
Kesetiaan dan cinta yang tulus di balas dengan sebuah penghianatan.
"Selamat pagi Edi." Kataku melalui via sms
"Iya pagi juga." Edi membalas pesanku singkat.
"Kamu kenapa, ada masalah?" tanyaku balik
"Tidak! aku baik-baik saja." Jawab Edi singkat.
"Kamu kok, mulai beda ya?" tanyaku merasa bingung.
"Tidak biasa saja." Jawab Edi
Karena balasannya singkat dari biasanya, aku tidak lanjutkan mengirim pesan untuk Edi.
Aku bersiap untuk berangkat kesekolah. Setibanya aku disekolah.
"Selamat pagi Ibu El." Ucap beberapa Anak perempuan yang sudah tiba lebih dahulu di sekolah.
"Selamat pagi Anak-Anak." Aku membalas ucapan mereka, sambil melangkah menuju ruangan Guru untuk mengambil bendera.
Aku melangkah keluar dari ruangan Guru tiba-tiba ada suara yang memanggilku
"Ibu El, berikan bendera itu untuk aku." Kata salah seorang Anak perempuan.
"Biarkan aku membantu Ibu El, menaikan bendera ini."
"Tidak apa-apa Ibu bisa sendiri kok." Jawabku menolak bantuan Anak itu.
"Ibu El, aku bisa, dan aku mau membantu Ibu El." Kata Anak itu kembali padaku sambil meraih bendera dari tanganku.
"Baiklah, kalau kamu mau. Bukan Ibu memaksa kamu kan?" ucapku pada Anak itu kemudian berlalu dari Pandangannya.
"Baiklah, jika itu mau kamu." jawabku padanya lalu
Aku menyerahkan bendera itu untuk Anak tersebut.
Aku melangkah masuk ke ruangan Guru dan membersihkan ruangan itu karena, ada banyak debu dan kertas yang berhamburan di ruangan itu.
"Selamat pagi Ibu El." Ucap salah seorang Guru yang baru tiba disekolah.
"Pagi juga Ibu," jawabku sambil merapihkan beberapa kursi
Setelah aku selesai membersihkan ruangan Guru, aku kembali ke kantin, dan beristirahat disana sambil merapihkan barang-barang di kantin.
Saat aku tiba di kantin, hp aku bergetar, dan aku membuka tasku kemudian mengeluarkan hp.
Aku menatap layar hpku, ternyata telepon dari Edi.
"Hai, Edi," kataku dengan senang sambil duduk di kantin.
__ADS_1
"El, mulai sekarang kamu jangan hubungi aku lagi!" kata Edi dengan tegas.
"Hei, kamu kenapa, masa gitu sama aku?" tanyaku merasa heran.
"Pokoknya kamu jangan hubungi aku lagi!" kata Edi dengan tegas.
"Jangan ngaco kamu ya, memangnya ada masalah apa?" tanyaku pada Edi dengan suara pelan.
"Mulai sekarang kamu jangan hubungi aku lagi,
aku sudah beritahu Ibuku, bahwa aku tidak bersamamu lagi!" jawab Edi dengan tegas padaku.
"Kenapa Edi, salahku apa sama kamu?" jawabku pada Edi, dengan suara pelan dan tak sadar air mataku menetes.
"Apakah kamu sudah punya pilihan lain? kenapa kamu seperti ini?" tanyaku pada Edi dengan suara serak.
Aku mengakhiri teleponnya dan berusaha tegar, karena aku berada di sekolah, tidak mungkin aku menunjukkan kesedihan aku.
"El, aku minta maaf ya sama kamu, tapi Ibuku sudah suka sama wanita ini, aku sudah mengajaknya kerumah berkenalan dengan Ibuku." Kata Edi padaku melalui via sms.
"Baiklah jika itu mau kamu, tapi kita harus ketemu dan bicara baik-baik jangan seperti ini namanya pecundang." Balasku padanya.
Siang itu aku berusaha untuk tegar dan menahan air mata agar tidak jatuh lagi, malu dilihat orang.
"El, kita ke ruang Guru sebentar ada yang harus dikerjakan." Kata Nining padaku.
"Iya Kak," jawabku pada Nining lalu memberitahu Ibu Hanif jika aku ada kerjaan di ruangan Guru kemudian aku dan Nining berjalan menuju ruangan Guru.
