JODOH DARI TUHAN

JODOH DARI TUHAN
Bab 33. Bertemu keluarga besar


__ADS_3

Sikap yang tulus, dan rendah hati dapat diterima oleh setiap orang dengan baik. Belum mengenal lebih jauh tapi selalu berkesan dalam hati.


Malam Itu aku tiba di pelabuhan jam 9 malam, Thomi sudah menunggu sejak tadi, di ruang tunggu untuk menjemput aku.


"Sayang aku tunggu di ruang tunggu ya." Kata Thomi dalam pesan yang dikirim untuk aku.


"Iya Thom ngga apa-apa, disini jalannya padat banget." Balasku pada Thomi.


Setelah aku bertemu dengan Thomi di ruang tunggu, akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang bersama di kostnya.


"Sayang di kost ada Adik aku ngga apa-apa kan?" tanya Thomi padaku.


"Iya ngga apa-apa Thom, aku aman bersama kamu." Jawabku pada Thomi.


"Sayang kita berhenti sebentar aku belikan makan malam untuk kita." Kata Thomi padaku, kemudian berhenti di depan tempat jualan.


"Iya Thom." Jawabku.


"Kamu mau makan apa Sayang?" tanya Thomi padaku, sebelum melangkah ke tempat jualan.


"Aku nasi kuning pake telor, juga sambal." Jawabku pada Thomi.


"Ok." Jawab Thomi kemudian melangkah menuju tempat jualan.


Setelah selesai membeli makanan aku dan Thomi melanjutkan perjalanan menuju kost, setibanya kami disana, kami disambut oleh Adik-adiknya.


"Ternyata Thomi menghilang dari tadi itu, jemput pacarnya, wow." Kata Eko pada kami sambil tersenyum.


"Ado do do do .... Kalian ngapain disini rame-rame?" tanya Thomi pada Eko dan Fian yang sedang duduk sambil main hp.


"Thom, karena kamu sudah datang, aku cabut ya, aku mau jemput istriku, jika kalian akan bepergian hubungi aku nanti aku bawa motorku ke sini." Kata Eko pada Thomi, sambil memegang helm, dan siap berjalan turun.


"Iya Eko, sekali lagi, terimakasih ya." Kata Thomi pada Eko.


"Ok. Aku jalan ya." Kata Eko.


Sebelum aku makan malam, aku memilih mandi lebih dulu, setelah itu baru aku makan bersama Thomi.


"Thom, aku mandi dulu ya, soalnya pusing." Kataku pada Thomi.


"Iya Sayang, handuknya ada di gantungan tempat jemuran." Kata Thomi padaku.


"Iya Thom." Jawabku kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi aku kembali ke kamar dan mendapati Thomi sedang nonton tv, sambil menunggu aku.


"Sayang makan Ayo." Kata Thomi padaku.


"Thom, Fian kemana?" tanyaku pada Thomi.


"Biasa Sayang, kalau ngga ke teman, berarti pergi sama pacarnya."Jawab Thomi padaku.


"Oh, gitu ya." Jawabku.


"Paling pulangnya besok siang atau sore, terus lanjut ke rumah Tante di depan." Kata Thomi.


"Oh iya. Begitu Sayang jika ke rumah Tante, nggak bisa pulang, banyak orang, ada yang main kartu, karoke, bakar-bakar jagung dan lain-lain, makanya mereka betah di rumah Tante." kata Thomi padaku.


"Seru! ayo kita makan." Kataku pada Thomi, kemudian duduk bersama untuk makan.


Setelah selesai makan kami bercerita, dan Thomi mengatakan padaku jika, mereka semua kakak beradik akan pulang untuk natal bersama di desa Ibunya.


Keberanian dan rasa ingin tahu yang menggebu dari dalam diriku, membuat Thomi semakin cemas dan berulang kali bertanya padaku.


Malam itu Thomi merasa ragu dengan aku, mungkin karena dia malu dengan keluarganya jika tahu aku adalah pacarnya.


"Sayang apa kamu yakin mau ikut bersama aku, disana banyak orang, semua keluarga besar dari Ibuku berkumpul." Kata Thomi padaku.


"Iya Thom, aku sangat yakin. Kamu pikir aku takut bertemu keluargamu, kamu pikir aku ini apa?" tanyaku pada Thomi.

__ADS_1


"Bukan begitu Sayang, kamu ngga apa-apa?" tanya Thomi padaku.


"Aku aman Thom, aku nggak ada rasa takut sedikitpun, yang ada malah rasa penasaran." Jawabku pada Thomi.


"Iya sudah kalau itu mau kamu, nanti kita berangkat tapi masih beberapa hari lagi." Kata Thomi padaku.


"Iya Thom." Jawabku.


"Ayo tidur Sayang, kamu kelelahan di kapal kan?"tanya Thomi padaku.


"Iya, kelelahan dan mabuk karena ombak." Jawabku.


"Ayo strahat, besok kita lanjut cerita lagi." Kata Thomi padaku.


"Iya, Thom aku boleh minta selimut." Ucapku pada Thomi.


"Oh iya, boleh Sayang."Kata Thomi, kemudian mengeluarkan sebuah selimut merah dari dalam lemari pakaian.


"Ini Sayang."Kata Thomi, sambil menyerahkan selimut itu padaku.


"Terimakasih Thom, Selamat tidur."Ucapku pada Thomi.


"Iya Sayang, selamat tidur juga."Jawab Thomi.


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, Thomi mulai sibuk dengan peralatan motornya, sedangkan aku hanya menyiapkan beberapa pakaian yang akan aku bawa nanti.


Malam itu Thomi menerima telepon dari Ibunya, dan Ibunya mengatakan jika mereka semua harus pulang untuk natal bersama.


