
Setiap acara butuh uang, walaupun itu acara kecil-kecil-an, tetap butuh uang.
Tanpa uang, acara tidak bisa terlaksana, tanpa uang setiap orang tidak bisa berbuat apa-apa.
Yang sedang merencanakan sesuatu, dengan berpikir tentang uang, karena kondisi mereka yang masih terbilang baru memulai karir, pastinya mereka belum mempunyai tabungan.
Begitu juga dengan Thomi dan Ela yang ingin menikah dengan cepat, tapi mereka memikirkan biayanya.
Setelah Thomi kembali ke rumahnya untuk bekerja, aku memutuskan untuk berjualan kue di depan rumah, dengan modal pas-pasan, sambil menunggu musim panen datang.
Pagi ini semua anggota keluargaku sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, sehingga suasana rumah terlihat sepi, aku pergi ke toko sembako terdekat untuk belanja, bahan-bahan untuk membuat kue.
"Permisi Buk, aku mau beli."Kataku pada penjaga toko.
"Iya silahkan."Jawab penjaga toko itu padaku.
"Ini Buk."Aku menyerahkan selembar kertas bertulisan bahan-bahan kue yang akan di beli.
"Iya, tunggu sebentar ya." Kata penjaga toko itu padaku, sambil bergegas menyiapkan barang belanjaan untuk aku.
Setelah tunggu beberapa menit dan penjaga toko itu memanggil aku untuk membayar belanjaan itu.
"Mba." Suara Ibu penjaga toko memanggilku.
"Iya Buk." Jawabku kemudian berjalan menuju meja kasir.
"Total belanjaannya seratus ribu rupiah." Kata Ibu penjaga toko padaku.
"Iya Buk, ini." Jawabku sambil menyerahkan selembar uang kertas bernilai seratus ribu rupiah.
.
"Terimakasih."Jawab Ibu penjaga toko padaku.
"Sama-sama, aku permisi ya Buk."Kataku pada Ibu penjaga toko, sambil memegang tas belanjaan.
Selesai belanja, aku kembali ke rumah, berjalan kaki dengan cepat agar tidak membuang waktu.
Setibanya aku dirumah, dengan cepat aku membuat adonan kue, resep itu masih tersimpan dalam ingatanku, resep yang diajarkan sahabatku saat kami membuat kue bersama, waktu itu kami masih tinggal di Panti Asuhan.
__ADS_1
"Ina, terimakasih atas pengalaman yang kau ajarkan untuk aku, hingga aku bisa membuat roti juga." Kataku dalam hati sambil membuat adonan roti.
Beberapa saat setelah selesai membuat adonan roti, aku menerima pesan dari Thomi, dia bertanya aktivitas apa saja yang aku lakukan di hari ini.
"Sayang." Katanya dalam pesan.
"Hei, iya." Balasku
"Lagi ngapain?"tanya Thomi padaku dalam pesan.
"Baru selesai membuat adonan roti."Balasku.
"Serius."Balas Thomi.
"Ngga percaya?" tanyaku dalam pesan
"Sejak kapan kamu belajar membuat roti?"tanya Thomi dalam pesan.
"Sejak dulu." Balasku.
"Ya sudah, lanjutkan dan jangan lupa makan ya."Balas Thomi.
"Iya Thom, kamu juga jangan lupa makan."Balasku.
Hasilnya sangat memuaskan, dengan semangat aku duduk di depan rumah sambil menjual kue buatan aku. Tidak lama kemudian datanglah pembeli.
"Hai Mba, mau beli kue." Kata seorang Anak perempuan padaku.
"Iya, silahkan mau beli berapa?"tanyaku pada Anak itu.
"Donat 10 dan roti gorengnya 10." Jawab Anak itu padaku.
"Sebentar ya." Kataku, sambil membungkus pesanannya.
"Iya Mba." Jawab Anak itu.
"Ini kuenya, terimakasih." kataku sambil menyerahkan kue pad Anak itu.
Terlihat dari jauh sebuah motor yang melaju ke arahku.
__ADS_1
"Sepertinya orang ini akan membeli kue juga." Kataku dalam hati.
"Mba, mau beli kue, 30 buah." Kata Pemuda itu padaku, sambil duduk di atas motornya.
"Oh iya, sebentar ya, aku siapkan dulu." Jawabku pada Pemuda itu.
"Ini kuenya."Kataku pada Pemuda itu.
"Jadi berapa semuanya Mba?"tanya Pemuda itu padaku.
"Totalnya tiga puluh ribu."Jawabku.
"Ini uangnya Mba." Kata pemuda itu sambil menyerahkan dua lembar uang kertas bernilai sepuluh ribu dan dua puluh ribu rupiah.
"Terimakasih." Kataku pada Pemuda itu, kemudian Pemuda itu berlalu dari tempat jualanku.
Hari sudah semakin sore, aku hampir saja merapihkan jualanku, tiba-tiba ada seorang Ibu yang datang membeli semua kue, karena ada acara syukuran dirumahnya.
"Permisi Mba, kuenya masih ada?"tanya Ibu itu padaku.
"Iya Buk, silahkan." Jawabku sambil mempersilahkan si Ibu melihat kue buatan aku.
"Boleh juga, bungkus semuanya ya." Kata Ibu itu padaku.
"Iya Buk, sebentar ya."Jawabku sambil membungkus kue pesanannya.
"Ini Buk kuenya." Kataku pada Ibu itu.
"Terimakasih." Kata Ibu, sambil menerima sekantong kue dari tanganku, juga menyerahkan uang untuk aku.
Senyum bahagia dan senang terlihat di wajahku, karena jualanku laris semua, perlahan-lahan uang dari jualanku, mulai terkumpul.
Thomi juga sudah mulai menyisihkan sebagian gajinya untuk biaya nikahan nanti. Aku menahan diri dan keinginan untuk tidak berbelanja, karena fokus menabung untuk menikah.
Akhirnya apa yang kami, inginkan bisa tercapai, kami sudah menabung selama enam bulan dan uang kami sudah cukup untuk acara nikahan kami.
Next>>>>>>>>>
Mohon dukungannya....
__ADS_1
Dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote untuk mendukung karya ini, agar penulis lebih bersemangat.
Terimakasih atas dukungan kalian