Aku sempatkan waktu untuk mengirim pesan pada Edi.
"Edi, kamu kenapa begini? aku Sayang sama kamu, cinta sama kamu." Kataku melalui via sms.
"Maaf ya El, tapi kamu jangan hubungi aku lagi!
aku sudah punya pilihan lain." Balas Edi padaku.
"Pokoknya kita harus ketemu dan selesaikan dengan baik- baik." Balasku pada Edi.
"Tidak perlu El ! memangnya pesan yang aku kirim masih kurang jelas untuk kamu?" balas Edi padaku.
Aku tidak ingin melanjutkan perdebatan itu, dan berhenti mengirimkan pesan padanya.
Setelah pulang sekolah, aku mencoba menghubunginya melalui telepon.
"Kenapa harus telepon aku lagi?" tanya Edi padaku dengan suara kasar.
"Oh, maaf aku pikir aku masih bisa menelpon kamu." Jawabku dengan pelan.
"Tidak usah!" jawab Edi kemudian mengakhiri telepon dariku.
Malam itu aku menangis hingga larut, aku mengingat semua ucapan Edi sejak siang tadi.
__ADS_1
Dan aku memutuskan untuk pulang ke Masohi temui Edi.
Pagi itu,
"Kak, hari ini aku akan pulang ke desa (Seram) untuk menyelesaikan beberapa tugasku." Kataku untuk Kak Alen.
"Ok, minggu depan sudah Libur kan?" tanya Kak Alen.
Aku berangkat ke sekolah, didalam tas sudah ada sepasang baju ganti dan beberapa barang keperluan lainnya.
Aku tiba disekolah dan melakukan aktivitas seperti biasa sesuai tugasku, kemudian aku memberitahu Pak Edy.
"Permisi Pak." Kataku dengan suara pelan dan grogi
"Iya, bagaimana Kak, ada yang bisa Bapak bantu?" tanya Pak Edy padaku.
"Begini Pak aku mau minta izin Pak untuk pulang ke Ambon, bisa kan Pak?" pintaku pada Pak Edy sambil berdiri menghadap meja Pak Edy.
"Bisa saja Kak. Tapi, Kakak harus kembali lagi ya kesini." Ucap Pak Edy padaku dengan suara pelan.
"Nanti Kakak beritahu Ibu Kepala sekolah juga sebelum berangkat." Kata Pak Edy sambil membaca beberapa lembar kertas ulangan yang akan diberi nilai.
"Baik Pak. Terimakasih Pak aku permisi." Jawabku pada Pak Edy, kemudian berlalu dari meja kerjanya menuju ke kantin.
Setibanya aku di kantin, karena masih pagi belum ada orang, Ibu Hanif dan Ibu Magda belum datang ke sekolah. Aku mengeluarkan hp dari tasku, kemudian membaca ulang pesan dari Edy, dan tanpa ku sadari air mata ini menetes dengan cepat.
"Kenapa ya Edi seperti ini?" tanyaku dalam hati sambil menghapus air mataku yang menetes dari tadi.
"Jangan menangis El, kamu harus kuat dan harus bisa lewati ini semua." Ucapku dalam hati sambil menahan tangisanku.
"Ingin rasanya aku berteriak sekuat mungkin, tapi apalah daya ini Sekolah, bukan tempat wisata." Ucapku dalam hati sambil membaca pesan dari Edi.
Tiba-tiba hpku bergetar tandanya ada telepon, dan telepon itu dari Edi katanya;
" El, jika kamu mau ketemu aku, aku kasi kamu kesempatan besok!" kata Edi dengan tegas
"Baiklah, besok aku akan temui kamu." Jawabku pada Edi dengan suara serak, membuatku sedikit lega.
"Ok. Berikan nomor rekening kamu biar ku transfer uang buat kamu beli tiket kapal." Kata Edi padaku dengan suara pelan.
"Baiklah akan aku kirimkan." Jawabku dengan senang sambil menghapus air mataku.
Perasaanku mulai senang dan aku mulai bersemangat untuk bekerja lagi.
Walaupun kadang aku ingin menangis, tapi aku menahannya agar tidak terlihat oleh orang lain.
Next.....
Mohon dukungannya.
Dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk mendukung karya ini, agar penulis semakin bersemangat.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya.❤️❤️❤️❤️