"Sayang, barusan Ibuku menelpon, dan mengatakan bahwa besok pagi kita sudah harus berangkat."Kata Thomi padaku.


"Kalau begitu kita packing barang yang akan dibawa dari sekarang Thom." Jawabku pada Thomi.


"Ok, kamu aturlah."Kata Thomi.


"Ok." Jawabku singkat.


"Sayang, besok pagi kamu berangkat duluan bersama Fian, nanti aku antar kamu sampai ke pelabuhan, untuk masalah tiket, nanti Fian yang mengurusnya." Kata Thomi padaku.


"Kenapa kita nggak jalan sama-sama Thom, kok aku sama Fian duluan sih?"tanyaku pada Thomi dengan kesal.


"Sayang dengarkan aku, aku akan menyusul, aku bawa motor dan aku memintaku duluan bersama Fian, karena aku takut kita tidak dapat berangkat, aku nanti menyusul dengan Speed." Jawab Thomi padaku.


"Iya sudalah, jika itu yang kamu atur untuk aku." Jawabku dengan kesal, tidak ingin melihat wajah Thomi.


"Sayang jangan ngambek gitu dong."Kata Thomi padaku.


"Thom, jadi kesannya kamu nitip aku ke Fian, seperti barang gitu?"tanyaku pada Thomi dengan penuh kesal.


"Lama-lama aku tawar hati Thom, aku sama Fian duluan, disana aku asing dong, sendirian." Kataku dengan kesal.


"Jangan gitu dong Sayang, aku akan menyusul, aku tidak akan membiarkanmu bersedih disana."Kata Thomi mencoba menghibur aku.


Setelah lama berpikir, dan tekad aku sudah bulat, tetap berangkat. Pagi itu setelah bangun pagi, dan sarapan kami bergegas menuju pelabuhan untuk berangkat.


"Thom, bangun."Kataku membangunkan Thomi.


"Bangun, terus beli sarapan untuk kita ayo." Kataku pada Thomi.


"Iya Sayang." Jawab Thomi ,kemudian bergegas bangun dari tempat tidur dan mencuci muka, setelah itu membeli sarapan untuk kami.


"Buruan Thom." Kataku.


Setelah selesai sarapan kami bersiap untuk berangkat menuju pelabuhan kapal, yang akan mengantarkan kami ke desa Ibunya.


"Sayang ayo buruan aku antar kamu, setelah itu kita tunggu Fian di pelabuhan."Kata Thomi.


"Iya Thom." Jawabku.


Dengan cepat motor itu melaju dan kami tiba di pelabuhan. setelah beberapa menit menunggu akhirnya Fian tiba, dan Thomi menyerahkan uang tiket untuk Fian, karena dia yang lebih tahu.

__ADS_1


"Sayang kita tunggu Fian sebentar ya.Kata Thomi, sambil berdiri di parkiran.


"Iya Thom."Jawabku.


"Sayang tiket kamu nanti biar Fian yang urus."Kata Thomi.


"Iya Thom."Jawabku.


"Fian, kamu berangkat sama El, nanti aku menyusul, ini uang tiket untuk kalian." Kata Thomi pada Fian.


"Iya Thom."Jawab Fian.


"Kalau gitu aku balik ya."Kata Thomi pada kami.


Setelah selesai membeli tiket, Fian mengajak aku berjalan menuju kapal, karena kapal siap berangkat.


"Kak El, ayo buruan Kak, kita ke kapal."Kata Fian padaku.


"Iya Fian."Jawabku kemudian mengikuti langkah Fian menuju kapal.


"Kak, sudah aman?" tanya Fian padaku.


"Aman Fian." Jawabku.


Setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami tiba dirumah Nenek, disana terlihat orang sangat banyak, mereka tidak lain adalah Anak, cucu, menantu dari keluarga Ibunya.


Saat aku dan Fian masuk rumah, semua mata memandang kami dengan heran.


"Astaga banyak orang." Kataku dalam hati.


"Ayo masuk Kak."Kata Fian padaku.


"Iya."Jawabku sambil melangkah mengikuti Fian ke sebuah kamar.


"Kak ransel Kaka, letakan saja di kamar ini, tas Ibu juga ada disini."Kata Fian.


"Iya Fian."Jawabku.


Setelah aku meletakan ranselku, dan keluar dari kamar tiba-tiba ada suara yang bertanya pada kami.


"Fian, ini pacar kamu?" tanya seorang wanita pada Fian, yang tidak lain adalah Adik perempuan dari Ibunya, namanya Acha.


"Bukan Buk."Jawab Fian sambil tersenyum.


"Jangan alasan kamu, pantas setelah tiba Fian langsung mengantarnya ke kamar."Kata Buk Acha.


"Hai Dek, kamu pacarnya Fian?"tanya Buk Acha padaku.


"Bukan Buk."Jawabku


"Ibu guru tolong kesini sebentar Fian bawa pacar."Kata Buk Acha pada Ibunya Thomi.


"Oh bukan, ini pacarnya Thomi." Kata Ibu guru pada Buk Acha.


"Oh ini pacarnya Thomi, terus kenapa datang bersama Fian, Thomi mana?"tanya Buk Acha padaku.


"Iya Buk, Thomi nanti menyusul bersama yang lain Buk."Jawabku.


Setelah selesai, bercerita aku berkenalan dengan semua Ibu yang adalah saudara dari Ibunya Thomi.


Mereka sangat baik, dan penyayang.


Next>>>>


Mohon dukungannya.


Dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk mendukung karya ini agar penulis lebih bersemangat.


Terimakasih atas dukungan kalian.❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2