JODOH DARI TUHAN

JODOH DARI TUHAN
Bab 23. Pertemuan pertama


__ADS_3

Jarak tidak bisa memisahkan pasangan yang sudah lama menjalin hubungan tanpa sentuhan,


Malam itu, aku memutuskan untuk berangkat ke kota Ambon besok pagi, karena ingin bertemu dengan Thomi, yang selama ini kami hanya menjalin hubungan lewat telepon.


Setelah aku selesai berkemas beberapa barang yang akan aku bawa, aku berbaring di tempat tidur, sambil memberitahukan Thomi, jika besok aku akan menemui dia.


"Sayang, besok aku berangkat ke Ambon, kamu jemput aku ya." Kataku dalam pesan yang aku kirim untuk Thomi.


"Iya Sayang, nanti aku jemput." Balas Thomi singkat padaku, merasa tidak mungkin.


Pagi itu aku bersiap kemudian temui Ibu yang sedang mencuci pakaian, dan memberitahu Ibu jika aku akan berangkat.


"Buk, aku berangkat ya ke Ambon, aku akan kembali beberapa hari, karena ada libur sekolah beberapa hari kedepan." Ucapku pada Ibu, sambil berdiri menatap Ibu yang sedang mengeringkan pakaian di mesin cuci.


"Iya El, kamu hati-hati. Jika sudah tiba kamu jangan lupa kabari Ibu ya." Kata Ibu padaku merasa khawatir.


"Iya Buk, nanti aku telepon jika aku sudah sampai di kota Ambon." Jawabku pada Ibu, kemudian berjalan menuju teras depan.


"Jangan lupa hubungi Thomi agar jemput kamu El." Ucap Ibu padaku sambil berjalan menuju teras dan berdiri bersamaku.


"Iya Buk. Aku jalan ya, dah Ibu ... " Ucapku kemudian berjalan menuju jalan utama untuk menunggu Ojek.


Banyak motor yang bolak-balik tapi aku masih tetap berdiri di tepi jalan sambil menunggu Tukang ojek yang tepat.


"Ojek Ibu." Teriak seorang Pemuda yang lewat dengan motornya.


"Tidak! terimakasih." Jawabku sambil tersenyum sejenak, dan tetap berdiri.


Terlihat dari jauh, seorang Bapak mengendarai motornya dengan sangat hati-hati, rupanya Bapak ini sedang mencari penumpang. Saat Bapak itu hampir tiba di dekatku, Si Bapak memberi isyarat dengan mengangkat jari telunjuk, kemudian berhenti di depanku.


"Ibu mau ojek?" tanya Bapak Itu padaku dengan suara pelan.


"Iya Pak." Jawabku, kemudian melangkah maju dekat motornya.


"Mau kemana Ibu?" tanya si Bapak padaku, sebelum mengendarai motornya.


"Ke pelabuhan Pak." Jawabku sambil duduk di motor si Bapak.


Motor melaju dan akhirnya aku tiba di pelabuhan, setelah membayar tarif ojek, aku berjalan ke ruang tunggu, sambil menunggu pintu terbuka untuk kami bisa berjalan menuju kapal.


Kali ini aku tidak membeli tiket, karena uang yang aku punya pas-pasan, aku duduk tenang sambil berdoa didalam hati.


"Tuhan mudahkan perjalananku, aku tidak punya uang untuk membeli tiket, bantu aku dan lindungi aku hingga tiba di kota Ambon. Amin."


Sekarang waktunya pemeriksaan tiket, agar bisa menuju ke kapal.


"Perhatian Bapak dan Ibu para penumpang yang akan berangkat, mohon tunjukkan tiket kalian masing-masing." Ucap salah seorang Bapak Petugas pelabuhan.


Sebagian orang telah menunjukkan tiket mereka kemudian, berjalan menuju ke kapal, aku duduk menunggu situasi yang pas kemudian aku berjalan menuju pintu keluar.


"Permisi Ibu mana tiketnya?" tanya Bapak Petugas itu padaku.


"Ini Pak." Jawabku singkat, sambil menunjukan tiket lamaku.


"Iya Ibu silahkan." Ucap Bapak Petugas padaku.


