
Seseorang yang baru kita kenal, bisa saja dia adalah jembatan kebahagiaan untuk kamu.
Pagi itu Kak Alen sudah ke kantor, aku tidak kesekolah dirumah hanya aku dan Ibu serta kedua Anak Kak Alen.
" Buk, aku mau berangkat ke Ambon." Kataku pada Ibuku sambil berdiri di depan pintu ruang tengah.
" Kamu hati- hati di jalan ya." Jawab Ibu dengan suara pelan, karena Ibu sedang menggendong Bayi Kak Alen.
Setelah berpamitan pada Ibu, aku berangkat menuju pelabuhan dengan menggunakan ojek, Setelah tiba disana, aku menuju ke loket penjualan tiket.
" Permisi Buk, beli tiket satu." Ucapku sambil berdiri dalam antrian.
" Iya, aku minta KTP mu." Jawab Ibu petugas loket.
" Iya Buk, ini KTP aku." Jawabku sambil menyerahkan KTP milikku.
" Terimakasih" jawab Ibu petugas loket.
" Ini tiketnya total Seratus enam puluh lima ribu rupiah ( Rp.165.000)" kata Ibu petugas sambil menyerahkan satu lembar tiket kapal untukku.
" Baik Bu, ini uangnya, terimakasih" Jawabku pada Ibu petugas sambil menyerahkan uang pas pada Ibu petugas loket penjualan tiket.
Setelah selesai membeli tiket, aku berjalan menuju ke ruang tunggu, dan memilih kursi untuk duduk, sambil menunggu pintu ruang tunggu terbuka agar kami bisa berjalan menuju kapal.
" Hai, Ibu mau berangkat?" tanya seorang Bapak yang bekerja di pelabuhan.
" Iya Pak." Jawabku singkat.
" Ok. Permisi ya Buk." Jawab Bapak itu padaku kemudian berlalu dari hadapanku.
Setelah aku duduk hampir satu jam, dan kami dimintakan untuk menunjukkan tiket sebelum keluar dari ruang tunggu.
" Permisi Bapak, Ibu pintu ruang tunggu akan dibuka, dan sebelum keluar Bapak, Ibu wajib menunjukkan pada kami tiket masing- masing terimakasih." Kata seorang Bapak petugas yang berdiri tepat di depan pintu keluar ruang tunggu.
Setelah selesai menunjukkan tiket aku dipersilahkan untuk berjalan menuju ke kapal.
Dengan cepat aku berjalan hingga tiba di dalam kapal, dan aku segera mencari nomor tempat tidur sesuai dengan yang tertera di dalam tiket.
" Ibu, cari tempat tidur nomor berapa?" Tanya salah satu pedagang yang saat itu berjualan di dalam kapal.
" Tidak Bu, terimakasih. Sudah aku temui." Jawabku sambil berjalan dan duduk di tempat tidurku.
Sambil beristirahat, dan menikmati lajunya kapal aku memikirkan perjalananku yang panjang dan aku akan tidur dimana? setiap kali aku melangkah, aku yakin Tuhan pasti menyertai setiap langkahku.
Tak terasa hari semakin sore dan kapal yang aku tumpangi tiba di pelabuhan. Aku bersiap untuk turun.
" Selamat sore Bapak, Ibu penumpang, kita telah tiba di pelabuhan Yos Soedarso dengan selamat, sebelum meninggalkan kapal, mohon mengecek barang bawaan masing- masing jangan sampai ada yang tertinggal, terimakasih telah berlayar bersama kami." Terdengar suara ucapan salah seorang awak kapal yang berbicara melalui pengeras suara.
" Ojek Buk?" tanya seorang Pemuda padaku.
" Tidak! terimakasih, aku naik angkot saja." Jawabku pada pemuda itu sambil berjalan menuju pintu keluar kapal.
Setelah aku keluar dari kapal, aku berjalan menuju terminal karena jarak dari pelabuhan ke terminal tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Kali ini aku memilih angkot tujuan terminal Transit, disana banyak Bus dengan rute Ambon ke Masohi, setelah angkot penuh dan supir angkot melajukan angkotnya, tiga puluh menit berlalu dan aku tiba di terminal Transit, setelah membayar tagihan angkot, aku berjalan menuju Bus yang sedang parkir.
