
Boleh bekerja dan berusaha, tapi jangan lupa untuk beristirahat, karena kesehatan lebih penting dari segalanya.
Terlalu asyik dengan pekerjaan dan mendapatkan uang, membuatku jarang beristirahat, sehingga kondisi tubuhku lemah.
Thomi sangat panik ketika mengetahui hal itu, aku tidak memberitahu dia tapi, lama-lama sakit yang ku rasakan semakin bertambah, disisi lain dia juga merasa gelisah akhirnya menghubungi aku.
Seperti biasanya setiap pagi Thomi akan mengirimkan pesan padaku.
"Sayang kamu lagi ngapain?"tanya Thomi dalam pesan.
"Aku lagi menyiapkan bahan untuk membuat kue."Balasku
"Sayang, kamu jangan terlalu asyik ya, nanti lupa istirahat."Balas Thomi padaku
"Iya Thom."Balasku.
Setelah selesai membalas pesan dari Thomi aku bergegas untuk membuat adonan kue, hari ini ada pesanan kue sebanyak seratus buah untuk acara syukuran.
Hari ini aku meminta bantuan kepada Adik perempuanku namanya Ida, untuk membantu aku membuat kue pesanan orang. Kebetulan dia sedang liburan kuliah jadi bisa membantu aku.
"Dek, Kakak bisa minta tolong?"tanyaku pada Ida.
"Iya Kak, apa yang bisa ku bantu?"Jawab Ida padaku.
"Bantu Kakak ya siapkan kue pesanan untuk acara syukuran, jam lima sudah di ambil kuenya."Kataku pada Ida.
"Oh iya Kak, kalau begitu kita harus lebih cepat."Kata Ida padaku, kemudian bergegas.
"Tapi kamu ngga kemana-mana kan hari ini?"tanyaku pada Ida.
"Tidak Kak."Jawab Ida dengan suara pelan.
"Oh syukurlah."Jawabku, sambil menatap Ida.
Jam menunjukkan pukul 16:30 aku memberitahu Ida, agar menyiapkan kue pesanan ke dalam kotak kue yang sudah tersedia, karena sebentar lagi yang punya pesanan akan datang.
"Dek, tinggal setengah jam lagi."Kataku pada Ida, sambil menggoreng roti dengan cepat.
"Iya Kak, kita juga sudah hampir selesai."Jawab Ida padaku.
"Kalau begitu, kamu masukkan kue yang sudah siap itu, kedalam kotak kue, jangan lupa dihitung jumlahnya." Kataku pada Ida, sambil mendinginkan kue.
"Iya Kak." Jawab Ida padaku.
Setelah kuenya selesai, aku dan Ida bereskan peralatan yang kami pakai tadi, tiba-tiba ada suara yang memanggil di depan rumah.
Dengan cepat aku berjalan menuju ke teras depan dan menemui suara itu.
"Selamat sore, permisi."Suara seorang Ibu memanggil.
"Oh iya silahkan masuk Buk."Kataku pada Ibu Tuti yang datang untuk mengambil pesanan kuenya.
"Iya terimakasih."Jawab Bu Tuti, kemudian duduk di teras.
Aku berjalan ke dapur dan mengambil kue pesanan Bu Tuti yang sudah kami siapkan sejak tadi.
__ADS_1
"Ida sini bantu aku." Ucapku pada Ida yang sedang membersihkan peralatan.
"Iya Kak." Jawab Ida padaku, sambil berjalan menuju aku.
"Kamu bantu aku ya, bawa dua tas kue ini kedepan nanti biar sisanya Kakak yang bawa."Kataku pada Ida.
"Iya Kak."Jawab Ida padaku, kemudian membawa tas itu kedepan.
"Maaf ya Bu Tuti nunggu lama."Kataku pada Ibu Tuti.
"Nggak papa Mba."Jawab Ibu Tuti.
"Ini Buk kuenya dicek dulu."Kataku pada Ibu Tuti sambil menyerahkan kuenya.
"Iya Mba."Kata Ibu Tuti sambil mengecek kotak kuenya.
"Aman, kalau begitu aku jalan ya." Kata Ibu Tuti padaku.
"Iya Buk, terimakasih."Jawabku pada Ibu Tuti.
Sore itu aku mulai merasakan tidak enak badan, tapi aku pikir itu hanya kecapean, aku cuek sambil mengecek bahan- bahan kue untuk besok pagi.
Tapi aku merasa tubuhku mulai kedinginan, dan aku keringatan, aku memilih untuk tidur, Adikku datang ke kamar aku, seperti biasanya dia akan datang untuk bercerita, tapi kali ini dia terkejut dengan kondisi aku.
"Kak, aku masuk ya."Kata Ida sebelum masuk ke kamarku.
