
Orang yang kita cintai bisa membenci dan mengancam kita seenaknya hanya karena wanita lain.
Setelah aku tiba di rumah Kak Alen, dan aku melanjutkan aktivitas seperti biasa ke sekolah tempat aku bekerja. Setibanya aku di sekolah,
" Selamat pagi Ibu El," ucap beberapa Anak perempuan padaku yang bertemu dengan aku di depan pagar sekolah.
" Selamat pagi juga Anak- anak." Ucapku balik pada Anak- anak itu, kemudian melanjutkan langkahku menuju ke Ruangan Guru untuk mengecek absenku (Guru Honorer).
" Selamat pagi Bapak." Ucapku pada Pak Edy yang sedang duduk di meja kerjanya sambil mengecek beberapa laporan pendidikan Siswanya.
" Pagi juga Kakak, baru tiba ya Kak?" tanya Pak Edy padaku dengan suara pelan, sambil membaca raport siswanya.
" Iya Pak, baru tiba dan aku datang ke sekolah." Jawabku pada Pak Edy, sambil menandatangani absenku.
" Hai El, baru tiba ya? katanya kamu pulang ke Ambon?" tanya Nining padaku sambil tersenyum dan menarik bangku untuk duduk di dekatku
" Iya Nining, aku pulang dan sudah kembali." Jawabku pada Nining dengan suara pelan.
" Ketemu pacar ya?" tanya Nining padaku sambil tertawa kecil.
" Bukan ketemu Ning, tapi putus hubungan Ning." Jawabku pada Nining dengan suara pelan, agar tidak terdengar oleh yang lain.
" Oh ya, kenapa El?" tanya Nining dengan wajah serius sambil menatapku.
" Dia ngga setia Ning, sudah punya pacar baru." Jawabku pada Nining dengan suara pelan.
" Kok bisa ya? Repot juga seperti itu El." Ucap Nining padaku dengan wajah serius.
" Sudalah jangan dibahas lagi Ning," Ucapku pada Nining dengan suara pelan sambil tersenyum karena Ibu Kepala Sekolah sudah tiba di depan pintu masuk Ruangan Guru.
" Selamat pagi Ibu- Ibu." Ucap Ibu kepala sekolah pada semua Guru yang berada di dalam ruangan.
" Pagi juga Buk," jawabku pada Ibu kepala sekolah juga beberapa Guru lainnya.
Siang itu Ibu kepala sekolah memberitahu kami untuk bekerja pada malam hari.
" Ibu El, Ibu Nining, dan Pak Jose sebentar sore kita kerja malam ya," Ucap Ibu kepala sekolah pada kami bertiga yang sedang duduk menatap layar laptop kami masing- masing.
" Iya Buk," jawabku pada Ibu kepala sekolah.
" Pak Jo, nanti sore tolong jemput El, baru datang sama- sama kesekolah." Pinta Ibu kepala sekolah pada Jose.
" Iya Ibu, siap." Jawab Jose singkat.
Kami bergegas untuk pulang, karena sudah waktunya untuk pulang sekolah.
" El, pulang bareng aku ayo, kebetulan aku pulang lewat komplek rumah kamu." Kata Jose padaku sambil melangkah ke arah motornya yang sedang parkir di halaman sekolah tepat di bawah pohon pete.
" Baiklah," jawabku singkat sambil berjalan ke depan pintu gerbang sekolah.
__ADS_1
Jose mengantarku pulang, tidak perlu waktu lama tiga menit kemudian kami tiba di depan lorong komplek rumah Kak Alen.
" Thank's ya Jo," ucapku pada Jose, setelah turun dari motornya.
" Iya El, aku jalan ya." Jawab Jose, kemudian melajukan motornya dengan cepat hingga hilang dari pandanganku.
Setelah aku tiba dirumah, hpku bergetar tanda ada telepon masuk, ternyata telepon dari Edi.
" Ih, malas deh, pasti dia akan mengancam aku lagi." Ucapku dalam hati, kemudian menjawab teleponnya.
" Halo," ucapku pada Edi.
" El, aku minta kamu kembalikan kamera aku!" kata Edi dengan suara kasar.
" Wow, kamu kok gitu sama aku Ed?" tanyaku pada Edi merasa bingung.
" Pokoknya aku minta kamu kembalikan kamera aku, jika tidak aku akan melaporkan kamu ke polisi, biar polisi menangkap kamu disitu!" jawab Edi padaku dengan suara kasar juga mengancam.
" Lapor polisi? silahkan aku tidak takut! karena aku tidak mencuri, dan kamera ini juga kita beli bersama( pakai uangku juga)!" jawabku pada Edi dengan tegas.
" Lagian polisi mana yang mau menangkap aku dengan wajah polos dan tanpa salah ini, lapor saja silahkan, aku tidak takut polisi, karena aku tidak bersalah!" ucapku balik pada Edi dengan emosi.
" Tidak tahu diri, brengsek kamu El!" jawab Edi padaku dengan nada suara kasar juga kesal karena aku sudah berani menantangnya.
" Asal kamu tahu ya. kameranya sudah aku gadai di pegadaian, karena aku butuh duit Sayang." Ucapku pada Edi sambil tertawa mengejeknya.
" Brengsek kamu El, jangan main- main sama aku El!" jawab Edi dengan tegas padaku.