" Selamat malam Pak," Ucapku pada seorang Bapak yang sedang duduk tepat disamping badan Bus sambil membaca koran.
" Selamat malam juga Dek, ada perlu apa?" jawab Bapak itu, kemudian kembali bertanya padaku.
" Mau tanya Pak, Bus mana yang akan berangkat besok pagi Pak?" tanyaku pada Bapak itu, sambil berdiri memandang ke kiri dan ke kanan.
" Adik, mau berangkat juga?" tanya Bapak itu padaku sambil berdiri dan berjalan mendekati Bus tersebut.
" Hei, bangun! ada penumpang datang." Ucap Bapak itu yang sudah masuk di bus kemudian membangunkan supirnya yang sedang tidur.
" Adik, mau berangkat kemana?" tanya seorang Bapak padaku yang tak lain adalah supir bus, sambil berteriak dari dalam bus bagian depan.
" Aku mau ke Masohi Pak." Jawabku sambil berdiri didepan pintu bus,
" Masuk Dek, jangan berdiri diluar sudah malam." Ucap Pak supir padaku.
__ADS_1
" Iya Pak terimakasih." Ucapku pada supir bus, sambil melangkah masuk ke bus dan memilih tempat duduk.
Setelah aku mendapatkan tempat duduk yang nyaman, aku rasa lega, Setelah tiga puluh menit berlalu tiba-tiba ada seorang Bapak, masuk ke bus.
" Hai Dek, permisi, maaf mengganggu." Ucap Bapak itu padaku sambil meraih stopkontak untuk menyalakan lampu bus yang berada di dekat tempat duduk bagian depanku.
" Oh, silahkan Pak." Jawabku pada Bapak itu.
" Dek, namaku Yosi, aku garnet di bus ini, kata orang tak kenal maka tak sayang." Kata Pak garnet padaku sambil mengulurkan tangannya padaku untuk di jabat dengan wajah penuh senyum kemudian duduk di tempat duduk barisan depanku.
" Namaku El." Jawabku singkat pada garnet itu.
" El, nama yang bagus, El darimana dan mau kemana?" tanya garnet itu padaku yang merasa sudah akrab.
" Aku baru saja tiba dari pulau Buru dan akan melanjutkan perjalanan ke Masohi." Jawabku pada garnet itu dengan suara pelan.
" Oh ya, jauh bangat, pasti sangat melelahkan." Ucap garnet itu padaku.
" Iya Pak. Melelahkan." Jawabku pada garnet itu dengan suara pelan.
Suasana tenang, hanya terdengar alunan lagu dari hp Pak supir, sekarang sudah jam sepuluh malam, tiba-tiba perutku terasa sakit.
" Pak Yosi, maaf bisakah kau mengantarku ke toilet dekat sini, perutku terasa sakit." Ucapku pada Pak Yosi sambil berdiri karena sudah tidak bisa di tahan
" Ya ampun.. Ayo Dek, aku antar kamu ke toilet." Jawab Pak Yosi melangkah keluar dari mobil dan berjalan bersamaku menuju toilet.
Setelah kami tiba di depan toilet Pak Yosi mempersilahkan aku untuk masuk.
" Dek, ini toiletnya silahkan masuk aku tunggu disana ya." Kata Pak Yosi padaku sambil melangkah ke arah tempat duduk yang berada tak jauh dari toilet
" Iya Pak." Jawabku singkat pada Pak Yosi.
Saat aku masuk dan membuka pintu toilet, kelihatan toiletnya sangat bersih dan wangi, airnya mengalir terus dari kran air ke dalam bak penampung. Dengan cepat aku mengeluarkan sampah yang ada di perutku hingga selesai, setelah itu aku merasa lega, kemudian merapihkan pakaianku dan membasahi wajahku dengan air, lalu keluar.
" Sudah selesai Dek?" tanya Pak Yosi padaku, sambil melangkah ke arahku.
" Iya Pak, lega. Terimakasih." Jawabku pada Pak Yosi, kemudian mengikuti langkah Pak Yosi dan tiba di bus.