"Kak, kamu sudah tidur ya?"tanya Ida padaku, karena aku tidak merespon dan aku selimut dengan selimut tebal.
"Kakak." Kata Ida sambil mendekati aku.
"Astaga badan Kakak panas bangat, aku beritahu Ayah sama Ibu ya Kak." Kata Ida setelah memegang tanganku.
"Tidak Kak, ini tidak bisa dibiarkan." Kata Ida padaku, kemudian bergegas keluar kamar.
"Ayah, Ibu." Kata Ida memanggil Ayah dan Ibu.
"Ada apa Nak?"tanya Ibu pada Ida.
"Kakak sakit, ayo hubungi dokter agar/suster agar datang mengecek keadaan Kakak." Kata Ida pada Ibuku.
Dengan cepat Ayah menghubungi seorang Suster yang sudah akrab dengan keluarga kami, untuk datang kerumah kami.
Tut .... Tut .... "Nada panggilan tersambung
"Halo, selamat malam Sus, apakah Anda sibuk?"tanya Ayah kepada Suster itu.
" Iya selamat malam juga, nggak Pak, ada apa ya.?"Jawab Suster tersebut, kemudian kembali bertanya.
"Dirumah kami ada Anakku yang sakit, bisakah Suster datang memeriksa kondisinya."Kata Ayah pada Suster itu.
"Iya Pak, aku ke-sana sekarang."Jawab Suster itu, kemudian akhiri teleponnya.
Setelah dua puluh menit berlalu dan Suster itu akhirnya tiba di rumah kami, aku yang terbaring lemas hanya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Selamat malam Pak."Ucap Suster itu sebelum masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Iya Sus, silahkan masuk." Jawab Ayah kepada Suster.
"Siapa yang sakit Pak?"tanya Suster pada Ayah.
"Anak perempuanku, dia ada di kamar, silahkan Sus." Jawab Ayah mempersilahkan Suster untuk masuk mengecek keadaanku.
Suster mulai mengeluarkan peralatan medisnya kemudian melakukan tugasnya, setelah itu Suster memberitahu Ayah jika aku perlu di suntik.
"Pak Anak Bapak, kecapean, kurang beristirahat, darahnya juga rendah, aku akan memberi dua suntikan padanya."Kata Suster pada Ayahku.
"Silahkan Sus, jika itu perlu."Jawab Ayahku.
"Permisi ya Mba." Kata Suster sambil memegang jarum suntik.
"Aduh sakit....." Kataku dengan suara pelan.
Akhirnya kedua jarum suntik itu berhasil menikam aku, rasa sakitnya masih terasa, dan aku tertidur.
Ketika Suster selesai memeriksa kondisi aku, suster menyarankan agar aku beristirahat satu sampai dua hari, agar kondisi aku kembali sehat.
Thomi menghubungi aku, karena firasatnya tidak baik, dan dia gelisah tidak bisa tidur.
Tut ... Tut ... Terdengar hp bergetar di atas meja.
"Halo Thom, ada apa?"tanyaku pada Thomi setelah menjawab teleponnya.
"Kamu kok belum tidur, suara kamu kok serak gitu, kamu sakit." tanya Thomi padaku dengan suara ketakutan.
"Iya Thom, aku sakit." Jawabku singkat.
"Sayang kamu kok nggak beritahu aku sih, marah sama aku, bisa sendiri?"Kata Thomi padaku dengan panik.
"Terus sekarang gimana,sudah di cek, atau mau ke rumah sakit?"tanya Thomi dengan ketakutan dan panik.
"Nggak apa-apa Thom, tadi sudah di periksa sama suster, katanya aku kecapean dan darah rendah." Jawabku pada Thomi.
"Sayang, kok bisa sampai begitu, aku dari tadi gelisah, nggak bisa tidur, makanya aku hubungi kamu." Kata Thomi padaku.
"Aku nggak apa-apa kok Thom."Kataku pada Thomi.
"Sayang aku sedih loh, kalau kamu sakit, besok pagi aku temui kamu ya." Kata Thomi padaku.
"Terserah kamu saja Thom, memangnya kamu libur?"tanyaku.
"Aku izin, aku nggak bisa kalau kondisi kamu seperti ini."Jawab Thomi padaku.
"Baiklah."Jawabku singkat.
"Kalau begitu kamu strahat ya, semoga cepat sehat Sayangku, aku mencintaimu."Kata Thomi padaku.
"Terimakasih Thom, aku juga mencintaimu."Kataku pada Thomi.
~ Bersambung~
Mohon dukungannya.
__ADS_1
Dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote untuk mendukung karya ini, agar penulis lebih bersemangat.
Terimakasih atas dukungan kalian❤️❤️