Hpku kembali bergetar, Edi menelpon aku lagi, dan Edi sudah semakin marah.
" Awas kamu ya, jika kamu tidak kembalikan kamera aku lihat saja nanti aku akan laporkan orangtuamu ke polisi!" Kata Edi mengancam dengan suara kasar.
" Dasar lelaki tidak punya malu, tidak tahu diri, sadar ngga sih apa yang kamu bilang?" Ucapku membalas perkataan Edi dan membuatnya semakin marah.
" Kameranya ada di pegadaian, tidak usah banyak bicara. Jika ingin mengambilnya kamu harus membayar tebusannya dulu." Kataku dengan suara pelan, dan santai biarkan dia yang merasakan emosi.
Kemudian Edi mengakhiri teleponnya, hari sudah sore, aku bergegas mandi dan bersiap ke sekolah.
" tut tut...El,... El," Jose sudah tiba didepan rumah dan dia bunyikan klakson motornya lalu memanggilku.
" Cari siapa?" tanya Ibuku yang saat itu keluar ke teras mencari tahu siapa yang memanggilku.
" Selamat malam Tante, aku teman El, dan aku datang atas perintah kepala sekolah untuk menjemput dia." Kata Jose mencoba menjelaskan pada Ibuku.
" Sebentar Tante panggil El dulu, dia sedang bersiap-siap." Jawab Ibuku, sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan temui aku di kamar.
" El, ada teman kamu didepan sedang menunggu katanya disuruh kepala sekolah untuk jemput kamu ke sekolah." Kata Ibu dengan pelan sambil menatapku.
" Iya Buk, ini sudah selesai." Jawabku pada Ibu sambil meraih tas kecil, kemudian mengambil hp dan charger lalu keluar temui Jose.
__ADS_1
" Biasa Buk, El memeng begitu aktivitasnya, jika kerja belum selesai mereka akan kembali bekerja di malam hari." Kata Kak Alen menjelaskan pada Ibu sambil nonton tv.
" Hei, maaf tunggu lama, ayo jalan" ucapku pada Jose, sambil berjalan beberapa langkah menunggu jose memutar motornya.
" Ibu kepala sekolah menelponku dan mengingatkan aku agar menjemputmu dirumah." Kata Jose padaku kemudian, kami berangkat ke sekolah.
Setibanya kami di sekolah, ternyata kami orang kedua yang datang setelah Ibu kepala sekolah, lima menit kemudian, Nining pun tiba barulah kami mulai bekerja, masing- masing dengan tanggung jawabnya.
" El, ini bagian yang harus kamu kerjakan." Kata Jo sambil meletakan buku tebal dengan tanda lipatan Bab pertama.
" Ok pak Jo." Jawabku dengan semangat dan mulai mengetik.
Suasana di Ruangan Guru sangat tenang hanya terdengar suara musik dari laptop Jose, kami bekerja dengan semangat, setelah Pak Edy tiba menambah keramaian bagi kamu, karena Pak Edy suka bercerita.
" Hai, serius bangat kalian." Kata Pak Edy pada kami yang sedang serius mengetik.
" Iya Pak, biar cepat selesai dan pulang." Kata Jo pada Pak Edy.
Setelah aku selesaikan tugasku, aku beristirahat di sofa sambil mengaktifkan hpku.
Tut...tut.. tut.. Hpku bergetar lagi, dan Edi menelponku lagi.
" Iya kenapa lagi?, masih mau marah padaku?" tanyaku pada Edi dengan suara kesal, karena capek.
" El, aku minta maaf, tolong kamu kembalikan kamera aku ya." Ucap Edi dengan suara pelan penuh harap.
" Edi, aku tahu kamera itu bukan jadi milikku, dan aku pasti akan kembalikan untukmu, kenapa kamu harus mengancam sampai dengan orang tuaku?!" tanyaku pada Edi dengan marah dan kesal sambil melangkah keluar dari ruangan.
" Iya El, maaf wanita itu sudah membuatku tak waras." Kata Edi padaku dengan suara pelan.
" Baiklah, aku maafkan kamu." Jawabku pada Edi kemudian mengakhiri teleponnya dan kembali ke dalam ruangan.
Pekerjaan kami selesai dan kami pulang, Jo tetap mengantarku pulang karena sudah larut malam dan aku sangat takut.
Dua minggu telah berlalu, dan kami selalu bertengkar lewat hp, hingga siang itu setelah pulang dari sekolah aku tiba dirumah, aku mendapat telepon dari Kak Titin.
" Halo Dek, apa kabar." Tanya Kak Titin padaku.
" Baik Kak." jawabku singkat.
" Ade, kata Edi kamu sudah menggadai kamera ya?" tanya Kak Titin padaku dengan suara pelan.
" Tidak Kak, kameranya ada padaku,. Aku berbohong pada Edi karena dia mengancam aku setiap hari." Kataku pada Kak Titin dengan suara kesal.
" Ade, tolong ya kalu bisa dikembalikan." Kata Kak Titin padaku penuh harap.
" Iya Kak, lagian aku tahu itu bukan milikku aku tidak berhak!" Jawabku dengan tegas pada Kak Titin.
" Baiklah terimakasih ya Dek." Jawab Kak Titin padaku kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
__ADS_1
Malam itu aku berkemas dan bersiap untuk berangkat ke Ambon,