Aku berjalan beberapa langkah dengan cepat, kemudian, semakin cepat agar bisa mencari tempat untuk duduk. Akhirnya aku tiba di kapal dan aku memilih untuk duduk di bagian kantin kapal, sambil minum teh yang aku beli dari kantin.


"Permisi Pak, aku pesan teh hangat." Ucapku pada penjaga kantin, sambil duduk.


"Iya Ibu, sebentar ya." Jawab penjaga kantin padaku.


"Ini tehnya Ibu, silahkan." Ucap penjaga kantin sambil meletakan satu gelas teh hangat.

__ADS_1


"Iya Pak terimakasih." Jawabku pada penjaga itu.


Sambil menikmati segelas teh hangat, aku memberitahukan Thomi jika aku sudah dalam perjalanan.


"Thom, aku sudah berangkat, nanti jemput aku ya." Tulisan aku dalam sebuah pesan yang dikirim untuk Thomi melalui via sms.


"Yang benar El, jangan bercanda." Balas Thomi padaku.


Aku mengirimkan beberapa foto aku sementara berada didalam kapal padanya agar dia percaya. Saat ini Thomi sedang berada di Ambon, dia tinggal bersama Adik laki-lakinya di sebuah kost, yang sudah lama dia tempati. Thomi tinggal di Ambon karena ada pekerjaan yang harus dia kerjakan bersama saudara sepupunya.


"Iya Thom, nanti kalau sudah tiba di pelabuhan aku kabari kamu, jika hpku tidak aktif aku akan pinjam hp orang untuk menghubungimu." Balasku pada Thomi, kemudian aku lanjut minum teh.


Setelah selesai, minum teh aku berjalan menuju dek kapal untuk mencari tempat tidur yang masih kosong, saat aku tiba disana dan mencari tempat tidur yang kosong seorang bapak memanggilku.


"Ade, cari apa?" tanya Bapak itu padaku


"Tempat tidur Pak, aku tadi terburu-buru jadi tidak sempat membeli tiket." Jawabku sambil memandang kiri dan kanan di antara semua tempat tidur.


"Oh, sini Ade, kebetulan tidak ada orang yang menempati tadi Bapak sengaja meletakkan tas di tempat tidur sebelah agar orang lain tahu tempat tidur ini sudah ada yang tempati." Jawab Bapak Itu sambil memindahkan tasnya dari tempat tidur itu.


"Iya, terimakasih Pak." Jawabku kemudian duduk di tempat tidur.


"Ade, kamu sudah makan?" tanya Bapak padaku.


"Sudah Pak." Jawabku singkat


Aku membaringkan tubuhku di kasur, dan mencoba untuk tidur agar aku tidak merasakan gelombang laut saat ini. Terdengar suara yang memanggilku.


"Dek, kamu suka makan keripik?" tanya si Bapak padaku sambil memegang sebungkus keripik pisang.


"Iya Pak." Jawabku singkat, kemudian bangun dan duduk.


"Ini untukmu, tadi Bapak beli ada dua bungkus, ambil satu untukmu." Kata si Bapak sambil menyerahkan sebungkus keripik padaku.


"Kamu di Ambon tinggal sama siapa?" tanya si Bapak padaku.


"Aku tinggal sama keluarga." Jawabku


"Oh iya." Jawab si Bapak.


"Aku strahat dulu ya Pak, soalnya aku pusing." Ucapku pada si Bapak kemudian berbaring.


"Oh iya, silahkan." Jawab Bapak singkat.


Aku tertidur lelap, dan melupakan rasa gelombang air laut yang membuat kepalaku terasa sangat pusing.


Tidak terasa hari semakin sore dan kapal hampir tiba di pelabuhan, aku terkejut bangun dan memikirkan cara untuk menghubungi Thomi agar dia menjemput aku. Setelah pemberitahuan dari Kep, dan kapal pun sandar.


"Masih pusing ya?" tanya si Bapak padaku, saat melihat aku bangun.


"Tidak Pak sudah mendingan." Jawabku


"Oh ia, nama Bapak, Yance panggil saja Bapak Yan." Kata Pak Yan memberitahu namanya.


"Namaku El." Jawabku singkat.