"Dek, kamu bermalam di bus? tanya pak Yosi padaku.
" Iya Pak." Jawabku singkat.
Saat aku dan Pak Yosi sedang bercerita, datang seorang Wanita mudah.
" Pak Yosi, aku memesan satu tempat duduk." Ucap Wanita itu pada Pak Yosi sambil melihat ke dalam bus.
" Iya, baik akan aku simpan." Jawab Pak Yosi pada Wanita itu sambil berdiri.
Terdengar suara dari luar bus yang bertanya pada Wanita itu.
" Kamu yakin bermalam di bus?, ikut aku saja nginap tempatku, besok pagi- pagi aku mengantarmu kesini." Ucap teman perempuannya yang berusaha meyakinkan Wanita itu.
" Iya sih, okelah aku ikut dengan kamu." Jawab wanita itu, sambil melangkah keluar dari pintu bus, kemudian pergi bersama temannya.
Pak Yosi sedang keluar untuk membeli rokok. Saat Pak Yosi kembali ke bus, Pak Yosi membawa sebungkus biskuit,
" El, ayo silahkan dimakan," Kata Pak Yosi sambil menyodorkan sebungkus biskuit yang sudah di buka padaku.
" Iya, terimakasih Pak." Jawabku sambil mengambil beberapa potong biskuit untuk di makan.
Semakin malam dan udara semakin dingin, aku hanya menggunakan jaket sebagai pengganti selimut, aku setelah dua jam aku pejamkan mataku, dan setelah aku kaget dan menyalakan hp untuk lihat jam, ternyata sudah jam empat subuh, terdengar suara ribut- ribut, ternyata Pak Yosi sedang mengatur barang-barang penumpang di bagasi bus,dan saat aku bangun tiba-tiba.
" Hai." Ucap Wanita yang semalam datang ke bus.
" Hai juga." Jawabku singkat.
" Kenalkan namaku Olin, nama Kakak siapa?" Ucap Wanita itu padaku, sambil bertanya balik padaku.
" Namaku El," Jawabku singkat, sambil mengambil botol air dan meneguk beberapa kali agar menyegarkan tenggorokanku yang kering.
" Kak El, boleh aku duduk di sampingmu?" tanya Olin padaku, sambil menatapku dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
" Oh iya, boleh. Kebetulan tempat duduk sebelahku belum ada yang punya." Jawabku pada Olin sambil memberi jalan untuk Olin lewat ke tempat duduknya.
" Kakak semalam tidur di bus ini?" tanya Olin padaku, sambil merapihkan barang - barangnya.
" Iya Olin, aku dan Pak supir bus, juga garnet dan dua penumpang lain." Jawabku sambil membantu Olin merapihkan barangnya.
" Yah ampun, minyak kayu putihku tumpah Kak, aku lupa menutupnya."Ucap Olin panik sambil mengangkat botol minyak kayu putih yang isinya tinggal sebagian, karena sebagian sudah tumpah.
" Kakak mau pakai minyak kayu putih? ini asli loh Kak." Tanya Olin sambil mengulurkan tangannya padaku agar minyak kayu putih yang ada di tangan Olin bisa dipindahkan ke telapak tanganku.
" Boleh." Jawabku pada Olin sambil mengulurkan tanganku pada Olin dan aku merasakan hangatnya minyak kayu putih ditangan juga aromanya yang fresh menghilangkan rasa pusing dari kepalaku.
Setelah selesai, merapihkan barang-barang, aku dan Olin bertukar nomor hp.
" Kak aku minta nomor hp Kakak ya biar kita saling mengirim pesan atau telepon untuk bercerita." Ucap Olin padaku sambil mengeluarkan hpnya dari dalam saku.
" Ok." Jawabku singkat pada Olin sambil menyebutkan nomor hpku, kemudian aku meminta Olin untuk menghubungiku, biar aku simpan langsung nomornya.
Tukaran nomor selesai, dan saat ini kami sudah dalam perjalanan menuju pelabuhan fery penyebrangan ke pulau Seram. Aku dan Olin saling bercerita tentang kegiatan kami saat ini dan juga masalah kami.
