang nonton, sedang asyik dengan chanel bola.


"Ayah, aku mau bicara sebentar." Ucapku dengan suara pelan pada Ayah.


" Iya, mau bicara apa?" tanya Ayah padaku sambil mengalihkan pandangannya dari depan layar tv padaku yang sedang berdiri didekatnya.


"Begini Yah, barusan Edi menelpon dan dia memintaku agar besok aku kerumahnya, karena dia sedang sakit." Jawabku pada Ayahku dengan suara pelan sambil berdiri menatap Ayah penuh harap agar Ayah memberiku izin.


"Boleh, tapi jangan sampai kamu terbuai dan memilih menjalin hubungan kembali dengan dia, Ayah sudah tidak setuju!" Jawab Ayah dengan tegas padaku, karena Ayahku tidak ingin melihatku menangis.


" Iya Ayah, aku janji setelah aku menengok Edi aku akan langsung pulang." Jawabku pada Ayah dengan semangat ditambah senang karena masih diperbolehkan.

__ADS_1


Pagi itu aku bersiap untuk berangkat ke kota Masohi untuk menjenguk Edi dirumahnya, dengan menggunakan angkot dan dalam waktu 2 jam, aku tiba di terminal kota Masohi.


" Edi, aku sekarang sudah di terminal kota, dan akan melanjutkan perjalanan ke rumahmu." Kataku pada Edi lewat via sms.


" Kamu gunakan ojek saja biar cepat ke rumah, aku tunggu kamu dirumah." Balas Edi padaku.


Dengan menggunakan jasa ojek, aku tiba di rumah Edi dan saat tukang ojek itu berlalu, aku melihat ke arah rumah Edi, ternyata benar pintu rumahnya sudah terbuka menanti aku.


" Selamat pagi." Ucapku sebelum masuk ke ruang tamu."


" Silahkan masuk aku sendiri dirumah, aku hari ini tidak ke kantor karena aku sakit." Jawab Edi dengan suara serak padaku, sambil berbaring di sebuah sofa yang terletak diruang nonton.


"Saat ini aku sudah ada tepat di mata kamu, dan apa yang bisa aku bantu? atau ada hal apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanyaku pada Edi dengan suara pelan dan wajah kesal.


" Aku minta maaf El. Sejujurnya aku sudah terlanjur mencintai wanita itu, bukan kesalahan dia, aku menyukai dia, dan ini terjadi karena kamu jauh dariku, tidak ada yang menghiburku."


Jawab Edi dengan suara serak sambil meneteskan air mata, dia mencoba untuk bangun duduk dan menjelaskan padaku.


" Sudahlah Edi, jangan banyak bicara nanti kamu tambah sakit, lebih baik skarang, aku buatkan teh panas untuk mu juga sarapan." Kataku pada Edi sambil memijat tangannya, kemudian aku melepaskan tangannya dan berjalan ke dapur lalu membuat sarapan untuk Edi.


Setelah beberapa menit, aku kembali temui Edi dengan membawa baki kecil berisi sarapan.


" Edi, kamu sarapan ya. Setelah itu mandi, nanti aku buatkan air hangat untukmu." Ucapku pada Edi sambil meletakkan segelas teh dan sepiring nasi goreng kesukaan Edi.


" Terima kasih El, kamu sangat peduli padaku. Kamu masih seperti yang dulu aku kenal." Ucap Edi padaku sambil menangis .


"Sudah-sudah ayo habiskan sarapan itu, sebelum dingin." Kataku pada Edi sambil mengusap air matanya.


" El, kamu sekarang berhak memilih siapapun untuk jadi pacar kamu, karena aku tidak setia dan kondisi aku yang sakit-sakit seperti ini, aku tidak ingin jika kamu bertahan dengan aku, dan jika kita menikah nanti mungkin kita tidak akan punya keturunan (anak) karena penyakit yang aku derita." Kata Edi padaku dengan suara serak dan air mata berlinang, aku terdiam dan mendengar semua ucapan Edi.


" Iya sudalah, kamu tenang dan lanjutkan sarapannya." Kataku pada Edi sambil memijat kepala dan pundaknya.

__ADS_1


" Edi, setelah kamu selesai mandi nanti, aku akan pulang, Ayah berpesan agar aku tidak bermalam disini." Ucapku pada Edi sambil terus memijat kepalanya yang sakit.


Memang selama ini Edi sudah bercerita padaku tentang sakit yang dia rasakan, awalnya "Tumor jinak", setelah berhasil di potong, sekarang lanjut dengan "Prostat". Aku berpikir, benar juga untuk masa depan aku.


__ADS_2