"Selamat sore, mohon perhatiannya kurang lebih lima belas menit lagi kapal akan tiba di pelabuhan Yos soedarso Ambon, mohon periksa kembali barang bawaan masing-masing agar tidak ada yang tertinggal di kapal." Kata Kep, melalui pengeras suara di dalam kapal.


"Pak Yan, aku bisa pinjam hp bapak buat telepon orangtuaku?" tanyaku pada Pak Yan, dengan penuh harap.


"Oh iya boleh, ini hpnya." Jawab Pak Yan sambil memberikan hpnya padaku.


Tut ... Tut ... Tut ...

__ADS_1


"Halo Thom, ini aku El. Aku sudah di pelabuhan kamu datang jemput ya. hpku mati total, ini aku pakai hp orang." Ucapku pada Thomi.


"Iya Sayang, kamu tunggu di ruang tunggu ya, nanti aku jemput." Jawab Thomi padaku.


"Ok. Aku tutup teleponnya." Kataku pada Thomi.


"Iya." Jawab Thomi singkat.


Aku mengakhiri telepon dan menyerahkan hp pada Pak Yan, sekalian berterimakasih, karena sudah membantu.


"Ini Pak hpnya, terimakasih banyak Pak." Ucapku pada Pak Yan sambil menyerahkan hpnya.


"Iya El, sama-sama." Jawab Pak Yan


Sekarang semua orang sudah bergegas untuk turun, karena kapal sudah tiba di pelabuhan, aku masih duduk, menunggu agar sebagian orang turun terlebih dahulu, agar tidak berdesakan di pintu.


Aku turun dari kapal dan berjalan mengikuti banyak orang menuju ruang tunggu, setibanya aku diruang tunggu aku memilih tempat duduk, diruang tunggu tidak banyak orang. Aku meletakan tas kecilku kemudian menunju ke toilet, setelah itu aku kembali ke tempat duduk untuk menunggu Thomi.


Sudah hampir tiga puluh menit aku menunggu dengan rasa penasaran, hingga rasa penasaran itu diganti dengan rasa bosan karena lama menunggu, akhirnya Thomi tiba. Terlihat dari jauh, sosok lelaki bertubuh ramping berjalan menuju padaku sambil tersenyum.


"El, maaf menunggu lama, soalnya aku tunggu Adikku dengan motor." Ucap Thomi padaku sambil duduk, dan menjelaskan keterlambatannya.


"Iya ngga apa-apa." Jawabku dengan wajah kesal.


"Mana koper kamu?" tanya Thomi padaku sambil menatap wajah ku yang masih kesal.


"Eh, wajahmu jangan seperti itu tidak enak dilihat orang." Kata Thomi sambil meletakan tangannya di kapala aku.


"Tapi aku tunggu kamu terlalu lama Thom." Ucapku dengan wajah kesal.


"Iya-iya, katanya kamu mau makan ayam bakar, ayo kita pulang." Kata Thomi mencoba membujukku.


"Ini tasku." Jawabku sambil menyerahkan tas kecilku pada Thomi.


"Loh, katanya koper besar?" tanya thomi mengejek.


"Iya, itu kan katanya," jawabku pada Thomi.


"Ayo kita jalan." Kata Thomi sambil menggenggam tanganku.


Aku dan Thomi berjalan keluar dari ruang tunggu dan menuju parkiran motor untuk mengambil motornya.


"El, kamu tunggu disini ya aku ambil motor." Ucap Thomi padaku.


Aku hanya terdiam melihat dia melangkah. Thomi tiba dengan motor di depanku, dan mengajak aku untuk pulang.


"Ayo kita jalan." Kata Thomi padaku, kemudian melajukan motornya.


"Katanya kangen aku, masa sih nggak mau peluk." Ucap Thomi


"Malu." Jawabku singkat.


"Eh, malu apaan? kita kan pacaran. Sama pacar masih malu juga?" tanya Thomi padaku sambil mengejek.


"Kan kita baru pernah ketemu, masa sih main langsung peluk aja, aku masih malu." Jawabku pada Thomi.


"Terserah kamu saja, yang penting kamu senang." Ucap Thomi.


Next.....


Mohon dukungannya.


Dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote agar author semakin bersemangat.

__ADS_1


Terimakasih bagi yang sudah memberi dukungannya.❤️


__ADS_2