" Olin kuliah?" tanyaku pada Olin.
" Iya Kak, aku kuliah di kesehatan semester tiga." Jawab Olin sambil menatapku.
" Oh, orang kesehatan ya." Ucapku pada Olin.
" Kalau Kakak di pulau Buru sama siapa dan kegiatan apa disana?" tanya Olin padaku sambil menatap wajahku.
" Aku disana dengan Kakak perempuanku dan aku bekerja di salah satu Sekolah Dasar disana.
Kami lanjutkan saling bercerita tentang masalah-masalah kami, dan aku menceritakan masalahku yang sedang aku alami saat ini untuk Olin.
" Kak, jadi Kakak ingin punya pacar baru? biar tidak larut dalam kesedihan." Tanya Olin padaku dengan wajah gembira.
" Kira- kira begitu Olin. Maunya yang serius saja." Jawabku pada Olin dengan suara pelan.
" Kak, kebetulan bangat nih, Kakak aku memintaku untuk carikan cewek padanya, kebetulan bangat nih Kak, tapi dia bukan Kakak kandungku, dia sudah aku anggap sebagai Kakakku, karena dia selalu ada saat aku butuhkan. Memang dulu pernah dia menjalin hubungan dengan Kakak perempuanku tapi tidak lama mereka bubar, karena tidak cocok." Kata Olin padaku dan berusaha meyakinkan aku dengan ceritanya.
" Oh ya, terus dia berada dimana sekarang Olin?" tanyaku pada Olin dengan rasa penasaran.
" Yang aku tahu dia tinggalnya di Jawa Kak, tapi tenang saja Kak, aku punya nama facebooknya." Kata Olin padaku, sambil mengotak-atik hpnya.
" Kakak tenang saja, biar Olin yang urus." Ucap Olin padaku, membuatku semakin penasaran.
" Dia itu sibuk Kak, jika aku mengirimkan pesan padanya lama sekali baru di balas bisa berhari- hari." Kata Olin menjelaskan padaku.
" Oh. Kalau gitu kita lanjut tidur yuk, biar tidak mengantuk, perjalanan masih panjang." Ucapku pada Olin dan mengajak Olin untuk beristirahat.
Setelah dua jam perjalanan Pak Yosi sudah bersiap untuk menagih uang tiket,
" Olin bangun, ada pembayaran tiket bus." Bisik aku sambil membangunkan Olin.
" Oh iya Kak, terimakasih sudah membangunkan aku." Kata Olin sambil mengucek matanya, setelah itu lanjut tidur lagi.
Rasa sedihku semakin berkurang karena sudah aku ceritakan pada Olin. Setelah berjam- jam duduk di dalam bus, akhirnya aku tiba di rumahku.
" Olin aku duluan ya, ini rumahku sesekali mampir ya." Ucapku pada Olin sambil melangkah turun dari bus, dan lambaikan tangan untuk Olin.
Aku disambut oleh Adik perempuanku namanya Ida. Kemudian kami berjalan menuju kamarku dan kami bercerita tentang masalahku sekaligus aku titipkan kamera Edi padanya.
Tiga hari berlalu dan aku hanya mengurung diri di dalam kamar dan menangis, aku tidak ada selera makan samasekali. Siang itu hpku bergetar tanda ada telepon masuk.
" Halo, selamat siang siapa ya?" tanyaku pada nomor yang tak di kenal itu.
" Aku Thomi," kamu kenal sama Olin?" tanya Thomi padaku.
" Iya, aku mengenal dia di bus, kenapa dia?" jawabku pada Thomi kemudian bertanya balik padanya.
" Dia yang memberikan nomor hpmu padaku, katanya kamu cari pacar ya?" Kata Thomi padaku kemudian balik bertanya.
" Iya benar. Oh ini Kakaknya Olin yang katanya punya kesibukan di jawa ya?, hampir lupa namaku El." Jawabku pada Thomi dengan semangat, dan perlahan membuatku merasa lebih baik.
__ADS_1
Komunikasi antara kami bertiga sangat baik, dan berjalan lancar, hingga aku mulai lupa kesedihanku.